Menulis Esai: Belajar dari “Jejak Tinju Pak Kiai”

Rubrik Literasi Oleh

Menulis Esai: Belajar dari “Jejak Tinju Pak Kiai” *)
Oleh Yanuardi Syukur

Tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib yang digabung dalam “Jejak Tinju Pak Kiai” menarik untuk kita bahas. Buku yang diterbitkan oleh Kompas (2008) ini bolehlah disebut sebagai salah satu buku “gado-gado” yang ditulis oleh Emha. Dalam dunia penulisan esai, nama beliau sudah dikenal dimana-mana. Tulisannya santai, tapi dalam dan berisi.

Mari kita lihat beberapa teknik menulis esai oleh Emha. Kita akan bahas beberapa tulisan saja dalam buku setebal 240 halaman ini.
***

Jejak Tinju Pak Kiai
Judulnya unik. Pembaca bisa jadi akan bertanya, “Apa hubungannya Pak Kiai dengan tinju?” Apakah ada seorang kiai yang juga berprofesi sebagai petinju sehingga meninggalkan jejak-jejak tertentu? Dari judul saja sudah terlihat bagaimana pembaca dibuat penasaran oleh Emha. Judul yang baik adakalanya membuat rasa ingin (atau sebutlah “penasaran”) sehingga pembaca tertarik untuk melanjutkan bacaannya.

Kita lihat bagaimana Emha membuka tulisannya. Teknik membuka tulisan biasa dikenal dengan nama LEAD.

“Andaikan pun di seluruh Indonesia tak ada lagi koruptor di segala level dan lini, tak ada kejahatan, keserakahan, maksiat, atau segala macam nilai kacau lainnya: tidak serta-merta lantas bangsa kita akan menjadi selamat atau apalagi pasti mengalami kemajuan.”

Lead ini terlihat biasa saja. Emha memulai dengan sebuah kesimpulan bahwa kalaupun tidak ada “nilai kacau” di negeri ini, bukan menjamin kita akan selamat atau lebih maju. Perhatikan diksi (pilihan kata)-nya. “Nilai kacau” jarang digunakan oleh penulis. Emha tampaknya senang bereksperimen dengan kata-kata. Kata “nilai kacau” ini ia lontarkan begitu saja. Kata “kacau” biasanya agak menyentak ketimbang nilai buruk. Misalnya kita sebut “dia orang yang buruk”, kedengarannya sudah biasa. Tapi, kalau di sebutkan dalam tulisan “dia orang yang kacau”, maka kedengarannya lebih santai, unik, dan pas dengan teliga kebanyakan kita.

Di lead ini juga, Emha menyampaikan ide besarnya. Kalaupun tidak ada lagi maksiat di negeri ini, tidaklah itu menjadi jaminan kita akan selamat. Emha membuka lead tulisannya dengan gaya kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Tampaknya, lead ini (atau pikiran tentang ini) sudah terpendam dalam pikiran beliau, sehingga ketika ia menulis, pelan tapi pasti ia lontarkan begitu saja.

Burung Pilkada
Kita lihat lead Emha. Ia menulis sebagai berikut,

“Entah benar entah tidak, tanyakan pada ahli bahasa. Kalaupun tak benar, tak apa juga karena yang penting substansi yang dikandungnya.

Kata “munafik” kabarnya berasal dari suatu akar kata dari nama burung yang hobinya menyembunyikan atau mencelupkan kepalanya ke dalam pasir. Misalnya, pas ada sesuatu yang menakutkan hatinya: badai, awan yang mengerikan, atau ada binatang lain yang mengerikan hatinya.

Si burung sedang menipu dirinya sendiri. Menyembunyikan diri dari pengetahuannya tentang dirinya sendiri di depan kenyataan yang tak bisa diatasinya, atau keadaan yang akalnya sendiri tak bisa menerimanya.”

Dalam tulisan ini, Emha memberikan sebuah informasi baru tentang asal kata munafik. Kita sudah sering mendengar kata itu tapi tidak tahu sejarahnya kata-nya bagaimana. Walaupun dalam tulisan ini Emha secara jujur mengatakan bahwa ia tidak yakin benar apakah kata “munafik” berasal dari seekor burung yang suka menyembunyikan kepalanya ke dalam pasir, tapi ia lebih mengambil pada substansi.

