Menulis dan Peradaban Sebuah Bangsa

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Washadi, S.Pd, MM.Pd. *)

Secara umum, menulis adalah suatu aktivitas mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan. Menulis merupakan aktivitas mengasah otak dan mengembangkan imajinasi. Menulis juga merupakan wadah aktualisasi, kreativitas dan perwujudan karya yang dapat bersifat monumental. Banyak sekali tulisan dari penulis-penulis besar yang tetap hidup hingga sekarang, sekalipun si penulis sudah meninggal dunia berabad-abad tahun yang lalu.

rev
Washadi

Dengan menulis, seseorang akan mampu menyampaikan gagasan yang baik dan mencerahkan yang dapat bermanfaat bagi khalayak luas. Dengan menulis juga dapat menyalurkan aspirasi dan inspirasi yang dapat dijadikan sebagai motivasi, khususnya bagi diri penulisnya. Sebuah tulisan dapat mencerminkan karakter penulisnya. Kecerdasan penulis pun dapat diukur dari tulisannya. Ternyata banyak sekali manfaat menulis.

Berdasarkan konteksnya, menulis dikategorikan menjadi dua jenis, yakni menulis fiksi dan nonfiksi. Menulis fiksi berarti menulis yang bersifat fiktif, khayalan, dapat berimajinasi dengan sebebas-bebasnya, serta dapat menabrak logika-logika normal, namun harus tetap mengacu pada logika umum. Berbeda dengan menulis nonfiksi, yang dibatasi oleh logika-logika normal dan logika umum serta terikat dengan logika ilmiah. Sebagai contoh, menulis fiksi berupa cerpen, penulis dapat mengarahkan alur cerita dengan sebebas-bebasnya, namun harus tetap masuk akal, sehingga dapat diterima logika umum. Lain halnya menulis nonfiksi berupa makalah, dibatasi oleh aturan-aturan tertentu, sesuai logika umum dan harus dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan logika ilmiah.

Dalam proses menulis, kita dapat menulis tentang apa saja, namun sebaiknya materi tulisan adalah apa yang kita kuasai. Hal ini penting, karena akan berpengaruh terhadap kekuatan dan kelemahan hasil tulisan yang menyangkut ketatabahasaan, kelogisan pikiran dan kaidah-kaidah menulis lainnya. Akan tetapi, jangan sampai semangat menulis terkendala oleh aturan-aturan tersebut. Semangat menulis harus terus dihidupkan dan dikembangkan.

Harus diakui bahwa, dalam kalangan masyarakat kita belum terbentuk budaya menulis. Mereka lebih tertarik dengan kegiatan-kegiatan lain yang jauh dari ruang lingkup menulis. Jika memiliki waktu luang, mereka lebih suka mengisinya dengan kegiatan-kegiatan seperti menonton atau jalan-jalan daripada menulis. Hal ini ternyata merambah juga pada kalangan anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Anak-anak sekarang cenderung menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat hura-hura dan kesenangan belaka yang sangat minim atau bahkan sama sekali tidak ada muatan edukasinya. Ironis memang. Bagaimana negara ini akan maju jika kondisi masyarakatnya demikian?

Peradaban suatu bangsa dapat ditandai dengan perubahan yang terjadi pada masyarakatnya. Bangsa yang maju, disebabkan oleh pola pikir masyarakatnya yang maju. Sebaliknya, bangsa yang mundur akibat dari kemunduran pola pikir masyarakatnya. Kemajuan pola pikir dapat dilihat dari berbagai aspek, di antaranya adalah meningkatnya semangat dalam kegiatan membaca dan menulis. Dengan pengertian lain bahwa, perubahan ke arah kemajuan dapat terjadi apabila terbentuk semangat membaca dan menulis. Terdapat benang merah di antara ketiganya; perubahan, membaca dan menulis.

Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang berbeda, namun merupakan satu-kesatuan yang kuat. Ibarat keping uang logam, membaca dan menulis adalah kedua sisinya. Dua sisi yang berbeda, namun menyatu. Membaca dari sebuah tulisan, sedangkan menulis dari sebuah bacaan. Apa pun yang kita baca dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Sebaliknya, apa yang kita tulis biasanya berasal dari apa yang kita baca.

Sebagai penutup, dapat ditarik kesimpulan bahwa, dengan menulis dapat menyampaikan gagasan yang baik dan mencerahkan yang dapat bermanfaat bagi khalayak luas. Peradaban suatu bangsa ditandai dengan perubahan yang terjadi pada masyarakatnya. Perubahan tersebut dapat terjadi apabila terbentuk semangat membaca dan menulis. Jadi, terdapat benang merah atau kolaborasi, komparasi dan korelasi antara perubahan, membaca dan menulis. ***

*) Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten.

e-mail              : hdsastra47@gmail.com

No. Hp.           : 081212656095,  WA  : 088211432980

Tags:

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top