MEMAKNAI MAULID DAN NATAL: MENGHIDUPKAN TRADISI MENULIS PARA NABI

Rubrik Literasi Oleh

Abd. Malik Raharusun
(Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia Wilayah Maluku)

Pendahuluan : Menulis Tradisi Purba Manusia
Sejak kapan manusia mengenal menulis? Jawaban sederhananya sejak pertama kali manusia hadir sebagai entitas sosial. Menulis adalah tradisi purba yang seumur dengan usia manusia itu sendiri. Para sejarawan mengenal kebudayaan awal manusia melalui jejak sumber berupa tulisan yang masih berbentuk symbol yakni dengan sisitim ideografik dan symbol nomonik. Menulis sudah ada sejak masa proto yakni pada Mesopotamia 3200 SM dan peradaban China sejak 1300 SM.

Menulis adalah hasil dari produk kebudayaan manusia. Sebagaimana wataknya kebudayaan yang berkembang sesuai dengan nalar manusia itu sendiri, tradisi menulis pun mengikuti tingkat perkembangan cara berfikir manusia. Pada masa awal, tulisan masih berbentuk symbol atau tulisan gambar atau disebut juga piktograf. Dalam perkembangannya tulisan dengan menggunakan symbol gambar mengalami penyempurnaan. Nalar manusia makin berkembang menuntut penyempurnaan menulis yang lebih efektif bagi komunikasi.

Alphabet adalah rumusan yang sempurna dari kebudayaan menulis manusia. Alphabet adalah daftar kumpulan huruf yang digunakan untuk menulis bahasa tertentu. Kata alphabet berasal dari bahasa Semit sejak abad ke-15, di Indonesia kata dan alphabet Yunani (Eropa) diperkenalkan melalui proses kolonialisasi yang sangat panjang oleh Belanda dan Portugis – sebelumnya dalam kebudayaan menulis, bangsa Indonesia telah mengenal tulisan Jawa, Lampung, Bugis-Makassar dan beberapa suku lainya. Dalam perkembanganya terdapat beragam alphabet yang mewakili bahasa tertentu di dunia, diantaranya tulisan Arab (kaligrafi), tulisan Cina, tulisan Yunani, tulisan India, tulisan Rusia, tulisan Spanyol.

Walaupun menulis adalah kebudayaan purba manusia tradisi menulis tidak dilakukan oleh semua manusia. Menjadikan menulis sebagai tradisi hanya dilakukan oleh mereka yang memang cinta kepada tradisi intelektual. Mengurai huruf menjadi kalimat yang indah dibaca tentunya bukan hanya kemampuan menulis yang dibutuhkan tetapi juga pengetahuan akan semesta yang merangkai huruf menjadi kata dan kalimat. Para Nabi misalnya adalah kelompok manusia yang menghidupkan tradisi menulis, bahkan Nabi ketika menulis sebagai bagian integral dari wahyu Tuhan. Para Nabi yang masyhur lahir ketika manusia telah mengenal tulisan dengan sempurna dan kerena itu mewariskan kitab suci bagi pemeluknya.

Menulis Sebagai Tradisi Prophetic
Dalam perkembanganya telah banyak karya monumental manusia yang terekam dengan baik melalui goresan tulisan. Karya-karya klasik Romawi-Yunani, peradaban Cina, peradaban Hindu serta tradisi sastra Arab-Persia klasik adalah mahakarya para intelektual yang abadi dalam karya tulisan. Menulis sampaikapan pun adalah tradisi intelektual. Dengan menulis seorang intelektual akan mengikat dirinya bersama keabadian. Orality and Literacy menulis dalam buku berjudul, “Speaking Writing, Technology, and the Mind,” (2002) bahwa pakar bahasa Walter J. Ong mengatakan tanpa menulis kesadaran manusia tidak bisa mencapai potensi yang sebenarnya, tidak bisa menghasilkan ciptaan-ciptaan yang luar biasa dan indah.

Dalam tradisi prophetic menulis juga menjadi isyarat ajaran yang diwahyukan. Bahkan puncak keagungan tradisi menulis ada pada zaman para Nabi yakni ketika goresan huruf yang membentuk kalimat bukanlah bahasa manusia atau bahasa Nabi melaikan wahyu Tuhan yang dibumikan.

