“Guru Kampung” Bertemu dengan Orang-Orang Kota

Rubrik Munas Oleh

(Kesan di Munas I Agupena)
Oleh: Maksimus Masan Kian

Diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak tahun 2010 di Kabupaten Flores Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini saya sudah ditempatkan di 5 sekolah pada dua pulau berbeda. Suka duka menjadi guru PNS yang bertugas di kampung sungguh menjadi cerita menarik untuk diceritakan. “Jika rajin mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak mendukung guru, teman-teman juga akan mengalami nasib yang sama. “Dibuang” he..he… sori kamu akan merasakan juga bagaimana dimutasi dari satu sekolah, ke sekolah yang lain dengan alasan penyegaran.

Proses panjang saya lalui tanpa mengeluh, apalagi menyesal. Di sekian sekolah tempat saya mengajar, alam dan lingkungan sekolahnya selalu memberi inspirasi. Cerita mengkonsumsi air asin, bertahan hidup dengan makan ubi dan pisang, mandi di kali, tinggal di rumah reot, berada di tempat yang tidak ada jaringan telkomsel, tidak ada penerangan listrik, menempuh jalan yang berbatu dan terjal telah saya lalui. Cerita panjang ini yang terus mengasah naluri dan kepekaan saya menjadi seorang guru kampung sekaligus menjadi jurnalis warga. Tahun 2015 saya dapat menghasilkan sebuah karya dalam bentuk buku dengan judul “Ujung Pena Guru Kampung”; sebuah kumpulan liputan jurnalistikku.

Tentang Agupena……………………………………!

Saya mendengar nama ini dari Thomas Akaraya Sogen. Kata Ketua Agupena Wilayah NTT ini, saya punya potensi untuk menulis. “Hentikan mulutmu untuk mengkritik, dan aktifkan tanganmu melalui ujung pena untuk mengkritik melalui karya tulis. Wadahnya adalah Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia). Dalam keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki, saya menerima amanah yang diberikan oleh Thomas Akaraya Sogen menjadi pemegang mandat untuk pembentukan Agupena Cabang Kabupaten Flores Timur. Tepatnya 1 Maret 2015, bertempat di salah satu ruang kelas SMA Negeri 1 Larantuka yang dihadiri oleh 26 guru Agupena Cabang Flotim terbentuk dan dideklarasikan. Oleh teman-teman/forum yang hadir saat itu, saya dipercayakan menjadi ketua, memimpin sedikitnya 5.000 guru di Kabupaten Flores Timur–NTT.

Seperti apa aktivitas Agupena Cabang Flotim, kami belum bercerita banyak, karena memang, kami belum berbuat banyak. Namun, saya pastikan, Agupena tidak asing di daerah saya. Agupena punya power. Tidak berlebihan, kalau menyebut Agupena di daerah saya, pasti dikenal. Kenal organisasinya, kenal pengurus dan anggotanya, juga kenal program dan kegiatannya. Di Hari Ulang Tahun (HUT) Agupena I, 1 Maret 2016, Agupena Cabang Flotim mendapat penghargaan dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan NTT atas karya dan jaya membantu membantu Dinas Pendidikan Provisi NTT dan khusunya Kabupaten Flotim dalam dunia pendidikan. Lengkapnya bisa diakses melalui laman Asosiasi Guru Penulis Indonesia Flores Timur.

Tentang Munas I Agupena, jujur saya sebenarnya kurang percaya diri. Bagaimana tidak, keseharian saya sebagai seorang kampung yang selalu ada di kampung dan berhubungan dengan orang-orang di kampung dipertemukan dengan orang-orang kota di Kota sekelas Tangerang. Selain ke Bali, baru kali ini pengalaman kedua bisa mengujungi kota besar di Indonesia. Maklum guru kampung!

Bayangan saya tentang orang-orang kota yang “egois” sirna ketika kegiatan dimulai. Di ruangan itu, di Hotel Istana Nelayan Jatiuwung Kota Tangerang (28-29/10/16) terpancar senyum persahabatan dari sesama sahabat pengurus Agupena yang datang dari berbagai wilayah. Iklim kekeluargaan secara alamih terbentuk di forum itu. Tak ada saling sikut apalagi saling sikat seperti yang dipertontonkan oleh para politisi merebut kursi kekuasaan. Untuk memilih ketua umum saja, forum sepakat untuk melewati ruang diskusi dari hati ke hati yang kemudian sepakat memilih saudara Naijan Lengkong kembali menahkodai Agupena Pusat periode 2016- 2021. Tidak ada perdebatan yang berbelit-belit, juga tidak ditemukan adanya kubu–kubu antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Semuanya nampak bersatu dan kompak, membawa Agupena ke arah yang lebih baik.

Saya menemukan, menangkap, dan merekam sekian hal besar yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh Agupena di negeri ini. Di dalam Agupena terpendam sejuta potensi. Ada kumpulan penulis–penulis hebat yang sudah melalang buana di dunia menulis. Puluhan buku dicipta dan ratusan karya ilmiah dihasilkan. Ada profesor, Doktor, Magister menjadi bagian dari potensi Agupena. Sebagai  seorang guru kampung, saya sangat bangga berada di antara orang-orang hebat ini. Sungguh bermanfaat berada di tengah-tengah mereka. Banyak cerita, kreativitas dan pengalaman bisa saya dapat. Pengurus dari masing- masing wilayah membagikan cerita dan pengalamannya secara cuma–cuma pada sesi sharing pengurus antarwilayah. Andai saja Agupena memiliki dana yang cukup, tentu kita tidak terlalu tergesa- gesa mengakhiri kegiatan, karena harusnya masih banyak lagi cerita dan program inspiratif yang bisa dibawa pulang untuk pengembangan Agupena di daerah kami.

Untuk pengurus terpilih, Agupena akan terus berkarya dan menjadi besar di negeri ini manakala terus diperjuangkan. Hasil yang maksimal adalah buah dari pengorbanan yang tulus dan tidak tanggung-tanggung. Besarkan Agupena wilayah dan cabang, secara otomatis, akan membesarkan Agupena Pusat.

Agupena telah menjadi jalan yang dilalui guru-guru di daerah untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam menulis, juga menjadi wadah yang dapat membantunya meningkatkan pangkat dan golongan sebagai seorang guru. Agupena akan selalu di hati.  Berbagi itu sungguh indah!

Salam hormat,
Maksimus Masan Kian
(Peserta Munas I Delegasi NTT/ Ketua Agupena Cabang Flores Timur–NTT)

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Munas

Makna Lambang Agupena

Lambang AGUPENA adalah Gambar Bola Dunia bergaris 6 (enam) dengan warna biru
Go to Top