“JANGAN PERNAH BERHENTI MENULIS”

Rubrik Literasi Oleh

(Sebuah Pesan dari Sang Guru)
Oleh: Yasser A. Amiruddin
(Guru SMA Negeri 1 Maniangpajo)

Sepucuk Surat Tugas dari Pengurus Wilayah Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Provinsi Sulawesi Selatan, Nomor: 03/ST/AGPN-SULSEL/WAJO/XII/2016, tanggal 6 Desember 2016 menjadi dasar bagi penulis, menulis artikel ini.

Surat tersebut menugaskan kepada penulis sebagai koordinator/penanggungjawab pembukaan organisasi Agupena Cabang Wajo untuk periode 2017 – 2020. Sebelumnya, pada tanggal 15 November 2016, penulis mendaftarkan diri pada organisasi tersebut.

Saya pun teringat dengan titipan dari seorang guru (dosen) saya di salah satu Perguruan Tinggi di Kabupaten Wajo Tahun 2008 silam. “Jangan Pernah Berhenti Menulis” pesannya kepada saya. Pesan tersebut bahkan diulanginya sebanyak tiga kali. Alhamdulillah, semangat untuk menulis lahir dari Sang Guru. Terima kasih Ibu.

Saya juga teringat dengan pesan yang sama yang terlontar dari seorang kenalan yang tidak saya tahu namanya. Suatu waktu, setelah melaksanakan Shalat Dhuhur di Masjid Unismuh Makassar, kami hanya berkenalan dengan mengetahui profesi masing-masing tanpa berusaha untuk mengetahui nama. Saat itu, saya perkenalkan diri saya sebagai mahasiswa PPs Unismuh Makassar, sementara dia memperkenalkan dirinya sebagai dosen di Unismuh Makassar, dosen di UIN Alauddin Makassar, dan Pengurus PWI Sulawesi Selatan. Akhirnya, kami bercerita tentang dunia menulis, hingga berpesan kepada saya “Jangan Pernah Berhenti Menulis, Menulis Saja Terus dan Kirim Tulisan Tersebut ke Media Massa, sebelum tulisan sebelumnya diterbitkan”. Terima kasih Pak.

 
“Jangan Pernah Berhenti Menulis”, sebuah pesan singkat tapi sarat akan makna. Berdasarkan data empiris dalam Pikiran Rakyat (2000) bahwa keterampilan menulis Indonesia paling rendah di Asia. Kenyataan ini didukung oleh hasil observasi Alwasilah (1998) bahwa kaum intelektual rendah mutunya dalam menulis.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri jika masih ada beberapa tokoh yang layak diacungi jempol. Sebutlah misalnya Andrea Hirata yang sukses mengorbitkan Tetralogi Laskar Pelangi menjadi buku best seller dipenghujung tahun 2008 ini. Keempat karya dalam tetralogi laskar pelangi adalah #1 Laskar Pelangi, #2 Sang Pemimpi, #3 Edensor, dan #4 Maryamah Karpov.

Dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang kecuali jika orang tersebut tidak mau merubah nasibnya sendiri. berarti manusia sebagai kualifikasi atau penguasa dimuka bumi ini, yang dibekali akal pikiran dan kondisi jasmani – rohani yang sehat oleh Allah. makanya wajib berusaha sesuai bakat dan kemampuannya masing-masing.

Kita tidak bisa membangun apapun didunia ini sebelum kita membangun jiwa kita sendiri. Berhasil apa tidaknya maksud kita itu tergantung kepada keberhasilan hati kita. orang yang putus asa lenyap keberaniannya. karena putus asa adalah sifat dari segala hal yang sangat jahat. kita harus tahu bahwa punggung pedang kalau diasah akan tajam juga, olehnya itu janga berputus asa apalagi menjadi bosan.

Ya … mengapa kita mesti bosan ? bukankah banyak hal yang bisa dipelajari dan diselidiki, untuk selanjutnya sebarkan melalui tulisan? kita tidak pernah akan kehabisan bahan. ada atom, ada kehidupan didasar laut, ada bunga-bunga liar, ada ruang angkasa, ada puisi, ada musik, dan ada pula gejala-gejala yang terjadi dalam hati dan budi kita pada waktu kita mengalami peristiwa penting dalam hidup kita.

Semakin banyak kita belajar semakin banyak pula hal yang bisa kita ketahui, kurun waktu yang kita miliki terlalu pendek untuk bisa belajar dan mengetahui segala-galanya. kebosanan bukan hanya tidak berguna tetapi patut pula ditertawakan.

Oleh karena itu marilah kita hidup menurut diri kita. percayalah pada diri sendiri, jangan membiarkan orang-orang sekitar kita menjadi atasan kita. Gunakan akal untuk menemukan hal-hal yang ingin kita ketahui. Marilah kita mengerjakan apa saja yang menurut kita sendiri baik untuk kita kerjakan. Dan yang lebih penting tetaplah menulis. Sebab dengan menulis, kita telah menciptakan keabadian pada diri sendiri.

Bukankah Prof. M. Amien Rais pernah berkata “Menyangkut masa depan bangsa, kita tak perlu takut menggelar pertukaran pikiran secara lugas dan tajam. Yang kita pertaruhkan adalah masa depan generasi muda kita yang rata-rata mulai pesimis melihat masa depan. Bila pesimisme itu mulai berubah menjadi apatisme, masih bisakah kita melihat masa depan kita dengan kepala tegak dan yakin diri?” Begitulah kata dari “Sang Idola” diakhiri dengan nada tanya.

Kita semua, pasti tahu jawabnya. ***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top