Spiritualisme dalam Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat)

Jikalau hanya alasan naik pangkat kemudian menulis, tidak salah dan itu manusiawi. Kekhawatiran saya adalah jika sudah naik pangkat, memungkinkan berhenti menulis. Spirit menulis tak lebih karena soal pangkat saja. Idealnya, naik pangkat salah satu bonus menulis.

Lalu, saya berkesimpulan. Akan lebih bagus kalau menulis diniatkan sebagai ibadah. Ini menyentuh sisi terdalam setiap manusia. Dengan Pancasila sebagai dasar bernegara, maka secara otomatis, menulis adalah bagian dari tugas ketuhanan yang diemban setiap manusia.

Menulis Itu Ibadah
Saat baginda Nabi SAW menerima wahyu pertama kali, turunlah perintah membaca. Bahkan saat itu belum ada tulisan dalam bentuk naskah Quran. Di pemerintahan Khalifah Abu Bakar RA mulailah dirintis mushaf Alquran sehingga menjadi awal tulisan Quran yang kita warisi sampai sekarang.

Untuk itu, aktivitas membaca tidak akan berjalan dengan sempurna jikalau tidak ada tulisan. Kecuali dalam soal wahyu Allah yang dipaparkan sebelumnya. Untuk itu, menulis adalah perintah yang sama pentingnya dengan membaca. Bahkan menyediakan instrumen bagi pembaca untuk menyelesaikan tugasnya.

Pada bagian ini, saya berijtihad bahwa menulis itu bagian dari ibadah. Dimana belajar akan lebih mudah jikalau tersedia tulisan. Kita bisa saksikan para ulama kita mewariskan tulisan dalam bentuk kitab. Kadang kita menamakannya dengan istilah kitab kuning.

Begitu juga dengan “ketua panitia” penulisan Quran pertama kali, Zaid bin Tsabit RA. Beliau lebih mudah melaksanakan tugas karena adanya dukungan dari para sahabat yang sudah menulis Quran di pelepah kurma, tulang belulang, dsb.

Argumentasi Umar bin Khattab RA yang mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar RA untuk mulai dikumpulkan Quran dalam satu mushhaf menjadi bagian dari usaha untuk mempermudah membaca Quran. Hanya saja tanpa tulisan, membaca akan terkendala.

Untuk itu, menulis sudah saatnya dipandang sebagai ibadah. Bukan lagi kepentingan pendek yaitu kumulatif poin untuk kenaikan pangkat. Jikalau itu saja, maka selamanya aktivitas menulis hanya sebagai sasaran antara. Padahal, menulis adalah bagian amal sholeh yang juga berpotensi untuk menjadi amal jariyah. Wallahu a’lam bi al-shawab. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top