Home » Munas » Opini » Berlari Terbang Tinggi » 525 views

Berlari Terbang Tinggi

Rubrik Munas/Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

“If you fail to plan you plan to fail,” begitu kalimat bijak yang berarti “Jika kamu gagal berencana, maka kamu merencanakan untuk gagal.” Secara khusus, saya mendengarkan kalimat ini di Pulau Bacan ketika menemani Rektor Universitas Khairun Professor Gufran A. Ibrahim saat menghadiri undangan Bappeda Kabupaten Halmahera Selatan. Saat teringat kalimat ini saya juga terbetik konsep peta hidup dari Dr. Marwah Daud Ibrahim saat ia mengisi sebuah seminar di Kampus Pesantren Darunnajah Jakarta sekitar tahun 1997.

Secara ringkas, peta hidup dimulai dengan mengisi kotak-kotak yang ada dengan hal-hal paling berpengaruh dalam hidup kita. Misal, sekarang tahun 2016, maka kita perlu mengisi hal-hal penting dalam kotak dimulai dari tahun kelahiran kita sampai 2016. Kemudian, kita mulai menyusun rencana masa depan terkait apa yang hendak kita capai di tahun 2017, 2018, dan seterusnya hingga usia paling lama manusia modern, sebutlah 80 tahun, 90 tahun, atau 100 tahun juga bisa. Marwah menyebut hal ini dalam sebuah kalimat “Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan” (MHMMD) persis sama dengan judul buku dan brand pelatihannya. Sejak tahu konsep peta hidup itu, saya berusaha untuk lebih teratur dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan.

Melihat Agupena dari Kaca Spion
Kata orang, masa lalu perlu dilihat dengan perspektif kaca spion. Maksudnya, sesekali ia harus melihat ke belakang, tetapi ia harus lebih berfokus pada kaca yang lebih besar di depannya: masa depan. Dalam konteks organisasi berarti masa lalu organisasi (sejarah, kinerja, capaian, problem, dan tantangan) harus bisa dipetakan dan dipahami secara baik sebelum melangkah ke masa depan. Itulah kenapa kajian kesejarahan dianggap penting untuk melihat masa depan. Dalam kajian antropologi, misalnya, riset Dr. Tony Rudyansyah pada Kesultanan Buton tidak bisa dilepaskan dari kajian kesejarahan yang dengan itu ia dapat mengenal lebih dekat identitas dan tindakan masyarakat setempat. “Mereka orang begini dan mengapa orang begitu” bisa dipahami dengan pendekatan sejarah yang dikaitkan dengan interpretasi atas berbagai simbol, tindakan, dan bagaimana sebuah masyarakat melihat diri mereka sendiri.

revTerkait Agupena, sebuah pertanyaan penting mungkin bisa diajukan, “Sudahkah kita melihat diri kita sendiri?” Soal meneliti diri memang tidak gampang. Kajian antropologi yang oleh Ralph Linton disebut-sebut sebagai The Study of Man, melihat manusia dalam bentuknya yang utuh tidak hanya faktor biologi, psikologi, tetapi juga kebudayaan secara umum yang dalam konteks sekarang saling berkelindan dengan berbagai faktor yang sangat dinamis dan terus berkembang. Sudahkah kita memetakan diri kita yang paling minimal adalah menggunakan analisis SWOT? Apa kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada dalam tubuh lembaga perlu dipetakan agar kita tahu siapa diri kita yang dengan itu kita dapat melangkah lebih jelas dan terukur.

Kata sebuah ungkapan, “we see the world as we are, not as it is” Tidak betul seutuhnya memang, tapi boleh kita ambil sisi betulnya. Cara kita melihat dunia luar sangat bergantung pada bagaimana cara kita melihat, dan menyikapi, bukan karena objek yang kita lihat itu sendiri. Maka, perubahan ke arah yang lebih baik, oke, dan kece harus dimulai dari perubahan cara pandangan kita dari dalam untuk melihat yang di luar. Maka mau tak mau kita harus siapa kita, apa lembaga kita, legalitas, corak, gerak, dan seterusnya.

