Empat Bulan Pertama: Do You Want to Change or Not?

Rubrik Kegiatan Oleh

Catatan Mahasiswa Indonesia di Australia (1)
Oleh Rijal Mahril

Tak terasa desiran angin Adelaide telah beberapa kali menghempasku di empat bulan lebih perjalanan intelektualku di kota kecil namun sangat layak huni ini. Yah, Adelaide ibukota dari salah satu state (negara bagian) di Australia yang sudah empat bulan lebih ini telah mengukir sejarah di memoriku, empat bulan memproses mindset (pola pikirku) untuk tidak selalu berfikir negatifmelulu tentang pola-pola tingkah laku orang barat yang kupikir terlalu individualistis dengan gaya hidup mereka yang tergambar di film-film barat yang sibuk dengan bisnis mereka sehingga lupa akan kehidupan sosial mereka.

revTernyata, tidak semuanya benar. Di tengah-tengah kesibukan mereka yang padat, beberapa di antara mereka masih sangat care minimal padaku yang selalu bertanya ketika butuh bantuan setidaknya untuk mengetahui di mana lokasi perbelanjaan baju murah, toilet yang terdekat, cara top-up metro-card (kartu yg di tap/sedikit disentuhkan pada alat mesin pembaca) sebagai sarana pebayaran untuk naik bus, dan serangkaian aktifitas baru yang menurutku sangat jarang kutemui saat di kampung bahkan di kota Makassar sekalipun di bulan pertamaku di sini. Hehehe. Maafkan aku yang agak katro ini. Tapi, di sini bisa disimpulkan bahwa jangan selalu men-judge sesuatu dari luarnya saja sebelum mengalami atau mengenal objek yang dipersangkakan or “Don’t judge a book by its cover.”Ya Tuhan, maafkan aku yang terlalu subjektif berpendapat ini.

Selain pendapat yg judgemental itu, aku juga cukup dibuat takjub oleh cara belajar dan system pembelajaran di sini. Betapa tidak, cara belajar di sini cukup challenging saat pertama kali masuk course (di sini mata kuliah disebut dengan istilah itu).Tapi, untungnya selalu ada teman-teman baik yang selalu memanduku hampir di dua dan tiga bulan masa kuliahku dimulai apakah itu tentang instruksi tugas-tugasnya yg menurutku cukup sulit untuk dipahami, penggunaan discussion board (laman diskusi internetdi mata kuliah yg bersangkutan), sampai pronunciation(pelafalan bunyi) dosen yang native-australia ketika mengajar di kelas yang semuanya itu tidak pernah terpikirkan di benakku sewaktu masih di Indonesia.

Tak ayal ada satu mata kuliah yang diempu oleh dosen yang accent-nya native itu membuatku hampir-hampir tidak mengerti apa-apa setelah kembali ke rumah kos. Cukup stress memang, apalagi kalau ingin langsung menyesuaikan dengan kemampuan listening-ku yang sudah dua kali membuatku gagal di nilai IELTS (nilai standar untuk menentukan layak-tidaknya seseorang masuk di perguruan tinggi luar negeri seperti UK dan Australia).

Selain dua permasalahan di atas, diperburuk lagi dengan cukup kontrasnya budaya Australiaserta iklimnya dengan budaya dan iklim di Indonesia (di Makassar). Yah, inilah culture-shock yang harus dialami di negara ini. Di mana pasangan muda-mudi bebas berciuman mesra dan itu sudah sangat lazim terlihat di depan mata ini meski di tempat penyebrangan sekalipun. Di mana yang berbaju-baju bikini bebas melenggang ke sana dan ke mari tanpa merasa takut ada yang akan melarang mereka. Di mana pasangan penyuka sesame jenis tidak mendapatkan kontrol baik itu kontrol hukum maupun kontrol sosial.

Yang jelas semuanya berdasar pada prinsip “kalau itu tidak mengganggu orang lain itu sah-sah saja”. Ditambah lagi dengan kenyataan dinginnya winter yang menusuk hingga ke tulangku dan bahkan sempat hampir membuat beku darah di tubuhku di dua bulan pertama. Yah, mungkin inilah beberapa resiko yang mungkin kebanyakan para perantau intelektual rasakan.

