Munas I Agupena: Catatan Sekretaris Panitia

Rubrik Munas Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Problem Kepanitiaan
Semulanya Munas I Agupena diadakan pada akhir 2015. Akan tetapi, karena belum terbentuknya kepanitiaan maka acara per lima tahun tersebut tertunda. Pada April 2016, setelah pertemuan penjajakan kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI dengan Agupena, maka diadakan pembentukan panitia. Terpilih Pak Erwan Juhara (Jawa Barat/Ketua I Agupena Pusat) sebagai ketua panitia dan saya sebagai sekretaris panitia. Selanjutnya, struktur kepanitiaan pun dibentuk via grup Whatsapp.

Setelah struktur terbentuk, tugas pertama yang dibebankan kepada panitia adalah membuat proposal kegiatan. Amanah diberikan kepada ketua panitia akan tetapi tidak terlaksana hingga satu bulan. Akhirnya, proposal Munas diselesaikan oleh sekretaris. Dalam perjalanan kepanitiaan dari April hingga Juli (rencana awal Munas) hingga ditunda pada Oktober keterlibatan ketua panitia tidak begitu banyak, baik di grup Whatsapp Panitia Munas sebagai seorang pemegang komando tertinggi dalam kepanitiaan. Agar manajemen kepanitiaan berjalan lancar maka rencana ketua panitia diganti akan tetapi dipertahankan hingga Munas. Hal ini menjadi kendala tersendiri di tubuh panitia, karena bagaimanapun juga amanah sebagai ketua panitia memiliki tupoksi untuk mengatur jalannya kepanitiaan secara teknis. Dalam konteks organisasi tentu saja hal ini tidak sehat dan perlu dicarikan solusi.

Pada perjalanan kepanitiaan, saya pernah mengusulkan kepada Ketua Agupena Pusat Pak Naijan Lengkong agar mengaktifkan Agupena Provinsi Banten dan Agupena Provinsi DKI. Pengalaman Pak Naijan sebagai penulis naskah skenario televisi dengan relasi luas tentu sangat bisa untuk mengaktifkan kedua wilayah ini. Kenapa kedua wilayah ini perlu aktif? Karena, pusat kegiatan Munas berada di Tangsel. Jika kedua Agupena (at least salah satunya aktif) maka kepanitiaan Munas akan banyak di-back up oleh dua wilayah tersebut. Ketika ditanya kepada ketua, bagaimana progress pengaktifan dua wilayah tersebut? Jawaban ketua bersifat normatif, dan tidak jadi. Harus disadari bahwa kepanitiaan Munas tidak berada di satu lokasi: ketua berada di Bandung, sekretaris di Makassar, humas di Jawa Tengah, dan kepanitiaan lainnya tersebar di berbagai wilayah. Maka, pengaktifan dua wilayah tersebut sangat penting untuk back up panitia. Pada akhirnya, kepanitiaan pun melibatkan teman-teman baru yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya agar dapat mem-back up kepanitiaan Munas.

Hingga kepanitiaan Munas terbentuk, dana organisasi Agupena “nyaris” tidak ada, sebagaimana tuturan ketua Agupena bahwa pendanaan tidak berjalan. Rencana awal, bendahara mengumpulkan iuran kepada pengurus akan tetapi tidak berjalan. Ketua Agupena kemudian meminta agar masing-masing pengurus menyumbangkan satu juta rupiah, akan tetapi hingga Munas berlangsung gerakan ini tidak berjalan. Di grup Whatsapp panitia, akhirnya kita bersepakat untuk membuka sumbangan dari teman-teman. Dananya terkumpul, dan kini berada di tangan bendahara Munas: Hajah Iim Halimah.