“Setelah Pesta Usai”
Ibarat sebuah pesta, Munas I adalah pesta lima tahunan Agupena. Yang namanya pesta biasanya diadakan dalam kondisi yang relatif santai, dan dapat dinikmati sajian yang ada. Salah seorang panitia Munas setelah melihat rundown acara langsung mengusulkan, “Bagaimana kalau di sela-sela Munas ada penampilan musik?” Ia melihat, rundown acara terlalu “tegang”, dimulai dari workshop serius dan sidang-sidang serius. Namun, di sinilah problematikanya para pendidik: mereka umumnya kurang rileks sehingga lupa untuk lebih santai. Maka, anggapan bahwa kalangan terdidik (guru, dosen, tenaga kependidikan, dan juga mahasiswa atau cendekiawan secara umum) memosisikan diri sebagai menara gading yang bersuara dari tempat tinggi (tidak merakyat) dapat terjelaskan di sini. Idealnya, para pendidik dan cendekiawan kendati memiliki pengetahuan yang tinggi, juga memiliki kedekatan dengan rakyat banyak dalam bentuk aplikasi segala pengetahuan, kontemplasi, dan penemuan untuk kepentingan banyak orang.

Setelah “pesta” Munas selesai, apa? Pertanyaan ini umum terjadi di mana-mana, apalagi untuk organisasi yang sedang aktif-aktifnya mengadakan kegiatan. Secara umum, setelah Munas, ada empat hal yang diharapkan oleh aktivis Agupena.:

Pertama, kompilasi hasil AD/ART. Panitia lokal yang diketuai oleh Pak Asep Sumarna perlu segera menyelesaikan kompilasi AD/ART yang telah diubah di Munas. Tidak semua berubah tentu saja, tetapi perubahan versi Munas I patut segera diselesaikan dan dikirimkan ke seluruh wilayah. Adanya AD/ART terbaru akan memudahkan tidak hanya pengurus pusat, tetapi juga pengurus wilayah sebagai basis asasi, landasan tindak, atau payung hukum yang telah disepakati bersama.

Kedua, Komisi Program Kerja telah memutuskan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pengurus pusat. Olehnya itu, maka beberapa proker tersebut perlu dikompilasi dan disebarkan kepada seluruh wilayah. Selanjutnya, pengurus mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I untuk membahas program kerja dalam satu tahun periode kepengurusan. Tanpa Mukernas, kepengurusan hanya akan berjalan stagnan, one man show, dan “mau-maunya pengurus”. Tentu saja, harus disadari bersama bahwa zaman terus berubah, corak organisasi pun telah berkembang dari sekedar “kita-kita” menjadi “kita semua”. Variasi anggota dengan berbagai latar belakang berbeda patut untuk mendapatkan manajemen yang lebih progresif, dinamis, dan dapat menurunkan visi dan misi organisasi dalam tataran yang lebih spesifik dan aplikatif.

Ketiga, rekomendasi untuk pengurus pusat. Berbagai rekomendasi yang telah payah-payah dibuat oleh peserta Munas juga patut segera dikompilasi dan disebarkan kepada seluruh wilayah. Banyak organisasi nirlaba yang lalai dalam menyebarkan rekomendasi ini karena percaya kepada pengurus terpilih. Akan tetapi, dalam konteks organisasi hal tersebut tidak sehat karena kinerja kepengurusan seharusnya dapat diukur salah satunya dari apakah pengurus menjalankan amanat rekomendasi Munas atau tidak. Untuk itu, maka rekomendasi Munas (sebagaimana yang diusulkan oleh Komisi Rekomendasi, bukan “hasil ingatan” semata) perlu sekali dihadirkan.

Keempat, legalitas organisasi. Per 22 Desember 2006, Agupena telah legal sebagai Yayasan Agupena (bidang sosial) yang didaftarkan oleh Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MM dan Drs. H. Ridwan Mias, SH (sekaligus mewakili Drs. H. Hudaya Latuconsina) di notaris Saifuddin Arief, SH, MH dengan nomor 06/2006. Dalam struktur yayasan, ada Pembina, Pengurus, dan Pengawas. Beberapa kewenangan Pembina dalam Pasal 9 tentang Tugas dan Wewenang Pembina meliputi: (1) perubahan Anggaran Dasar, (2) pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus dan anggota pengawas, (3) penetapan kebijakan umum yayasan berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan, (4) pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan yayasan, (5) penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran yayasan, (6) pengesahan laporan tahunan, (7) penunjukan likuidator dalam hal yayasan dibubarkan.

