Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (20-selesai)

Oleh YANUARDI SYUKUR Pada akhirnya, hari akan berlalu. Dan semua kenangan pun akan hilang satu persatu. Angin yang berhembus pelan di pantai Larantuka pun menjadi sekedar kenangan. Orang bilang, hidup adalah pengalaman. Itulah kenapa disebut, “pengalaman adalah guru paling baik.” Jadi, kalau kita ingin berguru, maka bergurulah pada pengalaman. Jauh sebelum kita hadir, tanah-tanah di Nusantara ini telah dihuni berbagai macam orang. Mereka telah berjalan, dan melakukan apa yang mereka bisa buat tanah dimana mereka hidup. Kini, kita telah hidup… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (19)

Oleh YANUARDI SYUKUR Seusai berkunjung ke suatu daerah, selalu ada pertanyaan penting yang orang ajukan, “Bagaimana kesan Anda tentang lokasi yang Anda temui?” Waktu orang Eropa tiba di kampungnya, mereka juga pernah ditanya yang sama tentang orang-orang timur yang mereka temui, di Asia dan Afrika. Ada yang bilang, “Mereka manusia manusia.” Ada yang bilang, “Mereka makhluk primitif.” Dan ada yang bilang pula, “Mereka setengah setan.” Komentar itu diceritakan oleh Professor Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Antropologi. Jadi, orang Barat merasa diri… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (18)

Oleh YANUARDI SYUKUR Ada sebuah ungkapan menarik dari Bupati Anton Hadjon, yang mengatakan, “Jangan berpolitik dalam gerakan literasi.” Komentar itu dilontarkan Hadjon ketika bercerita tentang seminar nasional yang namanya telah tercantum di flyer dan secara viral di media sosial, khususnya Facebook. Dalam pandangannya, panitia pelaksana telah “berpolitik” dengan memasukkan namanya dalam flyer tersebut. Tentu saja Bupati Hadjon tidak hendak mengatakan bahwa seminar nasional ini ada kaitan dengan politik, kendati sekarang ini tahun politik–ya pilkada tahun ini, ya pilpres tahun depan.… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (17)

Oleh YANUARDI SYUKUR Biasanya seminar di kabupaten yang hadir hanya salah satunya, kalau bukan Bupati ya Wakil Bupati. Atau, diwakili oleh Kepala Dinas. Tapi, di seminar ini berbeda. Bupati dan Wakil Bupati kompak hadir, membuka dan menutup. Ini luar biasa. Salut untuk Bapak Anton Hadjon dan Bapak Agustinus Payong Boli. Pada sesi penutupan, Wakil Bupati Agust Boli memberikan masukan yang berharga. Kata dia, literasi di Flores Timur ini sebaiknya dilakukan berbasis riset. “Literasi berbasis riset perlu digiatkan,” kata dia. Kelak,… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (16)

Oleh YANUARDI SYUKUR Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk memajukan pendidikan dan kesejahteraan. Ketika membuka acara seminar, Bupati Flotim Anton Hadjon menunjukkan minat dan perhatiannya pada pentingnya budaya literasi di daerah ini. Dia melihat bahwa banyak guru yang berasal dari kampung di ruangan ini, dan dia merasa senang karena itu menunjukkan bahwa para guru memiliki semangat yang tinggi untuk terus belajar. “Di Flores Timur, gerakan literasi lebih banyak dilakukan oleh guru-guru kampung,” kata Hadjon. Katanya lagi, di kabupaten… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (15)

Oleh YANUARDI SYUKUR Menulis buku bareng-bareng (antologi) punya banyak manfaat untuk menangkap pendapat yang bervariasi dari masing-masing orang, melahirkan kebersamaan, dan juga untuk membantu lahirnya para penulis pemula yang bersatu dalam karya dengan penulis profesional. Singkat, karya antologi punya banyak nilai guna, yang secara umum adalah satu: kebersamaan. Saya memulai menulis buku antologi saat jadi Ketua FLP Sulsel. Ketika itu, saya mendengar ada orang Ambon yang sakit di RS Wahidin Sudirohusodo dan tidak punya uang. Akhirnya, saya komunikasikan dengan beberapa… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (14)

Oleh YANUARDI SYUKUR Sehari sebelum seminar saya telah merasa puas dengan artikel jadi, akan tetapi rasanya itu tidak cukup. Saya harus buat powerpoint yang lebih ringan, apalagi materi ini di siang-siang dengan jumlah peserta 300-an orang. Maka, dibutuhkan materi dan pendekatan yang lebih sederhana. Ketika bawa materi, saya mulai menjelaskan sekilas tentang 6 literasi dasar yang dibutuhkan manusia zaman now agar bertahan, yaitu: literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Enam hal… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (13)

Oleh YANUARDI SYUKUR Sebuah artikel berjudul “Menjadi Penulis Produktif di Era Digital” saya tulis untuk kebutuhan Seminar Nasional ini. Untuk berbagi, saya akan kutip secara utuh tulisan tersebut. Walaupun saat bawa materi tidak sepenuhnya berdasarkan pada tulisan ini, melainkan pada “apa yang dibutuhkan” oleh peserta seminar secara praktis dalam seminar di siang hari yang panas di Larantuka. Berikut adalah artikel yang saya buat di Depok pada 16 Februari 2018. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa saat ini hampir semua sektor… Baca selengkapnya

Pelangi di Larantuka: Catatan Rihlah Literasi ke Nusa Tenggara Timur (12)

Oleh YANUARDI SYUKUR Kenapa buku harus diluncurkan? Politisi menjawab, “buat lebih dikenal oleh konstituen.” Akademisi bilang, “untuk diseminasi pengetahuan.” Agamais berkata, “untuk menyebarkan ajaran Tuhan.” Banyaklah pendapat orang tentang kenapa mereka meluncurkan buku. Tapi, apa maknanya bagi kumpulan guru? Kalau dalam antropologi, makna biasanya kita dapat dari fakta lapangan (dalam hal ini pernyataan langsung dari “native”) yang kemudian diabstraksikan dalam berbagai konsep hingga ditemukan makna. Ada juga yang bilang, makna itu ada pada simbol. Jadi, kalau mau lihat makna seseorang,… Baca selengkapnya

Go to Top