Masih soal anggaran, Agupena secara organisasi memang tidak punya dana dan olehnya itu untuk Munas mencari dana dari berbagai sumber terkait. Akhirnya, Agupena menjalin kemitraan dengan Bappeda Provinsi Banten. Rencana awal, hingga H min 1, seluruh panitia dan peserta Munas akan menginap di hotel selama 2 malam, akan tetapi mendadak ada perubahan yang berpengaruh pada jalannya rundown acara Munas. Seminggu sebelum Munas, panitia telah membuat rundown acara secara baik dalam acara Munas seperti Pembentukan III Komisi (Komisi I: AD/ART; Komisi II: Program Kerja dan Komisi III: Rekomendasi). Kemudian, ada Laporan Pertanggungjawaban Ketua, dilanjutkan dengan Pemilihan Ketua. Beberapa kegiatan ini memang akan sangat baik jika waktunya agak panjang (paling tidak 2 hari) karena peserta datang ke Munas tidak hanya untuk datang tapi juga ingin mendapatkan pengalaman berorganisasi di Agupena.

Namun, upaya untuk menciptakan organisasi lebih professional, kreatif, dan progresif masih jauh dari harapan. Dalam soal dana misalnya, salah seorang Pembina Agupena sempat berpesan di forum agar ke depan lembaga ini dapat terus berkembang dan mandiri. Kata “mandiri” secara mudah ditafsirkan sebagai berikut: (1) dapat mengoptimalkan segenap relasi dalam bentuk kemitraan yang saling-menguntungkan untuk kemajuan organisasi, (2) dapat membuka “lapangan kerja” bagi para penulis agar segenap potensi anggota dapat termanifestasi dalam karya buku—yang tidak lagi sekedar diterbitkan agar dapat ISBN atau memenuhi syarat angka kredit—tapi agar karya-karya anggota dapat diterbitkan di penerbit mayor (besar) yang tersebar paling minimal di Gramedia, (3) dapat membuat terobosan strategis agar lembaga ini tidak stagnan dan menjadi “tangan di bawah.” Tafsiran sederhana tersebut paling tidak—dalam konteks Munas—bermakna bahwa pengurus Agupena harus berpikir lebih kreatif, terbuka, progresif dengan tidak melupakan basis asasi yang ada dalam konstitusi Agupena, yaitu AD/ART.

Penerbitan Buku, Sebuah Penanda Agupena
Sekitar dua bulan menjelang berakhirnya tahun 2015, saya salah seorang beruntung yang dikabarkan oleh Ketua Agupena bahwa Agupena akan mengadakan Munas dan olehnya itu saya mengusulkan agar dalam momentum Munas: Kita terbitkan karya! Sebagai organisasi guru penulis tentu saja yang akan dilihat publik adalah buku. Apa buku karya Agupena? Jika kita jawab, buku karya Agupena ada pada karya si A dan si B, tentu saja itu sangatlah personal. Kalaupun ada karya “berjama’ah” dari beberapa anggota Agupena, pertanyaannya kemudian adalah: apakah dalam buku tersebut ada logo Agupena yang merupakan brand lembaga? Maka, saat itu saya mengusulkan agar kita terbitkan buku antologi tentang guru. Perjalanan waktu, ide tersebut tidak mendapatkan tanggapan yang berarti, hingga ketika kepanitiaan Munas terbentuk, saya mengusulkan kembali agar kita buat buku antologi.

Kenapa harus buku antologi? Secara mudah, antologi (bukan “ontologi” dalam pengertian filsafat) diartikan sebagai sebuah buku yang ditulis bersama-sama. Untuk menyatukan berbagai potensi anggota, maka kita butuh karya bersama dimana para penulis yang memiliki jam terbang tinggi dapat bergabung saling-menguatkan dengan penulis yang baru sekali memulai. Ya, kendati lembaga ini bernama “guru penulis” tapi harus kita sadar bahwa ada “stratifikasi” kepenulisan, yang paling tidak: (1) mereka yang karyanya sudah terbit di berbagai penerbit mayor (besar) atau memenangkan berbagai lomba yang mereka lebih percaya diri dengan predikat penulis, (2) mereka yang karyanya sudah terbit dalam bentuk buku, menang lomba, atau telah menjadi penulis di wilayahnya masing-masing akan tetapi membutuhkan supporting semangat, dan (3) mereka yang pernah menulis akan tetapi karyanya belum diterbitkan dalam bentuk buku atau artikel koran akan tetapi punya semangat untuk belajar menjadi penulis. Kelompok 1 dan 2 umumnya telah memiliki kecakapan dan tingkat percaya diri yang cukup, akan tetapi mereka tetap butuh teman untuk saling-support dan saling-apresiasi satu sama lain. Sedangkan kelompok 3, mereka cukup banyak di Agupena yang membutuhkan strategi khusus untuk mengangkat semangat dan keterampilan dalam menulis.