Dalam tulisan ini, pembaca diberikan perspektif baru bahwa ternyata kata “munafik” itu berasal dari seekor burung. Saat membaca tulisan ini, kita terlihat lebih santai dan lancar saja, bukan? Santai karena gaya bahasa yang digunakan oleh Emha juga santai, tapi ada bobotnya. Bobot dalam tulisan ini adalah tentang filosofi munafik tadi. Jadi, mengambil sebuah hikmah—dari mana saja—itu boleh-boleh saja.

Peran Narkoba dalam Pembangunan
Judul ini agak aneh. Pembaca bisa jadi bertanya, “Masak sih narkoba ada peranannya buat pembangunan?” Kita ambil sedikit kutipan Emha dalam tulisan ini. Intinya, ia ingin menjelaskan bahwa masalah narkoba itu bukan masalah barangnya saja, tapi cara pandang, cara pikir, gaya hidup, dan seterusnya. Jadi, kalau mau memberantas narkoba, kurang lebih, maka perubahan cara pandang dan gaya hidup perlu diubah.

“Para ilmuwan meneliti tikus yang sakit turunan sejak kakek neneknya: mereka tidak melakukan tindakan kuratif medis untuk menyembuhkan tikus. Melainkan mengubah habitatnya, merangsang perubahan perilakunya, tata ruang tempat tinggalnya, pola makan minumnya, memastikan keabsahan asal-usul segala konsumsinya. Pada jangka waktu tertentu tikus itu sembuh, dan tidak mewariskan sakit yang sama kepada anak-anaknya lagi.”

Di sini Emha tidak menjelaskan secara detail penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan mana, namanya siapa, lembaganya apa, tahun berapa dan seterusnya. Emha tampaknya melihat bahwa penyebutan informasi yang sejelas-jelasnya untuk tulisan ini tidak terlalu penting. Ia menghindari kesan untuk membuat pembaca jadi sulit. Adakalanya kalau kita sebuah tulisan, bahasanya terlalu tinggi, kesannya ilmiah sekali, sehingga tidak semua orang bisa mengerti. Padahal, inti dari tulisan adalah: bagaimana mentransfer ide ke dalam benak pembaca. Dengan gaya menulis di atas, Emha memilih bahasa yang santai saja agar semua pembaca bisa mencernanya dengan mudah.

Harga Diri Ayam
Ini tentang pengalamannya di Roma, Italia. Kita kutip saja tulisan Emha,

“Mungkin dalam bayangan mereka orang Islam itu hobinya makan orang, nggoreng jari-jari, kuping. Mungkin mereka selama ini berpendapat bahwa bagi orang Islam semua penghuni dunia yang tidak beragama Islam wajib dibunuh, disembelih, ditembak atau dibom. Mungkin secara antropologis mereka punya hipotesis bahwa kaum Muslimin kayaknya bukan berasal dari Homo Erectus atau Homo Sapien, mungkin Homo Bombus…Ternyata orang Islam kenal cinta juga. “

Dalam tulisan ini, masih dengan gaya bahasa santainya, Emha menceritakan tentang pengalaman dia dan tim KiaiKanjeng yang diundang ke luar negeri. Waktu itu mereka membawakan lagu di depan umat Katolik. Acara seperti itu, menurut Emha, bukanlah untuk mencampuradukkan antara agama Islam dengan agama lain. Justru untuk membuka kerjasama ilmu, kongsi ekonomi, dan komitmen politik.
***

Bagaimana menempatkan Emha dalam proses kita belajar menulis?
Emha adalah salah satu icon dalam penulisan esai. Hernowo dari Mizan (Bandung) memuji kehebatan Emha—bahkan ia sangatlah terinspirasi dan belajar banyak dari keberanian Emha untuk bereksperimen dengan kata-kata. Selain Emha, ada banyak lagi penulis esai yang terus produktif. Gunawan Mohamad (GM) misalnya, tulisan-tulisannya di Catatan Pinggir-nya Tempo, banyak sekali dirujuk oleh mereka yang ingin belajar menulis. Tulisan GM santai juga, tapi ia lebih senang dengan kutipan langsung, dan penjabaran dengan bahasa yang padat (walau tidak semua pembaca mengerti). Tulisan GM termasuk high class untuk ukuran pembaca (mereka yang tidak sekolah bisa jadi agak kesulitan). Ini berbeda dengan tulisan Emha yang dikemas lebih santai (setidaknya dalam buku “Jejak Tinju Pak Kiai”) dan langsung dipahami.

