“Jembatan Penghubung”

Rubrik Opini Oleh

Oleh Ainun Zaujah, S.Sos.,M.Si
(Dosen Sosiologi Fisip Unidayan, Anggota Agupena Kota Baubau, SULTRA)

“Bawalah dunia kita ke dunia mereka, hantarkan dunia mereka ke dalam dunia kita.”

Dunia anak dan dunia orang dewasa adalah dua dunia yang memiliki sudut pandang yang sangat jauh berbeda. Antara ke-duanya, dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Untuk menghubungkannya agar tercipta kata sepakat, maka kita membutuhkan jembatan penghubung. Hal ini, ibarat mau menyeberang antara dua lokasi yang dipisahkan oleh sungai, kita mesti melalui jembatan penghubung. Jembatan seperti ini banyak loh di kota Baubau. Ada jembatan beli, jembatan tengah, dan jembatan gantung. Jembatan penghubung ini sangat dibutuhkan oleh kedua belah pihak, agar tercipta komunikasi yang efektif.

Saya banyak mengamati kesalahanku dalam mendidik anak dan kesalahan banyak orangtua dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Ketahuilah, dunia kita dan dunia anak kita sangat jauh berbeda (beda sudut pandangnya). Anak kita memandang dunia ini dengan dominan otak kanannya (0-7 tahun). Sementara orang tua dengan sebab-akibat (emosional dan rasional).

Bagaimana membuat jembatan penghubung agar tercipta hubungan yang harmonis antara anak dan orangtua?

    1. Mulailah berkomunikasi dengan anak pada hal-hal yang sangat disukai anak (orangtua wajib tahu hobi anaknya, film kesukaannya, mainan kesukaannya, makanan atau minuman kesukaan anaknya).
    2. Apresiasi hal-hal yang sangat disukai oleh anak: Contoh: Faiz anak pertamaku. Faiz paling suka berpetualang di alam semesta, suka mandi hujan, suka mandi laut, paling suka buat bola-bola dari pasir pantai. Biasanya Faiz pulang ke rumah dalam keadaan basah, tangan dan kaki kotor. Sebagai orangtua biasanya langsung ngomel dengan kondisi yang ada. Setelah saya amati, ngomel hanya menyakiti hati Faiz (anakku si kinestetik sangat perasa, sensitif), air mukanya sangat cepat berubah tergantung suasana hatinya.

Nah, menghadapi anak dengan tipe ini, ortu harus mendampingi dengan ekstra-sabar (doubledouble). Maka saya mengubah strateginya. Saya membuat jembatan penghubungnya. Saya sambut kedatangannya dengan riang gembira, lalu saya katakan “Wah, anak Umi sudah pulang. Bola-bola pasir di tangan Faiz sangat keren, ajarin Umi dong cara membuatnya Faiz,” maka kulihat binar-binar matanya dan senyumnya. Lalu, Faiz mulai bercerita, sambil saya gandeng ke kamar mandi. Akan sangat berbeda, jika Faiz disambut dengan: “Faiz….kotor sekali. Ayo masuk, mandi. Mulai besok, nggak boleh mandi di  laut lagi atau nggak boleh mandi hujan lagi”. Kalimat ini, hanya meninggalkan luka di hati anak. Maka, ubahlah pola komunikasi kita, dengan memasuki dunia anak terlebih dahulu.

Contoh lain, anak keduaku, namanya Qonitah. Qonitah paling suka menggambar. Ketika Qonitah memperlihatkan hasil karyanya, dengan penuh perhatian saya menyimak dan mengomentarinya.
Umi: “Ini gambar apa, Nak?”
Qonitah: “Ini gambar buah-buahan, Umi.”
Umi: “Coba sebutkan nama-nama buah-buahannya, Nak?”
(Soalnya bentuk buahnya akan dilabeli Qonitah sesuai imajinasinya, Umi nggak bisa nebak).
Qonitah: “Ini apel, strawberi, semangka, pisang, langsat, mangga, anggur, rambutan, dll.”
Umi: “Wah amazing, ya. Umi suka sekali. Gambar Qonitah very good.”

Mengapa saya menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Karena Qonitah sangat suka bahasa Inggris. Efek nonton Dora di channel CN. Kosa-kata bahasa Indonesia Qonitah sangat banyak dan kaya, sejak usia 2 tahun hingga usianya 4 tahun. Sekarang usianya 4 tahun 6 bulan. Belajar bahasa Inggris pun menjadi mudah, karena bahasa Indonesia Qonitah tuntas sejak usia 4 tahun. Ini sebuah keajaiban dari Allah SWT, efek dari belajar tahsin Qur’an dengan metode qiroati ketika Qonitah di dalam kandungan. Pengalaman ustadzah saya, menceritakan hal yang sama akan kecerdasan bahasa yang dimiliki anaknya, karena waktu di kandungan, ustadzahku juga belajar tahsin. Inilah keajaiban al-Qur’an dalam membentuk interkoneksitas di sel syarat otak anak.

