Semua Penulis adalah Dermawan

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Semua penulis adalah dermawan karena tiap penulis berbagi apa yang dia punya kepada orang lain lewat tulisan, baik itu fiksi, non-fiksi, atau sekedar status di facebook, ciutan di twitter, atau sharing pengalaman di whatsapp.

Kedermawanan penulis tersebut akan semakin meningkat jika ia menjadikan tulisannya “naik kelas” dari sekedar tulisan biasa menjadi tulisan yang penuh makna, bahkan syukur-syukur jika bisa membantu memecahkan masalah personal pembaca atau masalah sosial.

Seorang penulis dermawan perlu sekali banyak membaca. Rasanya sulit zaman sekarang bisa membuat tulisan yang dalam dan luas jika tanpa membaca. Tentu saja tidak harus semua buku dibaca, akan tetapi buku-buku yang diminati saja, tapi jangan lupa buku-buku pengetahuan umum yang sangat membantu ketika kita menjelaskan sebuah tema.

Sisi kedermawanan penulis akan tambah naik lagi maqom-nya jika ia bisa menjadikan tulisannya itu berbentuk buku–tak masalah buku elektronik atau buku cetak. Jika tulisan-tulisan telah berkumpul dalam sebuah kesatuan bernama buku, maka derajat seorang penulis akan semakin tinggi karena ia telah berhasil menyatukan berbagai hal yang terpisah menjadi kesatuan. Tidak mudah tentu saja menyatukan itu semua.

Dan, seorang penulis akan semakin naik lagi derajat kedermawanannya manakala ia dapat menjadi teladan dari apa yang ia tuliskan. Memang, ada yang bilang bahwa “penulis telah mati ketika tulisannya telah diterbitkan” yang bermakna bahwa sudah tidak ada lagi “kesatuan” antara penulis dengan karyanya. Akan tetapi, masyarakat kita masih sulit untuk memisahkan itu. Masyarakat masih melihat keterkaitan antara tulisan dengan keteladanan dari sang penulis. Jika ada yang berbeda antara tulisan dengan fakta, maka mereka bisa jadi kurang respek lagi kepada sang penulis.

Sebagai penulis, kita semua harus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri. Tidak hanya kualitas menulis akan tetapi juga kualitas kemanusiaan kita. Makin tinggi skill menulis seharusnya makin tinggi pula derajat kemanusiaan kita. ***

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top