Tulisan Emha, tampaknya ada sisi kemiripan dengan Mohamad Sobary. Mantan bos di LKBN Antara itu dikenal sebagai salah satu esais produktif di negeri ini. Tulisan dia terkadang aneh, tapi pesannya tersamping. Pengaruh budaya Jawa kerap terasa dalam balutan tulisannya—seperti juga dalam beberapa bagian tulisan Emha. Masalah “pengaruh budaya” ini saya kira wajar saja terbawa-bawa, karena tiap orang pasti menyenangi untuk membicarakan latar belakangnya—termasuk budaya.

Di kalangan aktivis muslim di jalur 80-an, tulisan Anis Matta termasuk yang menarik untuk dikaji. Dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (MPI), lelaki beristri dua itu benar-benar serius dalam menggali tulisannya. Singkat, padat, berisi, dan diksinya terjaga. Kumpulan tulisan dia yang dimuat dalam majalah Tarbawi itu lebih enak dibaca ketimbang tulisan lainnya yang sempat dibukukan juga seperti tulisan-tulisannya di Arsitek Peradaban atau tentang pernikahan. Ini karena tulisan MPI itu datang “belakangan” seiring dengan proses kreatif beliau dalam menulis.

Kita kembali ke Emha. Bagaimana menempatkan Emha dalam proses kita menulis? Pada 2009, saya beruntung sekali direkomendasikan untuk ikut dalam Program Esai Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) kurang lebih seminggu. Di situ kami dibimbing oleh esais seperti Mohamad Sobary, Agus R. Sardjono, dan lain-lain. Melihat style menulis-nya Pak Sobary, saya merasa belum (tepatnya “tidak terlalu cocok”) dengan beliau. Dan, waktu itu kami memang diberi pesan agar jangan mengikuti gaya menulis orang lain. “Anda harus menulis dengan gaya Anda sendiri,” kurang lebih itu pesan Pak Sobary.

Lantas, bagaimana menempatkan “para guru” kita itu dalam proses kreatif? Mereka-mereka yang senior itu, ada baiknya kita tempatkan saja sebagai inspirasi, sekaligus mengambil apa saripati terbaik dari tulisan-tulisan atau proses kreatif mereka. Misalnya, ketika melihat tulisan Emha, kita ambil saja contoh pembuatan judul beliau yang menarik. Lihatlah cara Emha buat judul: “Mencekik Orang Sesat”, Gerakan Majnun Internasional”, “Harga Diri Ayam” dan seterusnya. Judul-judulnya unik, hidup, buat penasaran, dan diminati orang.

Ada baiknya juga, kita jangan hanya berhenti pada satu orang. Kalau kita mengidolakan Emha dalam menulis, tambah lagi dengan idola sebanyak-banyaknya. Semakin banyak bacaan kita terhadap tulisan orang lain yang bernas, tentu itu semakin menambah kaya kualitas tulisan kita.

Pada 2006, saya sempat menerbitkan sebuah buku. Buku itu ditulis kurang lebih 6 hari waktu masih berstatus mahasiswa. Waktu itu saya sempat mendengar bahwa ada penulis yang dalam dua hari bisa menyelesaikan satu buku, akhirnya saya mencoba beranikan diri dengan azzam yang kuat. Akhirnya, target saya untuk menyelesaikan buku itu dalam seminggu, selesai juga. “Man Jadda Wajada!” Ya, benar sekali peribahasa itu, “Siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia!”

Di waktu yang lain, saat aktif berkuliah Pascasarjana di kampus UI Salemba, saya iseng-iseng jalan ke Pasar Senen. Di sana banyak buku bekas yang diobral, termasuk juga buku baru dengan harga yang miring. Saat melihat-lihat buku, saya melihat sebuah buku. Waktu itu, saya diminta menulis tentang “Musibah.” Buku itu ditulis oleh seorang ulama kenamaan, Said al-Qahthani. Judul terjemahannya: “Indahnya Kesabaran.” Saya tertarik karena harga buku bekas terbitan At-Tibyan cuma lima ribu rupiah!

