Mencetak Guru Cerdas, Menulis Menjadi Wajib

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Elva Novianty
Pengawas Disdik Rejang Lebong (Agupena Bengkulu)

Guru adalah profesi yang membanggakan.  Mengapa demikian? Tunjangan profesi satu kali gaji perbulan, naik pangkat bisa lebih cepat dibandingkan profesi lainnya, dihormati banyak orang, dan kata ustadz, pahalanya banyak sebagai bekal kehidupan akhirat. Karena kelebihannya inilah mengapa profesi guru mulai diminati orang saat ini. Namun, mungkin masih sedikit orang yang mengetahui bahwa tuntutan profesi guru untuk saat ini cukup sulit, tunjangan profesi tidak mudah untuk didapat.  Guru harus menguasai teknologi sehingga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, guru juga harus memiliki wawasan yang luas atau melek informasi, guru harus mampu mencatat kelemahan dan keberhasilannya dalam melakukan pembelajaran. Terlebih lagi, saat ini guru harus pandai menulis.

Tuntutan profesi yang mengharuskan guru memiliki keterampilan menulis memang tidak dapat dipisahkan dari seorang guru.  Berdasarkan Permenpan RB No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya bahwa salah satu kegiatan guru yang dihitung angka kreditnya adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan, antara lain publikasi ilmiah yang terdiri dari publikasi ilmiah hasil penelitian atau gagasan ilmiah dalam bidang pendidikan formal, publikasi buku teks pembelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru.  Jelaslah, guru akan terlambat untuk naik pangkat apabila tidak mulai belajar menulis lebih awal.

Berdasarkan survei penulis pada bulan Maret 2015 yang dilakukan kepada 25 orang guru pada suatu MGMP, ada seorang guru dengan masa kerja 28 tahun. Namun, belum pernah menyusun karya tulis. Selain itu, hanya ada 2 orang guru yang menyatakan sudah menyusun karya tulis, itu pun masih belum bisa dikatakan baik.  Seorang guru lainnya menyatakan tidak  cukup percaya diri untuk mulai menulis.  Namun, semua guru peserta MGMP tersebut sangat berkeinginan untuk memiliki PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan tulisan lainnya sebagai syarat untuk naik pangkat. Jelaslah, berarti menulis belum membudaya di antara para guru kita,  namun kesadaran akan pentingnya menulis sudah mulai tumbuh.

Kenyataan lain, dalam beberapa kegiatan lomba menulis yang dilaksanakan oleh PGRI Kabupaten Rejang Lebong, baik dalam rangka Hardiknas maupun Ulang Tahun PGRI baru-baru ini, dari hampir 3.000 orang guru negeri dan swasta dari semua jenjang, SD, SMP, SMA dan SMK yang ada di Kabupaten Rejang Lebong, hanya 25 orang guru saja yang mengikuti lomba penulisan artikel.  Padahal, informasi lomba dipublikasikan selama lebih dari satu bulan di media massa lokal dan melalui surat resmi ke sekolah-sekolah.  Pada kegiatan yang berbeda, lomba guru berprestasi, misalnya, peminatnya sedikit sekali. Untuk tingkat SMA hanya 5 sampai 8 orang saja, sedangkan SMP dan SD tidak jauh berbeda. Sebenarnya,75%% guru sangat siap dengan portofolio yang merekam jejak pengalaman kerja mereka sebagai salah satu persyaratan, namun tidak untuk karya tulis.  Masih sedikit guru yang memiliki karya tulis, padahal  karya tulis merupakan salah satu syarat untuk mengikuti lomba guru berprestasi tingkat Kabupaten. Ini sungguh sangat memprihatinkan.