Sedangkan, pengurus dalam Akta Yayasan ini dijelaskan dalam Pasal 13 tentang Pengurus, sebagai organ yayasan yang melaksanakan kepengurusan yayasan yang sekurang-kurangnya terdiri dari: (1) seorang ketua, (2) seorang sekretaris, dan (3) seorang bendahara. Jika diangkat lebih dari 1 orang ketua, maka salah seorang menjadi Ketua Umum, dan jika diangkat lebih dari 1 sekretaris dan bendahara juga salah seorang menjadi Sekretaris Umum dan Bendahara Umum. Sedangkan, siapa saja yang dapat diangkat sebagai anggota pengurus dijelaskan dalam Pasal 14, “adalah orang perorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan yayasan yang menyebabkan kerugian bagi yayasan, masyarakat, atau negara berdasarkan keputusan pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima tahun) terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap. ”Pengurus juga (masih dalam Pasal 14) diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk jangka waktu 5 (lima tahun) dan hanya dapat dipilih kembali 5 tahun berikutnya. Masih dalam hal kewenangan Pembina, pada Pasal 43 Peraturan Penutup dijelaskan bahwa “hal-hal yang tidak diatur atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diputuskan oleh Rapat Pembina.”

Dalam Peraturan Penutup Pasal 43 (hal. 39) juga menjelaskan tentang susunan Pembina sebagai berikut: Ketua: Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MM, dan anggota: Drs. H. Ridwan Mias dan Drs. Hudaya Latuconsina. Sedangkan, Pengurusnya adalah: Ketua: Achjar Chalil, Sekretaris: Imran Laha, Bendahara: Rani Gustiyani. Sedangkan Pengawas: Agus Waluya.Jadi, dalam periode 2006 hingga 2016 (10 tahun), Pengurus Agupena yang tercatat masih diketuai oleh Achyar Chalil (alm.). Sedangkan, Naijan sebagai Ketua Agupena menggantikan Achyar Chalil (alm.) sejatinya belum diakui secara legal-formal dalam bentuk SK Ketua Pembina.

Menyadari tentang semakin berkembangnya Agupena dan masukan agar Agupena bertransformasi dari bentuk Yayasan ke Perkumpulan, kemudian disepakati oleh at least Drs. Ahmad Sholeh Dimyathi, MM dan Drs. H. Ridwan Mias. Dalam beberapa pertemuan Agupena, kedua Pembina berencana untuk mengubah Agupena dari Yayasan ke Perkumpulan. Ide lain muncul agar Yayasan tetap dipertahankan, dan Perkumpulan membuat lembaga baru (jadi, ada 2 lembaga): yayasan dapat bersifat profit seperti buat sekolah, dst., sedangkan perkumpulan hanya bisa jadi lembaga non-provit. Akan tetapi, hemat saya sebagai berikut:

  1. Jika tetap Yayasan Agupena, maka Pembina perlu membuat Akta Notaris terbaru dengan menambahkan beberapa nama Pembina, seperti Prof. Dr. Fasli Jalal, dalam struktur Yayasan. Kemudian, pengurus Agupena Pusat (hasil Munas I) dan Pengurus Agupena Wilayah merupakan Pengurus Yayasan Agupena. Konsekuensinya kemudian adalah, pada dasarnya lembaga Agupena ini bukan milik bersama, akan tetapi milik orang-perorang yang tercatat dalam Pembina.
  2. Jika Yayasan Agupena dibubarkan dan diganti dengan Perkumpulan Agupena, maka terlebih dahulu perlu ada keputusan dari Pembina Yayasan tentang pembubaran tersebut. Jika Yayasan Agupena dibubarkan, maka Agupena perlu didaftarkan ulang apakah oleh Pembina Yayasan Agupena (jika disepakati) atau oleh Pengurus Yayasan Agupena. Soal ini memang tidak sempat dibahas secara detail dalam Munas kemarin. Namun, dalam beberapa diskusi sebelumnya, Pembina Yayasan Agupena memiliki rencana untuk membubarkan Yayasan Agupena dan mendaftarkan Agupena pada notaris baru dalam bentuk Perkumpulan (tidak lagi yayasan). Keuntungan dari opsi kedua ini, Agupena punya satu payung, yaitu Perkumpulan Agupena. Akan tetapi. kerugiannya adalah untuk membuat kegiatan yang sifatnya profit (seperti bangun sekolah, pendidikan berbayar, atau jurnal berbayar) biasanya (mohon dikoreksi) hanya bisa lewat yayasan, bukan lewat perkumpulan (karena perkumpulan sifatnya non-profit/nirlaba).
  3. Jika Yayasan Agupena tetap dipertahankan dan Perkumpulan Agupena juga dibentuk, maka perlu diperjelas terkait Pengurus Agupena Pusat hasil Munas adalah Pengurus Yayasan Agupena saja, atau Pengurus Perkumpulan Agupena saja, ataukah menjadi pengurus di dua lembaga legal tersebut. Untuk yang terakhir, sepertinya tidak mungkin karena overlapping. Jika ada dua lembaga, keuntungannya adalah Yayasan Agupena dapat membuatkan kegiatan yang bersifat profit, sedangkan Perkumpulan dapat bergerak pada wilayah non-profit. Namun, kerugiannya adalah, lembaga ini jadi terkesan terbelah dua, dan tidak kompak.