Penerbitan buku antologi yang diluncurkan saat Munas ini punya tujuan besar untuk menjaga—mengutip dari Pak Sawali Tuhusetya—“marwah organisasi” agar memiliki posisi dan peran strategis dalam dunia kepenulisan (khususnya guru penulis) di tanah air. Maka, dibuatkan 2 project buku secara simultan, yaitu buku berjudul Pappatamma: Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia” (Deepublish, 2016) yang ditulis oleh 8 orang dan Membangun Kapasitas Guru Penulis: Sebuah Bunga Rampai Pemikiran(Pustaka Mulia, 2016) yang ditulis oleh 23 orang. Tulisan dalam buku ini tidak semuanya sama baik dari sisi konten maupun style menulisnya karena ada yang menulis pakai catatan kaki, ada yang tulisannya terlalu pendek, ada yang maksudnya agak sulit dimengerti, bahkan ada juga yang mengirimkan makalah lengkap dengan sampul, daftar isi dan kata pengantar. Semua naskah yang masuk ini kemudian diedit secara maksimal oleh saya dan Pak Sawali Tuhusetya. Satu hal yang saya salut dari Pak Sawali adalah: konsistensi dan kejujuran beliau dalam melihat naskah. Beliau termasuk orang yang idealis, pemberdaya penulis pemula, dan visioner (maka pantaslah Mantan Manajer Program SalmanTV ITB Damai Wardani menjadikan Pak Sawali sebagai gurunya dalam ngeblog, hehe).

Kedua buku ini rencananya akan diluncurkan pada Munas I yang rencana digelar pada 29-31 Juli 2016 di Kampus Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) dan Hotel Permata Mulia Tangerang. Akan tetapi, urung terjadi karena pertimbangan anggaran kerjasama dengan Bappeda Banten yang bisa cair pada Oktober 2016. Pada titik ini, dapatlah disadari betapa berat perjuangan Ketua Agupena Pak Naijan Lengkong untuk menyiapkan fasilitas dan pelayanan terbaik bagi para utusan Munas dari seluruh Indonesia. Beliau pernah berkata bahwa, “teman-teman wilayah sudah berusaha keras untuk datang ke Jakarta dengan biaya sendiri, maka dari itu kita harus menyiapkan segala fasilitas untuk mereka.” Penundaan Munas 3 bulan kemudian (dari Juli ke Oktober) membutuhkan strategi kepanitiaan yang lebih baik kembali, karena tidak semua panitia aktif, bahkan ada panitia yang mengundurkan diri dengan alasan tertentu.

Tapi soal 2 buku, sebagai inisiator naskah, saya harus menuntaskannya. Maka, pada tanggal 20-an (sebelum rencana Munas di Juli 2016), buku Pappatamma telah tiba di tangan. Artinya, 1 misi telah selesai: buku telah terbit! (lengkap dengan kaver, ISBN, dan yang penting juga: ada logo Agupena di kaver depan). Penerbitan di Deepublish termasuk mudah dan memudahkan. Cukup sering saya berkomunikasi dengan mereka yang sangat terbuka. Pada kaver depan, agar nama-nama penulis muncul, maka saya pakai sistem alpabetis dari huruf A. Maka, mulailah penulis buku ini dari Abdul Malik Raharusun, Alpansyah, Bahri, Herlina, M. Ardy Ali, Roswita M. Aboes, Sri Musdikawati, dan terakhir—sudah suratan takdir—nama saya: Yanuardi Syukur. Di punggung buku tertulis: Abdul Malik Raharusun, dkk. Adapun buku Membangun Kapasitas Guru Penulis, naskahnya telah selesai pada Juli 2016, dan atas usulan dari KH. Sholeh Dimyathi untuk ditawarkan ke Penerbit Pustaka Mulia Jakarta, maka setelah naskah oke, saya berikan ke Pak Sholeh. Naskah akhirnya telah dibuatkan dummy pada pertemuan semingguan (kurang lebih) menjelang Munas. Naskah itu kemudian saya edit secara ketat (tentu saja dengan keterbatasan yang ada) dan memasukkan tambahan dua artikel lagi: tulisan Pak Munawir AM dan Ibu RR Tri Rizalina. Pada keesokan harinya, naskah telah saya selesaikan dengan catatan-catatan spesifik per halaman yang dikirim ke Pak Darmadi (pihak penerbit) untuk diedit oleh timnya. Selanjutnya, kaver buku yang awalnya ada gambar laki-laki bule dihapus (untuk menghindari tuntutan di kemudian hari) dan posisi laki-laki itu diganti dengan gambar dua buah apel di samping jam weker di atas tiga buku tebal. Apa makna ketiga hal tersebut? Mengutip substansi statement Nusron Wahid yang beberapa waktu agak heboh di ILC TVOne, kayaknya memang hanya si pembuat kaver yang tahu makna dari kaver tersebut. Tapi, overall, kaver ini bagus, cerah, dan ada logo Agupena di depannya sebagai simbol ini karya organisasi (bukan personal) secara resmi.