Dalam Islam misalnya wahyu yang pertamakali diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah untuk membaca, “Bacalah dengan (menyebut) nama Robb-mu Yang  menciptakan”(QS Al-‘Alaq : 1). Wahyu tersebut jelas menunjukan perintah membaca. Membaca dalam perspektif yang lebih luas tidak hanya yang tertulis secara lahiriah (nyata berupa deretan huruf) tetapi juga membaca “tulisan” alam yakni kejadian alam raya. Kemampuan membaca yang baik tentu akan menghantarkan kita untuk menulis dengan baik pula. Siklus kedua aktivitas ini (membaca dan menulis) juga disebut sebagai tradisi literasi. Membaca dan menulis ibarat dua sisi uang logam yang selalu terintegrasi, keduanya mustahil dipisahkan.

Dalam sejarah para Nabi tradisi menulis selalu dihidupkan Nabi baik kepada para sahabatnya atau murid-muridnya. Ketika Nabi mendapatkan wahyu maka dengan segera wahyu tersebut di tulis oleh sahabat atau muridnya. Dalam sejarah Islam misalnya para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah juru tulis yang selalu sigap menulis setiap firman Allah SWT yang diucapkan melalui lisan Nabi SAW. Begitu juga Isa Al Masih (Yesus) yang memiliki 12 orang murid selain belajar dari Isa Al Masih mereka juga berfungsi sebagai juru tulis. Dalam teologi Kristiani kita pun mengenal 4 injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) yang ditulis oleh murid-murid Yesus berkaitan dengan kehidupan Yesus.

Pilihan mengabadikan firman Tuhan melalui tulisan dan bukan hafalan adalah upaya mengabadikan firman Tuhan bagi umatnya. Pilihan tersebut juga menunjukan visionernya seorang Nabi dimana terdapat keyakinan apabila dengan hanya mengandalkan hafalan maka sangat mungkin firman Tuhan tersebut akan hilang. Dengan menulis maka kemurnian dari firman Tuhan akan tetap terjaga sampai akhir zaman. Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam hadits nya “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (Silsilah Ahadits Ash Shahihah no. 2026).

Menarik juga bahwa tradisi menulis sebagai tradisi propethic adalah tulisan tersebut menggambarkan atau menyampaikan nilai-nilai kebenaran, keadilan serta bersifat universalitas. Bahwa menulis tidak sekedar menyampaikan gagasan semata tetapi lebih dari itu menulis adalah pesan peradaban, pesan kebenaran, pesan keadilan dan pesan tersebut bersifat universal bagi seluruh umat manusia disetiap zaman.

Altar Cinta Bagi Nabi Para Penulis
Ada banyak cara pecinta mengekspresikan rasa cintanya kepada yang dicinta. Para pemimpin, para pedagang, para ulama/pendeta, para guru, para senimana atau profesi apasaja yang diperankan seorang manusia jika telah datang rasa cinta padanya kepada Nabi maka lihatlah curahan karya gemilang akan lahir dari kecintaan tersebut. Kecintaan kepada Nabi akan mengarahkan seorang pemimpin untuk berlaku adil bagi rakyatnya, para pedagangan yang cinta kepada Nabi pun akan berlaku jujur bagi daganganya, demikian seterusnya.

Di atas altar cinta para penulis pun akan mencurahkan gagasan sebagai pesan peradaban, pesan kebenaran, pesan keadilan bagi pembaca. Penulis yang bijak adalah pewaris para Nabi, ia hanya dan akan menulis atas nama kebenaran dan keadilan. Sebab ia sangat sadar setiap huruf yang dirangkai menjadi kalimat adalah pertanggungjawaban intelektualismenya.

Memperingati kembali Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1438 yang bertepatan 12 Desember 2016 dan juga Natal 25 Desember 2016 nanti idealnya ada hikmah dari seluruh pesan keNabian baik bagi Islam ataupun Kristen tentang tradisi menulis para Nabi, yakni menulis sebagai medium menyampaikan pesan kebenaran, pesan keadilan dan pesan peradaban bagi umat manusia. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top