Soal bentuk legalitas lembaga (dari tiga opsi di atas), tentu saja perlu dipertimbangkan juga soal kemitraan Agupena dengan lembaga lain. Maksudnya, jika Agupena mendapatkan project (sebutlah pengadaan naskah buku bernilai di atas 50 juta) dari lembaga tertentu, mana yang lebih baik, apakah dalam bentuk Yayasan Agupena, Perkumpulan Agupena, ataukah Yayasan Agupena yang menerima project, kemudian yayasan memberikan project tersebut kepada Perkumpulan Agupena? Kemudian, jika ada keuntungan dari project tertentu yang didapatkan lewat Agupena, bagaimana pembagiannya untuk lembaga? Soal ini memang perlu diatur antara Pembina, Pengurus, dan yang cukup penting juga adalah suara-suara dari Pengurus Wilayah.

Memahami Semangat Zaman
Saat menjadi Staf Khusus pimpinan salah satu pesantren, saya belajar banyak hal dari seorang kawan saya yang merupakan Koordinator Staf Khusus: Amal Hasan. Diskusi-diskusi berkala dengan Mantan Anggota Legislatif tersebut yang juga Trainer Google Asia Pasifik baik di Masjid Jami’ hingga warung kopi mendapatkan sebuah simpulan seperti ini: zaman telah berubah dan cara kita memandang dunia juga harus berubah. Salah satunya tentang bagaimana kita memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk kebutuhan organisasi. Singkatnya, mengutip dari istilah berbahasa Arab: ada hal-hal yang tidak bisa berubah (ats-Tsawabit) dan ada hal-hal yang dapat berubah (al-Mutaghayyirat). Dalam konteks organisasi, kita perlu menyadari sesadar-sadarnya, apa yang Tsawabit dan apa yang Mutaghaiyyirat.

Jika dibawa ke Agupena, hal-hal yang Tsawabit itu contohnya nama organisasi, logo, visi dan misi, dan sebagainya yang disepakati secara kolektif di Munas sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi. Artinya, jika Munas telah bersepakat tentang itu semua—yang termasuk dalam AD/ART—maka satu periode kepengurusan ke depan harus menjadikan itu sebagai Tsawabit. Maka, tidak dibenarkan misalnya ada wilayah yang menambah identitas kewilayahan dalam logo Agupena, karena logo itu bersifat umum. Jika Munas ke-2 diadakan lagi, maka hal-hal yang Tsawabit dapat ditinjau kembali dan ia beralih menjadi Mutaghayyirat sampai diputuskan secara resmi dalam pleno. Sedangkan, hal-hal yang sifatnya Mutaghayyirat yang sifatnya fleksibel secara umum pada manajemen teknis organisasi.

Pada zaman yang berubah ini cara pandang (world of view) kita yang sifatnya Mutaghayyirat juga harus berubah. Artinya, pendekatan kita dalam melihat sebuah konteks organisasi harus lebih terbuka, berorientasi untuk semua, dan siap untuk berubah. Berbicara tentang perubahan tidak bisa dilepaskan dari world of view tadi. Semakin besar dan berkembang sebuah lembaga, maka struktur dan fungsi para agensi harus bergerak semuanya untuk menciptakan sebuah keteraturan (order). Perspektif ini memang agak strukturalis, tetapi mengutip secara bebas dari kalangan strukturalis, “sejak awal dunia tercipta dengan struktur dan fungsinya masing-masing.”

