Momen 50 Tahun Inaugurasi TESOL dan Jelajah Lombok

Rubrik Berita/Kegiatan Oleh

Catatan Konferensi Internasional (TESOL Indonesia )
Universitas Mataram, Lombok 11-13 Agustus 2016
Oleh: Roswita M. Aboe

Bagi tenaga pengajar baik dosen, guru atau instruktur pendidikan bahasa dan sastra Inggris, TESOL adalah sebuah nama yang familiar terkait pembelajaran bahasa inggris bagi penutur yang tidak berbahasa inggris.Tesol sendiri adalah singkatan dari Teachers of English to Speakers of Other Languages. Tak jarang Tesol juga dikaitkan dengan The Teaching of English to Speakers of Other Languages.  TESOL adalah organisasi profesi  independent yang berdiri tahun 1966. Organisasi ini di dirikan atas pertimbangan pemikiran yang professional terkait ketiadaan suatu organisasi profesi yang matang (inclusive) sebagai wadah untuk merangkum para guru dan administrator dari semua level pendidikan dengan ketertarikan mengajar bahasa Inggris bagi penutur yang bukan berbahasa Inggris. Terbentuknya organisasi ini sebagai tanda kematangan TESOL sebagai organisasi profesi.

revMemperingati 50 tahun TESOL 1966-2016, TESOL Asia menyelenggarakan Konferensi Internasional dengan tema “Teaching and Learning English in Indonesia- Future Trends and Approaches” (Pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia- Trend dan pendekatan di masa depan”. Kegiatan yang di helat selama 3 hari di Lombok Nusa Tenggara Barat ini di fasilitasi oleh Universitas Mataram. Sedikitnya terdapat 9 pembicara inti (key speakers) yang mempresentasikan makalah mereka dengan berbagai tema pembelajaran bahasa, mulai dari teori dan ilmu pedagogy, penggunaan digital teknologi, hingga methodology pembelajaran bahasa Inggris dan penelitian serta best practice dari masing-masing negara yang ada di Asia.

 

revKegiatan ini merupakan Konferensi Internasional TESOL Pertama di Indonesia yang melibatkan hampir 500 pemakalah dari 2000 abstracts yang disaring dan 300 peserta yang berasal dari 6 benua. Sebagai salah satu presenter makalah pada acara sesi parallel, saya merasa beruntung bisa berinteraksi dengan berbagai praktisi bahasa Inggris baik junior maupun senior. Banyak ilmu yang saya peroleh dari kolega presenter pada sesi penyampaian materi. Dan hal ini ternyata bisa menjadi bahan dan pengalaman bagi setiap pengajar bahasa Inggris yang kelak bisa diaplikasikan di ruang kelas masing-masing di daerah. Berbagai bentuk pendekatan mengajar bahasa yang dirangkum dalam presentasi dengan fokus Listening, Speaking, reading, writing, pembelajaran ESP, vocabulary, grammar, media, serta interaksi guru-siswa dan kajian lainnya sepertinya terlalu singkat untuk pertemuan berskala internasional. Dengan kata lain saya berharap ada kesempatan lain mendalami proses belajar mengajar bahasa Inggris dari berbagai metode, pendekatan dan perspektif.

revTentu saja kegiatan konferensi tidak semata-mata sebuah indoor activity atau kegiatan di dalam ruangan karena peserta diberikan tawaran jalan-jalan singkat gratis yang difasilitasi oleh kendaraan (bus) dari agen travel Limavita Tour. Saya berkesempatan mengikuti jalan-jalan singkat menuju pusat oleh-oleh Sasaku (tempat cinderamata) yang terkenal di Lombok. Kami juga mengunjungi pantai Senggigi yang walaupun tidak nampak pada waktu malam, tetap memberi kesan yang indah. Lombok juga terkenal dengan perhiasan mutiara yang konon dibudidayakan sebagai salah satu mata pencaharian penduduk lokal.