Sampai di rumah, saya baca-baca buku itu. Tak seberapa lama kemudian, muncullah ide, “Wah, buku ini bagus sekali. Sayang kalau tidak dibaca orang lain. Bagaimana kalau saya ubah menjadi sebuah buku dengan gaya saya sendiri.” Akhirnya, saya pun mengambil beberapa ide penting dalam situ (termasuk sumber-sumbernya), dan tak seberapa lama, jadilah naskah berjudul “The Miracle of Sabar.” Buku ini selanjutnya, ternyata diterima oleh Penerbit Kataelha (grup Lentera Hati-nya Prof. Quraish Shihab). Apa yang bisa dipetik? Pertama, buku yang harga belinya cuma lima ribu rupiah itu berhasil kita transformasikan idenya dan menjadi buku dengan harga 30ribu di Gramedia. Kedua, jangan mengikuti orang lain, tapi jadilah diri Anda sendiri! Tugas kita setelah belajar dari penulis lainnya adalah bagaimana menemukan bentuk tulisan kita sendiri. Saya mencoba itu—walau dengan kualitas tulisan yang masih standar—tapi keinginan untuk terus “to be”, mencari bentuk terbaik saya lakukan.

Setelah buku saya itu jadi (sebelum itu ada juga yang sudah terbit: Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka), saya menjadi lebih produktif. Ini karena saya berpikir bahwa menulis itu menyebarkan kebaikan. Kita ini kan dosanya sudah banyak, nah salah satu cara agar dosa kita diampuni (atau dihapuskan) adalah dengan seperti sabda Nabi, “maka ikutilah keburukan dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapus keburukan tersebut.” Dengan menulis, maka kita menyebarkan kebaikan yang kita berdo’a semoga bernilai ibadah di sisi Allah.

Buku Ensiklopedia Allah (terbit Juni, 2011) juga diterbitkan oleh Penerbit Basmallah (imprint dari Hi-Fest Publishing). Buku setebal 300-an halaman ini saya tulis karena diminta oleh seorang kawan. Awalnya saya berpikir, “agak berat juga tema ini, apalagi tentang Allah, kalau salah bisa-bisa orang lain jadi sesat.” Tapi karena ini sepertinya amanah (sekaligus tantangan), akhirnya dengan berbekalkan pengalaman pernah belajar agama dan buku-buku agama yang ada di rumah (waktu itu kami sekeluarga berlibur di Maros, Sulawesi Selatan), akhirnya saya mencoba. Beberapa kali saya mengedit content-nya, termasuk ayat-ayat yang ada di situ. Saya agak khawatir jangan sampai ada ayat yang salah kutip, atau ada nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Buku ini menjelaskan tentang asma’ Allah, sifat-sifat Allah, bagaimana Allah dalam pandangan ilmu pengetahuan, dan di bagian terakhir diisi dengan “bonus” tanya-jawab tentang Allah yang saya ambil dan kemas ulang dari buku tipis karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Sekarang, kita kembali lagi deh ke Emha. Bagaimana menempatkan beliau dalam proses kreatif kita? Pertama, banyak-banyak membaca karyanya. Jika tidak sempat memiliki bukunya, di internet banyak tulisan Emha yang dapat dikopi, atau bisa jadi ada e-book yang bisa diunduh. Kedua, pelajari bagaimana ia membuat judul, dan mengemas sebuah pengalaman menjadi cerita yang enak dibaca. Tak bisa kita pungkiri memang, the power of story telling punya pengaruh besar. Cerita pengalaman cukup menarik untuk menjadi penguat isi tulisan. Ketiga, usahakan agar tiap hari menulis. Kalau tidak bisa tiap hari depan komputer, mulailah dengan menulis esai di handphone. Iseng-iseng saja menulis judul, memulai sebuah tulisan, atau kalau di jalanan ada iklan yang menarik, segera tulis, dan jadikan itu sebagai bumbu-bumbu menarik dalam tulisan. Keempat, biasakan mencatat. Manusia itu memorinya kuat sebenarnya, tapi kerap saja kita lupa. Untuk itu, kalau ada ide menarik, segera catat (bagus kalau ada buku harian). Yang dicatat itu intinya agar mudah dikutip belakangan hari.

Demikian. Semoga sukses!

Jakarta, 24 Juli 2011

*) Tulisan dibawakan pada Launching Buku Ensiklopedia Allah di Rumah Cahaya Depok, 31 Juli 2011. Tulisan ini sebelumnya pernah dibawakan di kegiatan Forum Lingkar Pena (FLP) Bogor di Kampus IPB, Ahad 24 Juli 2011.

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top