Dua Hal Penting Menjelang Munas Agupena

Rubrik Munas Oleh

oleh Yanuardi Syukur
(Mahasiswa Doktoral Antropologi UI/Sekretaris Munas I Agupena)

revAsosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) adalah sekumpulan para guru, dosen dan tenaga kependidikan yang concern pada pembangunan literasi Indonesia. Di tengah masih rendahnya kualitas pendidikan kita, harus kita sadari bahwa peran-serta para guru penulis sangatlah penting untuk pembangunan literasi bangsa ini.

Maka pada momentum Munas I Agupena yang akan digelar pada akhir Oktober 2016, ada beberapa hal yang penting dan menarik untuk didiskusikan.

Pertama, soal manajemen organisasi. Harus diakui bahwa Agupena dapat bertahan hingga saat ini karena perjuangan dan kerja keras dari berbagai pihak. Memang tidak mudah untuk menyatukan berbagai orang dengan berbagai latar daerah, akan tetapi mempertahankan eksistensi lembaga hingga sekarang adalah sesuatu yang luar biasa. Maka, kepemimpinan Achyar Chalil (alm) yang kemudian dilanjutkan oleh Naijan Lengkong–begitu nama penanya–adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan eksistensi lembaga sekaligus mencoba menguatkan pijakan lembaga di beberapa daerah.

Pendirian berbagai Agupena Wilayah di Indonesia hingga 21 wilayah (per Agustus 2016) tidak bisa disebut pekerjaan mudah. Naijan dengan tugas utamanya sebagai guru dan penulis berbagai script sinetron tentu memiliki jam yang sangat padat, akan tetapi di sela-sela waktunya tersebut ia bersedia dan mau turun ke daerah untuk mendirikan bahkan melantik kepengurusan Agupena.

Namun, harus disadari bahwa perjuangan lembaga Agupena butuh kerja bersama yang terukur. Artinya, kesuksesan lembaga tidak hanya terlihat dari sosok seorang ketua yang aktif dimana-mana, akan tetapi terlihat dari pemberdayaan anggota dan berbagai program yang berjalan secara progresif. Misalnya, apakah hingga 2016 ini telah ada data berapa banyak buku yang diterbitkan oleh para anggota Agupena per tahun yang dengan data tersebut kita dapat membuat matriks bagaimana perkembangan para guru penulis di Indonesia? Jika belum ada, tentu saja ini bisa menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting terkait pendataan kita.

Secara umum, manajemen organisasi Agupena memang harus dikembangkan secara efektif dan efisien.

Kedua, soal produktivitas berkarya. Tidak bisa dimungkiri juga bahwa kebutuhan menulis bagi guru dan dosen saat ini sangatlah penting. Pada beberapa kasus, ada saja guru yang memilih jalan pintas dengan menjiplak karya tulis orang lain demi tujuan mendapatkan poin untuk kenaikan pangkat. Ini mengkhawatirkan sebenarnya. Maka, pada titik ini posisi Agupena sangatlah strategis untuk mencetak para guru dan dosen penulis yang berdedikasi dan jujur secara akademik.

Apa yang telah dilakukan dengan berbagai program, sebutlah penerbitan buku antologi karya penulis Agupena adalah bagian dari proses untuk memberdayakan para guru penulis. Di Makassar, Agupena Cabang Makassar telah menerbitkan buku ‘Pendidikan di Kota Daeng’ sebagai karya awal. Kemudian, menjelang Munas Agupena I juga diterbitkan buku ‘Pappatamma’ dan antologi Pendidikan. Ini juga merupakan langkah yang baik untuk mencetak para penulis di lembaga ini. Tentu saja masih banyak karya para penulis Agupena lainnya yang telah terbit dan tidak sempat tertulis dalam esai ini.

Untuk mencetak para penulis, maka hal pertama yang harus disosialisasikan adalah, buat apa kita menulis? Jika sekedar untuk naik pangkat maka setelah pangkat diraih kita akan malas menulis. Jika untuk terkenal, maka jika sudah terkenal, terus apa lagi? Maka niat pertama yang perlu ada dalam pikiran dan hati para anggota Agupena adalah: saya menulis untuk berbagi.

Jika kita meniatkan menulis untuk berbagi, maka kita akan terus berbagi sampai kapanpun. Tidak peduli dapat pangkat atau tidak, terkenal atau tidak, kita tetap menulis. Berbagi lewat tulisan selain meningkatkan skill kepenulisan juga membawa pada kesehatan pikiran. Ya, orang yang menulis secara sadar atau tidak sesungguhnya ia tengah menyalurkan energi yang ada dalam dirinya ke luar dalam bentuk tulisan.

Menjelang Munas I Agupena nanti kita berharap agar lembaga ini dapat terus terjaga eksistensinya sekaligus menghasilkan berbagai output strategis untuk perkembangan organisasi dan karya para anggotanya. Dengan demikian, maka secara langsung atau tidak langsung kita telah berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa lewat tulisan. *

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Munas

Makna Lambang Agupena

Lambang AGUPENA adalah Gambar Bola Dunia bergaris 6 (enam) dengan warna biru
Go to Top