Selepas acara closing ceremony konferensi, kami sempat melihat Islamic Center kota Mataram yang baru saja di gelar MTQ tingkat nasional pada 30 Juli- 7 Agustus 2016. Bangunan megah ini cukup membuat saya terkesima dengan ketinggian menara 99 meter. 99 melambangkan asmaul husna. Keren!. Tentunya perjalanan saya ke Lombok tidak akan berkesan seandainya saya tidak berkunjung ke kampung Sasak Desa Adat Sade, Rembitan. Ditemani local host  kolega saya semasa studi magister di Monash, Australia – Santi Farmasari dan Mungguh suaminya- saya dan Evi Salasiah (juga alumni Monash University) menyempatkan berkeliling di kampung Sasak yang cukup ramai didatangi pengunjung pada hari minggu 14 Agustus 2016 lalu. Dengan guide (penduduk local) yang ramah dan pandai berbahasa Inggris, kami mengitari perkampungan itu sambil menyempatkan melirik souvenir kecil yang dibuat oleh penduduk setempat termasuk tenun Sasak yang terkenal.

revKeunikan dari kampung Sasak adalah model rumah dan interiornya. Rata-rata semua dinding rumah penduduk setempat terbuat dari bambu/Kayu dengan atap rumbia (alang-alang) yang disusun padat dan bertahan hingga delapan tahun lamanya. Rumah adat ini disebut Bale Tani terdiri dari tiga bagian rumah yaitu Berugak (ruang tamu atau tempat pertemuan), Bale Dalam dan Bale Luar serta Lumbung Padi. Lantai bangunan rumah dilapisi  kotoran sapi namun tak sedikitpun tercium aroma tak sedap. Mata pencaharian penduduk Sasak ini umumnya bertani dan beternak. Dengan tanah sawah tadah hujan, tidak cukup memberi prospek  untuk kebutuhan pangan sehari-hari, sehingga mereka mengandalkan tanaman palawija. Penduduk desa Sasak memiliki tradisi kawin lari dimana gadis yang sudah dilirik oleh pemuda diajak untuk menikah (merarik atau pelarian) tanpa sepengetahuan orang tuanya  namun tetap direstui pada akhirnya. Tradisi ini pun tidak mengijinkan pernikahan diluar suku karena permintaan mahar yang cukup mahal (dapat berupa 2 (dua) ekor kerbau). Sedangkan pernikahan dengan gadis Sasak cukup dilakukan dengan mahar berbentuk seperangkat alat shalat!

Saya masih terkagum-kagum dengan loyalitas dan tradisi masyarakat suku asal Austronesia ini. Diantara pesatnya perkembangan teknologi dan informasi di era millennium ini, suku Sasak masih mempertahankan tradisi nenek moyang yang menjadi salah satu aset budaya suku asli Lombok ini.

Sepertinya perjalanan saya di Lombok belum lengkap tanpa menginjakkan kaki di pualu-pulau terkenal di Lombok, seperti Gili Meno, Terawangan, Air, Sudak, Nanggu, Kedis, Tangkong, Bidara, Kondo, dan Gili Lampu. Namun saya menyempatkan mengunjungi pantai Kuta Lombok. Dengan menempuh hampir 58.3Km atau 1 jam 30 menit dari Kota Mataram, kami tiba di pantai berpasir bulat besar (seperti butir merica). Sembari menikmati nasi puyung (nasi dengan lauk ayam suwir, sayur tumis dan kedelai goreng) di bungkus daun pisang kami menghabiskan waktu duduk di tepi pantai ditemani hembusan angin segar dengan panorama pantai yang indah dan menyegarkan. Keinginan saya untuk berlama-lama di pantai ini terhalang jadwal penerbangan balik ke Ternate. Karena saya masih harus menghabiskan overnight di Makassar (tidak ada penerbangan langsung Lombok-Ternate) akhirnya kami  hanya bisa menyempatkan 2 jam berada dipantai berpasir putih ini. Dengan di temani Santi dan keluarganya (terimakasih banyak!), 30 menit berikutnya kami tiba di Bandara. Setibanya di LIA (Lombok International Airport) Praya, saya menyimpan harap, kelak saya akan berkunjung lagi, menjelajah Lombok dengan orang-orang terkasih di kesempatan yang lain. Mungkin di sela-sela konferensi atau kegiatan lain. Namun saya lebih memilih kesempatan liburan yang lebih panjang, tidak dalam kunjungan kerja dan tidak menyita waktu disuatu saat nanti. ***

2 Comments

  1. Sudah lama dengar Pulau Lombok yang eksotis. Namun, baru kali ini saya mendapatkan gambaran nyata dalam reportase Bu Roswita. Terima kasih Bu, telah bersedia berbagi.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*