Home » Literasi » Menulis dengan Hati » 725 views

Menulis dengan Hati

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

“Menulis adalah berbicara di atas kertas,” begitu kata seorang ahli. Sebagaimana kita bicara, kita santai saja mengeluarkan apa-apa yang ada dalam benak. Menulis juga diibaratkan seperti itu. Berbicara di atas berarti kita menulis dengan kesadaran dan dari hati kita masing-masing.

Awalnya ketika melihat buku orang lain terbit, ada saja sugesti dalam hati, “kenapa ya mereka bisa tapi saya tidak bisa.” Saya membaca Kenang-Kenangan Hidup karya Buya Hamka. Beliau menulis bahwa sebagai penulis (“pengarang” kata Hamka) boleh juga mengikut kepada penulis yang sudah ada sebelumnya. Namun, kata beliau lagi, kita jangan menjadi “pak turut.” Apa maksudnya? Jangan kita terbuai dengan tulisan orang lain sehingga dengan serta merta meniru gaya tulisan mereka 100 persen. Kita harus mencari “langgam” (gaya) kita sendiri.

Saya pribadi belajar banyak dari buku Hamka. Buku-buku beliau kucari. Pertama kali menemukan novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Itu waktu SMA (saya temukan di Pasar Mayestik-Jakarta Selatan). Selanjutnya lagi, karya beliau seperti Tasauf Modern, Kenang-Kenangan Hidup, Dari Perbendaharaan Lama, hingga buku Sejarah Umat Islam-nya yang tebal (ia tulis selama 20 tahun lebih). Dari Hamka, saya belajar bagaimana menulis dengan baik. Gaya bahasa yang dipakai Hamka memang gaya lama (Melayu), akan tetapi ada sisi-sisi menarik di situ. Salah satunya gaya bahasanya indah, menyentuh walaupun tidak terkesan menggurui.

Terkait dengan menulis seperti “berbicara di atas kertas”, saya telah mencobanya pada buku Menemani Bidadari. Buku yang kutulis saat mahasiswa itu, ditulis dengan sepenuh jiwa. Tidak sampai seminggu (7 hari), buku itu sudah selesai. Jadi, dalam sehari saya hanya dipisahkan oleh makan, salat, dan tidur sebentar. Selebihnya adalah: mengetik langsung di komputer rental samping Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel. Bisa jadi, karena buku ini ditulis dengan segenap jiwa, maka ia sempat dibedah di beberapa tempat (bahkan ada beberapa orang yang berfoto dengan buku ini di Facebook-nya).
***

Bagaimana mencari ide?
Suatu siang, saya iseng-iseng menyeberang dari Ternate ke Tidore. Tujuan saya adalah Pesantren Harisul Khairat, Tidore. Waktu itu saya mendengar bahwa Pesantren Darunnajah Jakarta—tempat saya pernah bersekolah dulu—juga mengirimkan beberapa gurunya ke sini. Setelah dari pesantren, saya mampir ke sebuah pantai—tak seberapa jauh dari pesantren. Di bibir pantai itu, sambil membaca al-Qur’an, saya melihat seekor kepiting.

Apa yang menarik dari kepiting itu? Saat ada ombak kecil menerpanya, dia naik ke atas. Namun ketika ombak-ombak kecil sudah “pergi”, ia mendekat lagi ke pantai. Kelihatannya sepele saja peristiwa itu. Tapi, walau itu sepele saya berupaya mengambil hikmah dari situ. Hikmahnya adalah: kalau kita ada masalah, kita hanya perlu mengatur posisi diri kita (baik itu pikiran dan sikap). Atur diri, dan ikuti bagaimana “permainan” masalah tersebut. Namun, di saat yang sama, kita juga harus berusaha agar bisa keluar dari masalah tersebut.

Hikmah ini, kemudian saya tuliskan dalam buku Menemani Bidadari. Seorang kawan, namanya Johan, mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional mengakui sangat senang dengan analogi kepiting (atau “katang” dalam bahasa lokal Malut) itu. Pengusaha muda yang mendirikan Warung Sabili di Makassar itu menyatakan sikap senangnya beberapa tahun setelah kita berpisah dan buku itu terbit. Menurutnya, analogi tersebut walaupun simple, tapi ada maknanya.