Pada titik terbitnya dua buku tersebut, sesungguhnya kita merasa sangat beruntung karena sebagai organisasi kepenulisan yang baru aktif kembali secara massif, kita dapat menerbitkan 2 buku dalam 6 bulan yang ditulis oleh 25 orang. Bayangkan, 25 orang secara berjama’ah terhimpun dalam satu buku. Saya merasakan pekerjaan kumpul tulisan seperti ini tidaklah mudah. Sebagai contoh, saat sedang menjadi project leader untuk sebuah penulisan naskah buku oleh penulis Indonesia dan Australia. Rata-rata mereka orang sibuk, ada yang jadi anggota DPR RI, komisioner lembaga negara, PhD student di beberapa negara, pimpinan di beberapa ormas besar, dan berbagai aktivitas lainnya. Dalam periode satu tahun lebih naskah yang masuk hampir sama dengan naskah yang dilakukan oleh Agupena. Memang tidak mudah untuk mengumpulkan sebuah tulisan (termasuk orang-orang) untuk bergabung pada apa yang kita tawarkan. Tapi, komitmen, apresiasi, tata-kelola dan komunikasi yang efektif sangat membantu itu semua. Dalam semua bentuk interaksi sosial, rasanya empat hal itu sangat berpengaruh besar.

Bagaimana Menghadirkan Peserta?
revKehadiran peserta sangatlah penting dalam Munas. Ketua Agupena telah menghubungi para ketua wilayah untuk hadir dalam Munas. Proposal dan berbagai surat pun telah dibuat, bahkan dikirimkan secara berkala. Untuk memeriahkan Munas rasanya cukup bagus jika banyak utusan provinsi yang hadir, maka dibentuklah beberapa wilayah baru (kendati belum ada SK resmi), yaitu Agupena Sulawesi Utara, Agupena Sulawesi Tengah, Agupena, Gorontalo, dan Agupena Papua Barat. Juga, saya kontak beberapa teman di luar negeri untuk bersedia menjadi koresponden Agupena di wilayahnya masing-masing, yaitu di Australia (Kota Adelaide), Inggris (Kota Belfast), Jepang, dan Malaysia (Kuala Lumpur). Utusan Malaysia dan Jepang rencana hadir, akan tetapi terkendala teknis dan kegiatan yang bersamaan waktunya. Sedangkan Australia dan Inggris agak sulit hadir karena harus berkonsentrasi pada perkuliahan di The University of Adelaide, dan Queen’s Belfast University.

Panitia pun secara rutin mengabarkan informasi kepada peserta via Whatsapp baik di grup maupun via japri Whatsapp dan juga email. Akhirnya, pada Munas cukup banyak yang hadir dengan wajah semangat, cerah, terbuka, dan positif. Saya menangkap aura kebahagiaan karena bisa bertemu muka dengan kawan-kawan, semangat karena bisa belajar kembali dari para penulis lain, daninspirasi untuk saling berkontribusi dan berkolaborasi untuk pemberdayaan dan kemajuan bersama.Sangat disadari kendati panitia telah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi faktanya memang masih banyak kekurangan di sana sini.