Tapi, harus ada kesadaran bahwa tidak ada yang namanya kesuksesan yang bisa diraih secara instan bak mie instan yang langsung seduh tanpa adanya kerja keras dan proses transformasi diri. Awalnya, semua bak beban satu karung beras yang besar yang harus dipikul sendiri. Tapi, dengan merefleksi diri bahwa adanya orientasi tujuan awal yang harus membawa oleh-oleh yang lebih konkrit seperti ilmu, skill dan pengalaman yang mungkin bermanfaat yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang di daerah, maka semakin memacu diri untuk belajar lebih giat meskipun tidak ternilai sebagai pembelajaranyang cerdas saat itu.

Pikiran yang sempit pun harus segera direformasi, rasa malu-malu dan takut untuk bertanya harus segera didelete supaya terbuang di recycle bin di mindsetini.Meski terkadang telat bangun masih menjadi kendala pertama sampai sekarang ini. Apapun itu, semuanya harus diubah mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan dimulai dari hal yang terkecil yang harus dengan konsisten.

Selain transformasi diri, kekebalan tubuhpun seharusnya tetap terjaga dengan asupan gizi yang cukup dan olahraga yang teratur. Selama di kota ini, aku sangat mensyukuri rezki yang datangnya dari sang khalik. Biaya hidup yang melebihi dari cukup membuatku dapat membeli aneka makanan yang cukup bergizi seperti harga daging yang cukup murah ketimbang harga beberapa jenis sayur-sayuran. Mendapatkan asupan makanan yang cukup baik sedikitnya membantu tubuh melawan dingin yang menusuk di dua bulan pertama winter meski tidak secara langsung berkorelasi dengan tingkat konsentrasi dalam belajar. Kesibukan yang mendera akibat tugas yang cukup banyak serta kondisi belajar yang baru membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk beradaptasi dengan kondisi itu. Alhasil, olahraga pun jadi kegiatan yang termarginalkan selain memang yang tersedia hanya sepak bola yang bukan olahraga favoritkudan ditambah kurangnya akses untuk jenis olahraga yang lain. Tapi, syukurlah, setidaknya berjalan ke bus stop dari rumah dan perjalanan dari bus stop terakhir ke kampus sudah kuanggpap olahraga.

Yah, setiap perubahan butuh proses entahkah itu panjang maupun yang singkat. Intinya, kujalani saja setiap proses melewati tiap kesulitan dengan senyum dan lapang dada. Ketika menemui masalah yah kupasrahkan saja pada sang Ilahi namun tanpa henti usaha.  Ada makna dari setiap rasa malu ketika terus bertanya yang padahal hanya pertanyaan simple atau mungkin silly menurut orang lain, ada makna di balik setiap rasa khawatir karena takut word count untuk setiap essay belum mencukupi dan due dateyang menanti, ada makna ketika kamu hanya mendengarkan begitu hebatnya orang lain mengemukakan pendapat mereka yang cemerlang begitu di ruang kelas di mana aku hanya bisa melongo.

Karena terlalu lama loading. Ada makna di balik setiap perilaku yang sering pelupa bahkan pada hal-hal yang kecil. Namun, dengan besar hati harus diakui ku memang harus banyak belajar dari setiap orang entahkah pada hal yang kecil atau besar dengan tetap mensyukuri bahwa masih banyak orang yang selalu mau menolongku untuk menjawab pertanyaan sepele meski kutahu mereka terkadang lelah dengan ocehanku. Terkadang tak tahu harus membalas mereka dengan imbalan apa. Tapi, semoga Tuhan selalu membalas kebaikan mereka dalam setiap do’a karena Dia tidak buta dan tuli juga DIA tidak acuh pada setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pada orang lain.

Akhirnya, dari perjalananku selama empat bulan lebih ini seperti mencuci otakku untuk dibersihkan kembali bahwa apa yang dipikirkan tidak selamanyasesuai dengan kenyataan tentang apa dan bagaimana barat itu, memaksaku keluar dari Zona Nyaman, memaksaku untuk tidak terus berinteraksi dengan mdia social yang cukup banyak mencuri waktu dan perhatianku, dan segera melatih diri untuk terus disiplin dengan waktu dan menghargai setiap proses untuk menuju ke pencapaian-pencapain selanjutnya. Namun, semua tergantung pribadi lagi “apakah mau berubah atau tidak?, Do you want to change or not ?” “Now or later?”. ***

Rijal Mahril adalah Mahasiswa Pascasarjana di University of Adelaide, Australia.

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top