Home » Opini » Mata adalah Jendela Hati » 766 views

Mata adalah Jendela Hati

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Ainun zaujah *)

Melihara mata sebagaimana kita merawat hati. Keduanya terletak jauh namun satu koordinasi dan terpaut untuk menceritakan siapa diri kita. Untuk memasuki hati seseorang, pahamilah sorot matanya karena mata adalah jendela hati yang menawarkan pribadi seseorang (Anna Liwun)

Mata memancarkan apa yang dirasakan pemiliknya. Coba perhatikan sorot mata seseorang dalam ragam suasana:

  1. Ketika marah
    2. Ketika bahagia
    3. Ketika sedih
    4. Ketika stress
    5. Ketika depresi
    6. Ketika jujur
    7. Ketika berbohong

Punawakawan

Sumber gambar: https://liwunfamily.files.wordpress.com/2010/09/eye.jpg

Virginia Satir menuliskan tentang perbedaan akses mata: “Ketika seseorang berkata jujur atau berbohong. Eits…ini ilmu mahal untuk para isteri dan suami.”

Masya Allah…betapa luar biasanya. Harmonisasi indra manusia dalam berkomunikasi. Senyum ikhlas pun beda loh dengan senyum ala kadarnya. Hehe. Karena, senyum ikhlas ada ciri-cirinya, dan ia melibatkan hormonal yang kompleks di otak kita.

Allahu Akbar…

Saya sering memulai pelatihan dengan “pukulan pertama”, karena 15 menit pertama sangat menentukan suksesnya presentasi kita dalam dua jam ke depan. Kalimat ajaib saya adalah:
“Saya bisa mengetahui karakter anda, hanya dengan melihat cara anda duduk, sorot mata dan sikap anda saat ini”. Maka, spontan…peserta pelatihan ataupun mahasiswa di kelas, memperbaiki cara duduk dan memilih untuk fokus.

Dengan pengalaman satu tahun ini menekuni hypnoterapi, instingku berjalan, untuk mengetahui peserta bosan atau tidak, mahasiswa pikirannya melayang-layang atau tidak hanya dengan melihat sorotan mata dan cara mereka duduk.

Maka, modal utama seorang pembicara publik adalah bisa membaca kondisi audiencenya. Apalah artinya presentasi kita begitu padat materinya, kita menghabiskan semua energi yang kita miliki untuk menyampaikan semua ilmu, pengetahuan, dan wawasan kita,  jika ternyata audience tidak fokus, ngantuk atau bosan.

Maka,  hati-hati dengan body language kita, terlebih sorotan mata kita. Mata tak akan pernah bisa berbohong. Seorang terapis, bisa melihat, merasakan, dan  membacanya.
Semoga bermanfaat.

*) Ainun zaujah: Certified hypnoterapi, dosen Sosiologi Fisip Universitas Dayanu Ikhsanuddin Baubau, Anggota Agupena dari Kota Baubau Sulawesi Tenggara.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*