Secara pribadi, mewakili panitia saya mengucapkan permohonan maaf kepada teman-teman panitia jika pelayanan yang ada kurang maksimal sebagaimana ekspektasi kita bersama. Perjuangan dari para Penasehat Agupena dan Pengurus Agupena Pusat yang tak henti memikirkan bagaimana memajukan lembaga adalah luar biasa. Saya kadang berpikir, Agupena sulit bertahan, bahkan berkembang jika tidak ada orang-orang hebat, peduli, dan visioner di dalamnya. Tapi, fakta baik itu tentu saja jangan membuat kita lalai untuk evaluasi, introspeksi, dan lebih berani membuat terobosan inovatif dan progresif.

“Saya ingin Regenerasi”
revPaling tidak dalam periode 6 bulan terakhir, saya teramat sering mendengarkan kata “saya ingin regenerasi” yang keluar dari Ketua Agupena Pak Naijan Lengkong. Dalam momen kegiatan Agupena Sulsel misalnya, sempat kita diskusikan tentang “pentingnya regenerasi” itu rencana Agupena ke depan. Dalam pertemuan di Hotel Swiss-Bel Hotel Makassar tersebut (dalam momen kegiatan Asosiasi Antropologi Indonesia), Ketua Agupena mengabarkan bahwa ia sebenarnya ingin sekali menjadi penasehat saja dan manajemen organisasi diberikan kepada yang lebih muda.

Pada pertemuan lainnya, ucapan “pentingnya regenerasi” itu juga saya dengar, dan coba resapi. Keikhlasan Pak Naijan yang ingin sekali diganti saya rasakan betul dan meminta pendapatnya tentang bagaimana bagusnya. Konon, kita akan tahu karakter seseorang jika kita telah melewati tiga hal bersama seseorang: (1) berjalan sama-sama, (2) berhubungan masalah uang, dan (3) pernah tidur menginap di bawah atap yang sama. Ketika hal ini saya pernah alami. Saya lihat Pak Naijan adalah orang yang secara personal memiliki solidaritas tinggi, tidak pelit, dan suka memberikan pelayanan maksimal. Saat acara Agupena Sulsel yang waktu itu saya dan Pak Naijan sebagai pembicara ditempatkan satu kamar oleh Ketua Agupena Sulsel M. Ardy Ali agar lebih banyak sharing tentang banyak hal. Berbekal ketiga “konon” di atas yang saya percaya untuk melihat karakter seseorang ditambah dengan seringnya terdengar kata “saya ingin regenerasi”, saya kemudian berpikir, dan meminta masukan beberapa teman.

Saya pernah mengatakan kepada Pak Naijan bahwa saya di saat yang sama aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Pusat dan beberapa organisasi. Beliau menyarankan bahwa Agupena membutuhkan orang-orang untuk mengaktifkannya. Sebagai orang yang saya kenal pertama kali saat duduk berdampingan sebagai delegasi Silaturahmi Nasional (Silnas) FLP tahun 2002 di Kuningan Jakarta, saya percaya kepada Pak Naijan. Beliau juga pernah berkata bahwa ia percaya kepada saya untuk kemajuan organisasi.

Selain itu, saya bertanya kepada beberapa orang pengurus pusat, yang mengabarkan bahwa selama ini Agupena Pusat tidak aktif, anggarannya tidak berjalan, dan masing-masing pengurus sibuk dengan dunianya. Praktis, kegiatan Agupena yang tidak punya dana itu lebih banyak dibiayai oleh Pak Naijan secara personal dari kantongnya sendiri.Secara pribadi, sikap rela berkorban tersebut sangatlah luar biasa, dan saya yakin: tidak semua orang siap dan mau berkorban sedalam itu. Akan tetapi, saya sadar juga bahwa, untuk memajukan lembaga kita harus mengoptimalkan potensi-potensi yang ada, berkawan lebih luas dan terbuka, dan mulai mengatur tata-kelola organisasi yang lebih professional, progresif, dan mandiri.

