Lebih Dekat dengan Ketua Agupena NTT

Rubrik Profil Oleh

Bermula dari Hobi Surat Menyurat
Oleh: Hamilah, S.Pd
Anggota Agupena NTT dan Guru SMPN 1 Kupang Tengah Kabupaten Kupang

Kesan sederhana melekat pada dirinya. Tampil bersahaja termasuk mengendarai sepeda motor tua dan tak banyak bicara. Namun jika sudah on sebagai narasumber tentang penulisan dengan para guru maka ia tak beda dengan orator ulung; omong tak pernah mengenal titik. Itulah sosok Ketua Agupena Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Thomas Akaraya Sogen. Lahir di Desa Karawatung, Pulau Solor, Flores Timur, NTT pada tanggal 22 Desember 1963. “Tapi itu tanggal lahir adik saya, sudah telanjur tertulis ya tetap tertulis, karena orang tua saya tak pernah tahu tulis tanggal lahir saya. Padahal sesungguhnya dan ada data di dokumen kampung, saya lahir 3 Agustus 1962,” ujarnya mengawali obrolan suatu senja di kediamannya di Jalur 40 Sikumana Kota Kupang. Pendidikan dasar dilaluinya di dua sekolah yakni SDK Kalelu (1971-1973) dan SDK Karawatung (1973-1976). “Itu karena dulu kami lebih banyak tinggal di kebun dari pada di kampung”, sambungnya. Lalu menamatkan pendidikan sekolah lanjutan pada SMPN Solor di Pamakayo (1977-1980) dan SMA Suryamandala Waiwerang (1980-1983).

revMeskipun tak pernah bermimpi, apalagi bercita-cita menjadi guru, namun karena ikut-ikutan, ia mendaftar di Program Diploma II Pendidikan Bahasa Inggris pada FKIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Memang ia tak pernah membayangkan harus mengikuti kuliah hingga tamat SMA. Harap maklum, anak kampung dari keluarga petani desa. “Waktu selesai SMA, ayah pulang dari perantauannya di Malaysia dan langsung membawa saya ke Kupang untuk kuliah”, ceritanya lagi. Namun dijalaninya hingga selesai tahun 1985. Anak kedua dari delapan bersaudara buah kasih Paulus Mado Sogen dan Antonia Sabu Kolin ini kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan ditempatkan di Adonara, pulau di seberang tanah kelahirannya, namun masih di Kabupaten Flores Timur. Di kampung ini, Pak Thom – begitu ia biasa disapa, sempat diminta membantu mengajar Bahasa Inggris di SMA setempat.

Dengan pendidikan yang ada, suami Antonia N. Taum, S.ST., M.Kes. dan ayah dari Richo, Rilies dan Rizky ini merasa belum memadai. Ia kemudian mengajukan permohonan untuk dimutasikan ke Kupang, ibu kota Provinsi NTT. “Dengan pindah ke Kupang, saya berharap bisa kuliah lagi sampai sarjana, karena kuliah saya di UT melalui UBJJ selama beberapa semester hanya lulus 3 mata kuliah dengan nilai C”. Menjelang akhir tahun 1995 permohonannya dikabulkan dan dipindahkan ke SMPN 2 Sulamu, Kabupaten Kupang melalui program pemerataan guru mata pelajaran. Namun karena akses ke Kota Kupang sangat jauh (68 km), dengan kondisi transportasi dan jalan yang tidak memadai, ia baru memperoleh kesempatan melanjutkan kuliah di almamaternya FKIP Undana pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tahun 1999 hingga tahun 2003. Lepas menjadi sarjana, ia langsung mengikuti Diklat calon kepala sekolah. Beberapa waktu kemudian dipindahkan ke SMPN 1 Sulamu dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Dengan beasiswa dari Kementerian Pendidikan Nasional, Oktober 2010 ia melanjutkan studi S2 pada Program Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada dengan Konsentrasi Manajemen Kepengawasan Pendidikan dan diselesaikan pada Mei 2012. “Saya memilih meninggalkan jabatan kepala sekolah dan mengambil beasiswa untuk melanjutkan studi, apalagi ke UGM yang terkenal dan sangat bergengsi”, paparnya.