Maka, untuk menciptakan order dalam organisasi, tiap orang perlu ditempatkan pada posisinya. Bagaimana cara menempatkan seseorang pada posisinya? Caranya adalah dengan mengenal lebih jauh karakter khas dan potensi kontribusi seseorang bagi lembaga. Tanpa mengenal karakter khas tiap orang—dengan segenap potensi kontribusinya—maka kita akan bermain pada wilayah yang nyaman (comfort zone), yaitu menempatkan orang-orang terdekat tanpa ada mekanisme semacam fit and proper test, untuk menguji apakah orang terdekat terdekat itu: (1) bersedia sungguh-sungguh mengembangkan lembaga pada periode ini, dan (2) memiliki ide-ide segar, komitmen, dan kontributif untuk kemajuan lembaga. Pilihan orang-orang terdekat tersebut tentu saja punya sisi positif dan negatif. Positifnya adalah kerjasama bisa lebih mudah (walau tidak begitu juga jika melihat ke belakang), dan negatifnya adalah iklim organisasi jadi stagnan karena cenderung akan terlontar “harap maklum” yang secara organisasi kurang sehat jika sering keluar.

Maka, kembali ke semangat zaman di atas, manajemen organisasi perlu disesuaikan dengan semangat kekinian. Semangat zaman yang dimaksud adalah: (1) keterbukaan, (2) mandiri, (3) progressif, (4) pemberdayaan, dan (5) semangat untuk berubah. Keterbukaan sangatlah penting untuk dijaga yang dalam konteks pasca-Munas ini panitia lokal (sebagaimana yang disepakati) perlu menyelesaikan LPJ Munas, baik laporan kegiatan maupun keuangan, serta pengurus lama memperbaiki LPJ Munas yang “sangat sederhana” dalam bentuk yang “lebih kompleks” meliputi berbagai kegiatan, dokumentasi, keuangan, jejaring yang telah terbentuk, karya para anggota, dan yang cukup penting lagi adalah menjelaskan: mengapa para pengurus tidak begitu aktif, bahkan ada yang mengundurkan diri. Penjelasan “kesejarahan” ini bagi orang tertentu mungkin berkata “yang lalu biarlah berlalu”, dan merasa tidak penting. Akan tetapi, insan sejarah pasti menyadari bahwa kondisi kita hari ini ditentukan oleh masa lalu, dan kondisi kita di masa depan ditentukan oleh bagaimana sikap kita hari ini. Belum terlambat, LPJ tersebut masih bisa direvisi tentu saja untuk kepentingan lembaga, bukan untuk menyulit-nyulitkan apa yang memang rada sulit.

Konon, Fisikawan Masyhur Albert Einstein pernah berkata begini, “Hanya ada dua cara untuk menjalani hidup: pertama, hidup tanpa keajaiban, dan satunya lagi hidup dengan keajaiban.” Kita semua percaya bahwa eksistensi kita di muka bumi ini berikut pertemuan kita dalam wadah Agupena bukanlah perkara biasa. Ini sesuatu yang ajaib, sakral, transendental, dan memiliki ultimate goal, yaitu menjadi manusia paling bermanfaat bagi sesama. Maka, menjalani hidup dengan perspektif terus belajar, tidak cepat puas, dan lebih terbuka adalah penting untuk menghadirkan keajaiban-keajaiban, perubahan, dan inspirasi baru untuk menjadikan masing-masing kita terbaik di bidangnya.

Beranjak dari pemikiran di atas, maka sudah saatnya untuk menangkap spirit zaman kita harus berubah, dan berlari. Kata orang sih, salah satu sebab Nokia jadi ketinggalan itu karena ia hanya berjalan di saat Samsung, Asus, bahkan mungkin Coolpad sudah berlari kencang. Mengakhiri esai ini, saya ingin mengutip sebuah lirik lagu “Sepatu Super” yang biasa disenandungkan anak saya dan lama-lama saya jadi hafal juga liriknya:

Kuberlari terbang tinggi
Tak berhenti meski banyak rintangan
Kuberlari terbang tinggi
Kejar mimpi dengan cara ajaib

(SEPATU SUPER)

Nah, pertanyaan untuk kita semua, kira-kira kita sekarang ingin berada pada posisi yang mana: sekedar jalan-jalan cantik ataukah berlari terbang tinggi dengan cara-cara yang ajaib? ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Munas

Makna Lambang Agupena

Lambang AGUPENA adalah Gambar Bola Dunia bergaris 6 (enam) dengan warna biru
Go to Top