Home » Opini » Merindu Jumatan 212 » 889 views

Merindu Jumatan 212

Rubrik Opini Oleh

Sholat Jumat: Sarana Sosial-Politik Keumatan
Abd. Malik Raharusun
(Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia Wilayah Maluku)

Hari Jumat tanggal 2 Desember 2016 lebih dari 7 juta umat Islam menggelar doa, dzikir dan sholat Jumat di kawasan Monumen Nasional (Monas) – sebenarnya penyebutan monas tidak relefan sebab kenyataannya jamaah memlebihi kapasitas halaman monas meluas sampai ke perempatan Sarinah, Cikini, Senen, Pasar Baru dan Harmoni – Jumatan ini dikenal dengan istilah Jumatan 212 untuk menyebutkan waktu pelaksanaannya.

Saya dan keluarga termasuk bagian dari lautan jutaan manusia tersebut. Pada lautan jutaan manusia tersebut saya merasakan diri seperti debu di padang pasir, sangat menggetarkan. Sampai dengan usia yang demikian dewasa bagi saya ini jumatan yang dahsyat. Dahsyat bukan hanya karena dihadiri oleh lebih dari 7 juta umat Islam tetapi jumat ini pun menyampaikan pesan sosial-politik keumatan.

Saya bukan lulusan sekolah agama dan karena itu saya bukan ahli agama tetapi saya yakin bahwa sholat Jumat bukan hanya sekedar intekaraksi insan dengan sang Khaliknya tetapi lebih dari itu adalah sarana sosial-politik keumatan. Bagi saya, syarat-syarat sahnya sholat jumat yang jamaahnya minimal 40 orang, kewajiban mendengarkan khotbah bagi jamaah, bahkan khotbah jumat dihitung dua rakaat sholat dan juga ancaman keras berupa kekafiran bagi laki-laki baliq dan berakal yang sengaja alpa meninggalkan tiga kali sholat jumat berturut-turut menunjukan pesan sosial-politik keumatan. Syarat-syarat sholat jumat tersebut tidak hanya menyiratkan pesan spiritual tetapi juga pesan sosial-politik keumatan.

Bagi saya – yang bukan Ustatd ini – Allah SWT sengaja menjadikan sholat jumat juga sebagai saran sosial-politik umat dalam sepekan. Setiap Jumat para lelaki Islam yang telah balig dan berakal diwajibkan sholat jumat secara berjamaah. Disetiap jumat itu juga para khatib akan berkhotbah untuk merespon kondisi yang sedan dan akan dihadapi umat Islam.

Bagi saya yang awam soal agama ini, idealnya disetiap sepekan saat sholat jumat para khatib harus dapat melakukan konsolidasi bagi spiritual dan sosial-politik keumatan. Lewat khotbah jumat para jamaah tidak hanya meningkatkan ketakwaan pribadinya tetapi juga dapat menjadi lokomotif bagi gerakan sosial-politik umat ke arah yang lebih baik. Jika ini dapat ini dapat direalisasikan dengan baik maka energy positif akan keluar dan memberi dampak sosial dari setiap jumat yang kita lalui.

Saya Merindu Jumatan 212
Ada sebuah anekdod yang diberi judul “Gara-gara Beda Mazhab” diceritakan seorang pemuda musafir pada suatu jumat mampir sholat jumat di sebuah masjid. Setelah wuduh pemuda tersebut masuk dan berdiri disudut kanan masjid kemudian sholat sunah dua rakaat. Setelah melaksanakan sholat sunah dua rakaat pemuda tersebut kemudian melipat kedua lututnya dan menyandar pada dinding masjid. Iqamat sholat jumat pun dikumandangkan, pemuda tersebut berdiri marah dan ribut, kemudian berkata “Asragfirullah, ini masjid bermazhab apa sih, kok tidak ada adzan, tidak ada khotbah jumat tiba-tiba saja Iqamat untuk sholat”. Dengan nada halus seoraang jamaah menghampiri dan berkata, “dari tadi kamu tidur” (hahahah).

Anekdot di atas mungkin hampir pernah kita (termasuk saya) alami, yakni tertidur saat khotbah jumat dan baru terbangun ketika iqamat jumat. Tertidur saat khotbah sholat jumat faktor penyebabnya dapat dari diri kita pribadi dan dapat juga dari khatib atau khotbah jumat yang disampaikan. Faktor dari diri pribadi kita bisa karena kecapean dan ngantuk atau karena kondisi kesehatan. Sementara faktor dari peng khotbah bisa jadi karena gaya komunikasi khatib atau isi khotbah yang menurut kita biasa saja dan karena itu menimbulkan rasa ngantuk.

Saya merindu sholat Jumat sebagaimana yang dilaksanakan pada 2 Desember 2016. Saya terharu dan merinding lebih dari 7 juta orang berkumpul melakukan sholat jumat dengan rapi. Dari masyarakat biasa sampai orang kaya, dari pejabat sampai rakyat biasa, dari yang secara fisik sempurna sampai penyandang cacat, dari yang muda sampai tua renta, dari pelosok desa tumpaah ruah dalam suasan sholat jumat yang sangat syahdu.

Khotbah jumat yang disampaikan pun tidak hanya bertujuan meningkatkan spiritual jamaah tetapi juga mengupas secara konteks kondisi yang dihadapi umat. Saya mendengar gaya komunikasi khotbah jumat oleh Habib Rizik Shihab sangat mantap, intonasi suaranya konsisten dari awal khotbah, khotbah kedua dan khotbah ketiga. Saya dan lebih dari 7 juta jamaah lainnya bergetar dalam gaya dan isi khotbah, saya perhatikan seluruh panca indra jamaah sholat jumat mantap tertuju pada khotbah yang disampaikan. Saya dan lebih dari 7 juta jamaah sholat jumat mata tetap konsisten melotot tanpa sedikitpun terbesit rasa ngantuk. Bagi saya ini jumat yang perfect.

Pengalaman ini benar-benar dahsyat. Saya merindu jumatan 212. Ini hanya tulisan ringan pengalaman psikologi pribadi saya yang awam agama tidak ada hubungan sama fatwa jumatan sana-sini. Bagi saya kalau kerasa konsentarasi dan khususnya sholat sampai ke hati sudah cukup. Hehehe….. ! ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top