Memasuki dunia anak adalah cara terbaik untuk membuat jembatan penghubung. Dunia anak seluas samudera yang didominasi oleh otak kanan, bagian otak yang disebut amigdala (bagian yang mengatur emosi mulai terbentuk), mendidik anak dengan penuh kasih-sayang, akan membentuk karakter anak yang baik di masa depan.  Bagian otak yang mengatur logika/nalar baru mulai berkembang ketika anak berusia 7 tahun. Itulah mengapa, dunia PAUD, dunia TK adalah dunia belajar anak dengan cara-cara yang menyenangkan. Bermainlah dengan anak-anak kita. Ada saat di mana kita harus bermain akting, bermain boneka, bermain kuda-kudaan, lomba lari, main stik bersama. Sebagaimana Nabi suka bermain dengan cucunya, Hasan dan Husain. Nabi dekat dengan anak-anak dan penuh cinta kasih.

Bagaimana dengan anak yang mulai beranjak remaja? Bagaimana cara membuat jembatan penghubungnya? Tetap sama. Dengan cara memasuki dunia anak. Jika anak kita suka musik, maka pelajari banyak hal tentang musik. Untuk menjadi bahan diskusi yang seru dan nyambung. Nikmati prosesnya. Jangan langsung diceramahi, “Nak, Umi maunya kamu jadi penghafal al-Qur’an, koq malah suka musik?” dan seabrek omelan lainnya. Sabar dan sabarlah dengan memasuki dunia anak dulu. Ketika anak sudah berbinar-binar matanya melihat respon kita, baru pelan-pelan diarahkan ke musik yang islami, dinasihati dan diceritakan kisah teladan yang nyambung dengan kesukaan anak.

  1. Iman dan sabar: Ini adalah bekal yang tak akan pernah habis, sebagaimana meminum air dari telaga Nabi Muhammad saw di padang masyar nanti membuat kita tak akan merasa haus selamanya. Rumus ini berlaku untuk orangtua dalam mendidik anak-anaknya di semua usia.
  2. Selalu mendoakan anak: Doa adalah senjata orang-orang yang beriman, jangan pernah lelah mendoakan anak-anak kita. Yakin, yakin, dan yakin. Doa kita adalah benteng yang akan melindungi anak-anak kita agar tetap berada di jalan yang benar. Kalau anak kita masih kanak-kanak dengan segala tingkahnya, kelincahannya, masa-masa kritisnya, insya Allah itu adalah masa ujian bagi kita untuk menjadi ladang pahala. Nikmati prosesnya, biarkan air mata menjadi pelipurnya, dialog dengan langit tak ada putusnya. Insya Allah, kesabaran kita akan membuahkan hasil yang baik, kelak ketika mereka mulai beranjak remaja dan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang membanggakan.

So, ubahlah paradigma kita sebagai orangtua, pendidik, dan apa pun profesi kita. Belajarlah mencintai anak-anak, baik anak biologis kita maupun anak lingkungan kita. Tak ada satu pun anak di dunia ini yang ingin menjadi penjahat, perampok, pembolos, atau bentuk kejahatan lainnya. Semua itu harus ditelusuri penyebabnya. Menurut Prof.Dadang Hawari (psikiater), kenakalan remaja yang marak terjadi hari ini (seks bebas, narkoba dll.) adalah family diseases (penyakit keluarga). Rumah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak kita. Baru pulang diomelin, telat dikit dilabelin, mau makan dimarahin.

Bekal untuk menjadi orangtua yang baik, telah tersedia di kota Baubau. Bagi ayah-bunda yang ingin membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat, silakan bergabung dengan Komunitas Hebat (Home Education based Akhlak dan Talent) di kota Baubau. Ketuanya Bu Dini Khalisah Nasution dan wakilnya Bu Rahmaniar Azi. Komunitas yang super-super keren, bersama para pemateri yang ahli di bidangnya. Tujuan dibentuknya komunitas Hebat adalah untuk membangkitkan peran keluarga dan komunitas dalam menumbuhkan dan merawat fitrah generasi peradaban Islam, serta mengantarkan generasi kepada peran-peran terbaik dengan adab dan akhlak mulia.

Kesimpulannya adalah semua anak adalah fitrah. Jika mereka berperilaku sebaliknya, telusuri penyebabnya. Masukilah dunia anak-anak kita, teruslah melakukan penyucian jiwa, karena jiwa yang bersih akan selalu memantulkan suara hati apa adanya. Di sana, kita tidak butuh suara orang lain, karena kita akan menengarkan nasihat dari suara hati kita sendiri. Suara hati tersebut akan membimbing kita untuk terus menjadi orangtua pembelajar demi masa depan anak-anak kita. ***

Baubau, 4 November 2016

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top