Akhirnya, “pertemuan” antara pernyataan Pak Naijan “saya ingin renegerasi” yang sangat tulus itu dengan fakta bahwa organisasi ini butuh darah baru, segar, inovasi, progresifitas, komitmen, relasi, dan komunikasi yang efektif membuat saya tidak bersedia ditawarkan menjadi Sekretaris Umum di Munas I. Waktu itu, sesi sebenarnya adalah penjaringan ketua umum, akan tetapi ada yang ingin langsung memaketkan ketua dan sekretaris umum. Kenapa saya tidak mau jadi Sekretaris Umum? Itu karena komitmen personal saya dengan Pak Naijan yang telah dijelaskan di atas. Saya ingin buat lembaga ini lebih maju, dan saya punya visi dan teman yang siap untuk membantu. Sayangnya memang pimpinan sidang terburu-buru ingin segera mengesahkan “paket” tersebut, padahal secara organisasi kita perlu mendengarkan visi dan misi seorang kandidat terlebih dahulu sebelum memutuskan seseorang layak menjadi ketua. Problemnya kemarin adalah, kita tidak mendengarkan visi dan misi kandidat sebelum dipilih secara aklamasi. Bagi seorang yang terbiasa berorganisasi, seharusnya hal-hal seperti ini dapat dipertimbangkan dengan baik ketika memimpin sidang organisasi besar.

Kemudian, karena saya menolak jadi Sekretaris Umum, akhirnya forum para ketua wilayah bersepakat untuk menjadi saya ketua I (ketua harian). Dalam benak saya, “posisi sekretaris dan ketua harian itu tidak jauh berbeda.” Maka, ketika itu saya sempat bertanya kepada Pak Naijan terkait kesiapan beliau menjadi ketua. Saya cuma ingin tahu, apakah komitmen “saya ingin regenerasi” tersebut akan dipegang-mati oleh Pak Naijan atau sekedar sebuah ungkapan biasa. Akan tetapi, ungkapan yang regenerasi yang telah diulang-ulang terus itu pasti bukan tanpa maksud apa-apa. Beliau secara pribadi pasti bisa mengukur segala sesuatunya. Dan, satu hal yang saya khawatirkan adalah ketika kita menyerahkan posisi strategis kepada seseorang yang awalnya sudah ingin regenerasi (artinya ingin tidak di posisi ketua lagi) kemudian kita paksa-paksa dengan alasan tertentu, itu akan jadi beban tersendiri pada beliau pribadi dan juga organisasi. Maka di akhir statement saya ketika itu, saya berkata bahwa kalau kita ingin mengembangkan Agupena, maka sekaranglah saatnya. Ini saat yang baik sekali untuk perubahan. Selain itu, saya juga berpatokan kepada ucapan Pak Naijan kepada saya, bahwa “saya percaya sama ente doank” pada minggu-minggu sebelum Munas.

Hal lain yang membuat saya berpatokan pada “pentingnya regenerasi” itu adalah karena saat ini status saya sebagai Mahasiswa S3 FISIP UI. Praktis, saya menetap di Depok selama sekitar 4 tahun sebagaimana beasiswa LPDP dan setelah tamat S3 saya kembali mengabdi sebagai PNS dosen di Universitas Khairun, Ternate. Dengan relasi yang tidak kosong-kosong amat, dan teman-teman yang siap membantu, saya percaya bahwa lembaga ini bisa maju, dan berkembang.

Catatan Penutup
Kesuksesan Munas I Agupena adalah harapan kita bersama. Terselenggaranya Munas dengan lancar dan baik adalah kerja-kerja bersama dari seluruh pihak: Dewan Pembina, Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, dan segenap stakeholder yang telah membantu bahkan mendoakan. Saat ini, LPJ Munas tengah dipersiapkan oleh Panitia Lokal yang dipimpin Pak Asep Sumarna. Kita harapkan hasil LPJ tersebut dapat selesai dengan segera dan dapat dikirimkan ke wilayah se-Indonesia dan luar negeri.

Selamat dan sukses untuk kita semua. Semoga kesehatan dan keberkahan bersama hari-hari kita semua. Catatan ini selain berisi laporan sebagai sekretaris panitia juga tak luput dari pandangan pribadi saya terhadap apa-apa yang berkembang untuk kemajuan Agupena. Semoga bermanfaat untuk kita semua. ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Munas

Makna Lambang Agupena

Lambang AGUPENA adalah Gambar Bola Dunia bergaris 6 (enam) dengan warna biru
Go to Top