Di sisi karir, guru tidak dapat naik pangkat apabila tidak mampu menulis. Sebagian besar guru beranggapan  karya tulis adalah sesuatu yang “Maha Sulit”,  tidak mungkin untuk dikerjakan.  Guru yang senior, mereka sudah merasa puas dan nyaman dengan pangkat IV-a yang diperolehnya, sedangkan untuk guru yang golongan di bawah, III-b sampai III-d akan mencari segala cara agar memiliki karya tulis.  Kemungkinan yang bisa terjadi dan dianggap sah-sah saja adalah plagiat atau menyuruh orang lain/memakai jasa orang lain untuk membuatkan karya tulis dan lain sebagainya.  Apabila ini benar terjadi, tentu  sangat tidak mencerminkan hakikat profesi guru yang diinginkan.  Guru adalah sebagai profesi yang membutuhkan kepandaian khusus untuk melaksanakan tuntutan profesinya.  Apabila seorang guru tidak mampu melaksanakan tuntutan profesinya tentu tidak bisa dikatakan sebagaiseorang yang professional.

Selain profesional, guru yang dibutuhkan sekarang adalah guru yang cerdas sehingga menginspirasi siswanya. Lalu, seperti apa guru yang cerdas itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerdas adalah sempurna perkembangan akal budinya untuk berfikir, mengerti, dan tajam fikirannya.

Ada 3 jenis kecerdasan,  yaitu: (1) kecerdasan emosional yaitu kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar; (2) kecerdasan intelektual, yaitu kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain; dan (3) kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.  Jadi, guru yang cerdas adalah guru yang memiliki perkembangan akal budi yang sempurna untuk berfikir baik dari segi emosional, kepedulian antarsesama, intelektual, ketajaman berfikir dan spiritual, keyakinannya dengan Sang Pencipta.

revKalau begitu, apakah kebiasaan menulis dapat meningkatkan kecerdasan guru? Pengalaman penulis membuktikan bahwa dalam menyusun karya ilmiah, diperlukan membaca paling sedikit 10 judul buku dan beberapa artikel, baik dari media massa maupun dunia maya. Kegiatan ini memaksa penulis untuk lebih banyak menyerap, mencari, dan menguasai informasi yang berhubungan dengan judul yang diangkat. Menulis tentang suatu topik mendorong penulis untuk belajar secara aktif, mencari sebanyak mungkin informasi tentang topik tersebut. Jelas, terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih positif sehingga hal ini dapat meningkatkan kecerdasan intelektual.

Disamping itu, terjadi perubahan dalam pola pikir. Dengan seringnya latihan menulis, pola pikir lebih tertata dan sistematis dalam mengungkapkan gagasan, baik ketika menulis maupun ketika berbicara. Menulis memudahkan penulis dalam memecahkan suatu masalah, karena dimulai dengan menganalisis permasalahan secara tersurat, kemudian diterjemahkan ke dalam situasi yang lebih konkret. Kebiasaan menulis yang baik berdampak pada dapat memecahkan beberapa masalah sekaligus. Perlu kecerdasan emosional, perlu kesabaran yang prima dalam menulis karena hasil tulisan mesti dikaji berulang-ulang dan dibaca bekali-kali sebelum sampai pada kesimpulan.  Kesabaran seorang penulis diuji, ia harus mengedit berkali-kali sehingga sampai pada tulisan yang benar-benar dirasa layak untuk dipublikasikan. Keterampilan menulis tidak bisa diperoleh secara instan.  Guru harus banyak melatih diri untuk menulis sehingga ia terbiasa.  “Ala bisa karena biasa”, kualitas tulisan juga akan meningkat seiring dengan banyaknya latihan menulis yang dilakukan guru.  Guru yang baru menulis 1 artikel akan berbeda kualitas tulisannya dengan guru yang sudah menulis 10 artikel.  Jadi, kuncinya adalah banyak berlatih.