Nah, ternyata, sesuatu yang keliatannya simple, atau tidak berarti, juga mengandung hikmah, bukan? Bagi orang tertentu, bisa jadi sampah itu tidak ada manfaatnya, tapi bagi pemulung yang mengumpulkan aqua, mereka sangat beruntung dapat mengumpulkan botol aqua, dijual oleh mereka, dan mendapatkan uang. Jadi, sesuatu yang kecil atau sepele kadang dianggap tidak ada gunanya oleh kalangan tertentu, tapi bagi mereka yang kreatif, mereka akan memanfaatkan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat.

revDi lain waktu, saya mendapatkan kehormatan untuk mengikuti Program Esai Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Pada 2008, saya ditelepon oleh Mbak Helvy Tiana Rosa. Beliau meminta pandangan untuk siapa yang bisa diikutkan dalam Program Novel Mastera. Karena saya tidak concern di novel, akhirnya saya direkomendasikan oleh beliau untuk mengikuti Program Esai pada 2009. Rekomendasi dari “orang kuat” seperti Mbak Helvy yang juga pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) itu rupanya sangat mujarab. Dalam banyak hal, rekomendasi memang sangatlah penting untuk menentukan seorang kandidat layak atau tidak (termasuk dalam kelanjutan pendidikan).

Dalam salah satu forum di Mastera Esai, seorang pendamping kami pernah bertanya suatu hal, “bagaimana Anda menjelaskan tentang PINTU?” Ya, simple saja: PINTU. Kita diminta untuk menuliskan apa saja yang kita ketahui, atau yang kita maknai sebagai pintu. Ada yang menulis tentang pintu sebagai sebuah papan yang persegi panjang, ada kuncinya dan seterusnya. Tapi, saya melihat pintu dengan cara yang berbeda. Dalam tulisan saat itu juga, saya memulai tulisanku dengan sebuah syair—yang sudah banyak dikenal.

“Saya adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintu,” begitu syairnya. Atau, dalam bahasa aslinya (Bahasa Arab), disebutkan seperti ini: “Ana Madinatul ‘Ilm, wa ‘Aliyyu Baabuha.” Memulai dengan syair ini, saya membuka tulisan tentang bagaimana kedudukan sahabat Ali bin Abi Thalib yang dianggap oleh Nabi Muhammad saw., sebagai “pintu ilmu” (sedangkan Nabi sebagai “kota-nya ilmu.”) kata PINTU yang diminta kita maknai itu, saya tidak melihatnya APA ADANYA, akan tetapi melihat PINTU dengan perspektif yang lain.

Ternyata, untuk menjadi penulis yang baik, kata esais Mohamad Sobary—salah seorang pendamping kami ketika itu—kita tidak bisa hanya melihat APA ADANYA. Kita harus memaknai sebuah objek dengan kacamata yang khas, dan berbeda. Pintu bisa saja dimaknai sebagai sebuah persegi panjang, bisa terbuat dari kayu atau besi. Tapi, yang lebih dalam dari itu, pintu dapat diartikan secara kiasan. Pintu dapat dimengerti sebagai sebuah jalan pembuka bagi orang lain, atau mungkin saja pintu dimaknai sebagai jalan menuju sesuatu yang lain (seperti kematian sebagai pintu bagi ganjaran surga atau neraka).
***

Saya sempat merenung, “apa yang membuat diriku tertarik untuk menjadi penulis?” Pertanyaan kontemplatif itu, pada akhirnya saya jawab sendiri dengan sebuah hadis Nabi yang berbunyi, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Ada banyak cara kita menjadi manusia yang bermanfaat, dan salah satunya yang mendesak di jaman ini adalah dengan MENULIS.

Kenapa menulis? Karena banyak dari kita yang mendapatkan ilmu, pengalaman, bahkan hingga mengambil sikap/kebijakan setelah membaca sebuah tulisan. Sebagai contoh, berita-berita yang dimuat di surat kabar. Banyak pengusaha yang menjadikan berita tersebut sebagai barometer untuk kebijakan perusahaan mereka. Dalam pengetahuan juga begitu. Banyak yang mendapatkan ilmu, terinspirasi untuk berkarya lebih jauh setelah membaca buku karangan orang lain.

Karena diniatkan untuk menjadi manusia bermanfaat itu, maka secara pribadi saya berusaha intens untuk menulis. Jika ada tulisan, maka saya upayakan untuk bisa di-tag ke teman-teman di Facebook. Atau, diposting dalam blog pribadi, hingga sekarang saya membuat website sendiri, www.yanuardisyukur.com. Hal ini saya lakukan sebagai salah satu cara untuk berbagi kebaikan lewat tulisan kepada para pembaca. Harapannya kelak semoga tulisan tersebut memberikan manfaat dan bernilai ibadah di sisi Allah. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top