Selain mengajar, ia aktif menulis artikel tentang pendidikan untuk beberapa media cetak meskipun masih dalam skala lokal seperti Harian Umum Pos Kupang, Harian Pagi Timor Express (Timex), Dwiharian Kupang News, (ketiganya terbit di Kupang) dan Harian Umum Flores Pos (terbit di Ende Flores). “Saya tetap punya mimpi untuk suatu ketika bisa menulis artikel di surat khabar nasional”, ujarnya optimis. Selain itu beberapa hasil pemikiran dan penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah seperti Jurnal PTK (Dirjen Dikmen Depdiknas RI), Educare (Kanwil Kemenag Prov. NTT), dan Pendidikan (FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang). Salah satu best practise yang dilakukannya sebagai guru dituangkannya dalam makalah dengan judul Penggunaan Facebook sebagai Media Alternatif Pembelajaran Kosa Kata. Makalah tersebut terpilih dan mendapat penghargaan sebagai makalah terbaik dalam kegiatan Simposium Nasional Inovasi Pendidikan (SiNIDik) pada Desember 2015 lalu.

Buku Kiat Sukses Publikasi Ilmiah Guru adalah buku pertamanya dan merupakan kumpulan karya ilmiah pengembangan profesi guru yang pernah ia lakukan yang menghantarnya memperoleh kenaikan jabatan fungsional guru menjadi Pembina Tingkat I (Golongan/Ruang IV/b) pertama di Kabupaten Kupang pada awal tahun 2009. Karya ilmiah dimaksud termasuk pula sejumlah artikel yang dinyatakan lolos baik oleh tim penilai angka kredit jabatan guru di tingkat provinsi ketika naik ke IV/a maupun di tingkat nasional ketika naik ke IV/b.

Aktivitas menulis dimulainya sejak masih SMA. “Saya memang menulis sejak masih di bangku SMA karena hobi saya surat menyurat dengan banyak sahabat pena,” kenangnya. Ketika menyelesaikan studinya di SMA, ia terpilih menjadi bintang pelajar di sekolahnya, karena dua hobinya yang unik yakni surat menyurat dan mendengarkan siaran radio luar negeri seperti Radio Australia, Suara Jerman, Radio Nederland, BBC, dan Suara Amerika, selain prestasi akademiknya yang juga sangat bagus. Penobatan tersebut ditulisnya sendiri dalam sebuah berita remaja dan sempat dimuat di salah satu majalah terbitan ibu kota sepanjang satu halaman. Dari sinilah hobi menulisnya mulai tumbuh dan berkembang ketika kuliah.

Ketika sudah menjadi PNS pun, ia tetap aktif sebagai free lance untuk Surat Khabar Mingguan Dian yang terbit di Ende selama beberapa tahun. Dari pengalaman menjadi koresponden lepas, menurutnya, banyak hal mengesankan yang diperoleh. Selain honor tulisan yang sangat bernilai ketika itu, kedekatan dengan para pejabat juga membuatnya tetap eksis di dunia jurnalistik, namun siap dipanggil dan dimarahi jika pemberitaan yang dibuat bertentangan dengan kebijakan pemerintah. “Saya ulang-ulang dipanggil bupati dan dimarahi, karena itu saya lebih dikenal sebagaia wartawan dari pada sebagai guru,” ceritanya dengan tertawa lepas.

Membidani kelahiran Agupena NTT pada Desember 2014 dan didaulat menjadi Ketua Wilayah untuk periode 2014 – 2018, sekaligus menjadi Ketua Dewan Redaksi Jurnal Ilmiah Pen@ Guru yang dikelola dan diterbitkan oleh Agupena NTT. “Padahal saya tahu ada Agupena sejak Oktober 2013, dalam sebuah kegiatan para pengawas berprestasi di Hotel Millenium Jakarta, ketika Pak Naijan sebagai salah satu narasumber di kegiatan tersebut”. Niatnya membentuk Agupena, bermula dari keprihatinan akan nasib para guru PNS yang tidak bisa naik pangkat karena tidak memiliki karya tulis. “Saya prihatin dengan banyak guru yang tidak bisa naik pangkat apalagi pasca diberlakukannya aturan baru sejak tahun 2013,” ungkapnya. Karena itu Agupena NTT teus berusaha membentuk cabang di seluruh kabupaten/kota agar semua guru bisa terbantu meskipun harus secara mandiri membiayai diri. “Saat ini NTT sudah memiliki 5 cabang yakni Sikka, Flores Timur, Nagakeo, Lembata, dan Timor Tengah Selatan”, urainya.

Dalam jabatan dua jabatan besar di Agupena NTT, sebagai ketua wilayah dan ketua dewan redaksi jurnal inilah, ia sering diminta menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan penulisan bagi para guru, selain sebagai Tim Pengembang Kurikulum 2013 SMP tahun 2014 dan saat ini sebagai instruktur provinsi kurikulum SMP. ***

Tags:

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Profil

Go to Top