Tentu saja sulit bagi guru untuk terbiasa menulis pada tahap awal, diperlukan bentuk-bentuk kegiatan yang dapat membangkitkan gairah guru untuk menulis. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Menjadikan menulis sebagai program rutin di MGMP/KKG. MGMP adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang dilaksanakan di SMA, SMK/MA, MAK, dan SMP/MI, sedangkan KKG adalah Kelompok Kerja Guru yang biasanya dilaksanakan di SD.  Forum guru ini sangat efektif untuk menghimpun guru dari berbagai sekolah untuk berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran dan berdiskusi mencari solusi pemecahannya.  Forum ini juga efektif untuk mengasah kemampuan menulis diantara para guru.
  2. Pusat Belajar Menulis/Writing Learning Centre. Tempo Institute telah melaksanakan pelatihan menulis sebanyak 4 angkatan sampai tahun 2014.  Pelatihan ini diikuti oleh praktisi, mahasiswa, dan masyarakat umum.  Hasilnya banyak peserta termotivasi untuk menulis.  Pola seperti ini cukup efektif untuk diterapkan kepada guru kita dalam bentuk Writing Learning Centre.  Di pusat belajar ini juga disediakan nara sumber yang membantu guru apabila mengalami kesulitan.
  3. Mendatangkan motivator atau Penulis Buku untuk menjadi fasilitator dalam suatu forum. Pengalaman yang langsung diceritakan oleh pelakunya akan memberi kesan yang sangat mendalam kepada pendengar.  Pengalaman penulis, ketika mendengar pengalaman seorang cerpenis yang langsung diceritakannya, gairah penulis untuk menulis cerpen terasa bangkit kembali dan ingin secepat mungkin    Mungkin cara ini tepat untuk meningkatkan motivasi guru menulis.
  4. Membentuk Komunitas Penulis, seperti FITK atau sejenisnya sebagai alat komunikasi. Guru-guru yang tergabung dalam suatu komunitas akan saling mempengaruhi, saling berdiskusi, saling berbagi karena memiliki visi yang sama.  FITK adalah forum ilmiah tenaga kependidikan.  Forum ini memfasilitasi guru-guru yang sudah memiliki karya tulis untuk dilombakan.  FITK seharusnya memiliki sekretariat komunitas penulis sebagai pusat informasi.  Sebenarnya FITK sudah terbentuk, namun kegiatannya di beberapa tempat tidak jalan sehingga perlu diaktifkan kembali
  5. Menggunakan media sosial seperti facebook, email, handphone, WA, BBM, dsb. Ruang dan waktu tidak membatasi komunikasi karena alat komunikasi sekarang sudah canggih dan dekat dengan masyarakat, sehingga media ini cukup efektif digunakan untuk berkonsultasi permasalahan yang dihadapi guru dalam menulis.  Hal ini yang dilakukan penulis dalam berkonsultasi dengan pembimbing.  Penulis pemula sangat membutuhkan pembimbing untuk membangkitkan rasa percaya dirinya.
  6. Melaksanakan lomba-lomba karya tulis, simposium, seminar dsb. Ajang kompetisi seperti yang pernah dilaksanakan oleh PGRI, organisasi lain, dan Dinas Pendidikan setempat, memberikan kesempatan bagi guru untuk unjuk kemampuan dan bersaing sehat.

Berdasarkan paparan di atas, diketahui bahwa banyak manfaat menulis yang tidak kita sadari selama ini sehingga wajar mengapa saat ini pemerintah mewajibkan guru untuk menulis dalam bentuk persyaratan kenaikan pangkat. Guru harus terus meningkatkan kemampuan menulis dalam bentuk-bentuk kegiatan yang telah dipaparkan di atas.  Negara ini membutuhkan guru yang gemar membaca sehingga dengan banyak informasi yang diserap dari bacaannya guru akan mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan.  Kebiasaan membaca akan menciptakan guru yang pandai menulis, guru yang pandai menuangkan gagasan-gagasan yang sistematis sehingga mudah dipahami.  Guru yang menuangkan gagasan bersandarkan pada fakta sehingga menemukan solusi yang tepat untuk suatu permasalahan.  Guru yang gemar membaca dan gemar menulis adalah guru yang sabar dan berdedikasi tinggi, guru yang cerdas sehingga sempurna perkembangan akal budinya untuk berfikir, mengerti, dan tajam fikirannya untuk mempersiapkan pemimpin bangsa yang cerdas. ***

Pengawas Disdik Rejang Lebong, Ketua Bidang Hukum dan Advokasi ASOSIASI GURU PENULIS INDONESIA (AGUPENA)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top