Guratan Kelam di Batas Cerita

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen: Washadi

Jarum arloji tepat mengarah angka dua belas. Cuaca begitu terik. Angin agaknya enggan bertiup. Awan pekat menggelayut di langit memayung bumi. Bising mesin dan knalpot ditambah kesemrawutan beragam kendaraan menambah kesumpekan kota.

Aku berjalan menyisir trotoar. Berbekal secarik kertas dan segenggam semangat, aku melawan panas yang membakar kulit. Peluh yang membasah muka dan baju tak kuhiraukan. Terus saja kuseret kaki yang mulai terasa lunglai. Sekian ratus meter berhenti, lalu melanjutkan kembali. Sesekali bertanya kepada orang-orang yang aku jumpai.

Cukup jauh aku berjalan. Dengan rasa penasaran yang masih menghinggap. Tanggung jawab yang kuemban harus segera kutunaikan. Demi memuaskan hati orang yang menitahkan perintah kepadaku.

Di sebuah warung, aku sejenak beristirahat. Menikmati segelas es kelapa muda sekadar menyejukkan tenggorokan. Kutanyakan alamat sesuai yang tercatat di carik kertas yang kubawa dari daerahku.

“O,” kata si penjual setelah membaca tulisan yang kusodorkan.

“Abang tahu?” tanyaku.

Dia kemudian menjelaskan sambil menunjukkan arah alamat yang kucari. Aku merasa mendapat angin segar. Perjuangan yang telah kulakukan akan segera terbayarkan. Aku akan segera bertemu dengan seseorang yang telah lama menghilang, meninggalkan orang-orang yang sangat mengharapkan kehadirannya. Seseorang yang pergi dengan sejuta luka di dadanya, yang kemudian menganga dan membusuk menjelma dendam. Ya, dendam, yang membawanya kabur sekian lama, tanpa secuil pun menyampaikan kabar.

Beberapa saat kemudian, aku berada di depan sebuah rumah kontrakan sesuai yang ditunjukkan si penjual es kelapa muda tadi. Kucocokkan alamat yang tertera dengan tulisan yang kubawa. Ternyata tepat. Kuberanikan diri mengetuk pintu sambil mengucap salam. Beberapa kali kulakuan itu. Terdengar sahutan dari dalam.

Seorang lelaki keluar dari rumah itu. Dia terperanjak menatapku. Sesaat mematung, kemudian dengan gerak cepatnya dia hendak menutup pintu. Spontanitas aku tahan pintu itu. Aku berusaha agar dia bersedia menerima kehadiranku.

“Dari mana kau tahu alamatku?” tanyanya, setelah cukup lama kami mematung.

“Ibumu,” jawabku singkat.

Dia terdiam. Matanya menerawang ke luar.

“Boleh aku masuk?” tanyaku kemudian.

Akhirnya aku diperkenankan masuk. Suasana kaku masih melingkupi kami. Sebetulnya pun aku sudah menduga akan terjadi seperti ini. Suatu keadaan yang sangat tak kusukai. Keadaan yang termakan oleh dendamnya yang timbul akibat kesalahpahaman di antara kami. Aku sudah berulang kali menjelaskannya dulu, namun dia tetap kokoh pada pendiriannya, hingga akhirnya mengambil sikap pergi mejauh.

Aku jauh-jauh datang ke tempat ini bermaksud menemuinya dengan itikad baik, tetapi yang kudapatkan sambutan tak bersahabat. Namun, aku tetap berusaha mengendalikan diri. Dengan sangat berhati-hati kujelaskan kembali maksud kedatanganku, sambil sedikit kubuka peristiwa silam yang telah merusak hubungan persahabatan kami.

Kutatap matanya. Ada kebencian dan penyesalan mendalam di sana. Kubaca juga kerinduan terhadap orang-orang yang telah ditinggalkannya.

“Maafkan aku,” kataku, “tapi, sekali lagi kamu harus dengarkan penjelasanku.”

Dia mendesah. Meremas-remas rambutnya. Mengatur napasnya. Sedikit mereda dendamnya.

Kuceritakan kronologis peristiwa yang terjadi tiga tahun lalu. Saat itu, kami bersahabat dekat. Begitu dekatnya, melebihi kedekatan dengan saudara sendiri. Kami selalu satu sekolah, satu kelas, bahkan satu bangku. Hingga kuliah pun kami selalu bersama. Lulus kuliah, kami bekerja, tetapi di tempat yang berbeda, pada bidang yang berbeda pula. Perpisahan terjadi, saat kami ditugaskan oleh kantor masing-masing di kota yang berbeda. Kami berjauhan, terpisah oleh jarak dan kesibukan pekerjaan. Beberapa tahun berlalu, sesekali saja kami berkomunikasi, tak lagi intens seperti dulu.

Ketika kuliah, aku menjalin hubungan dengan seorang gadis, teman kuliah. Sahabatku itu sudah tahu. Namun, tak berlangsung lama hubungan kami. Kami mengakhirinya dengan baik-baik. Hubungan pertemanan pun tetap baik. Kami mulai hilang kontak setelah aku bekerja dan mantan kekasihku meneruskan S.2 di luar negeri.

Aku mengetahui jika sahabatku menjalin hubungan dengan gadis mantan tambatan hatiku itu. Aku pun ikut senang dan merestui hubungan mereka. Sekembali gadis itu dari luar negeri, mereka bertunangan. Aku menyaksikan pertunangan itu. Aku bahkan sangat berbahagia.

Selesai pertunangan, aku dan sahabatku kembali disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Sementara mantan kekasih yang telah menjadi tunangan sahabatku memilih terjun dalam bisnis properti orang tuanya. Kami bertiga tenggelam dalam dunia masing-masing.

Waktu berlalu. Aku masih sering menerima telepon dari tunangan sahabatku. Sejujurnya aku berusaha untuk membatasi diri, tetapi selalu saja dia menghubungiku. Dia mengungkapkan bahwa sebetulnya dia berada dalam kebimbangan. Dia tak sepenuhnya mencintai calon suaminya, salah satu penyebabnya adalah ketidakharmonisan hubungan mereka akibat tak ada lagi perhatian sahabatku kepadanya. Sahabatku betul-betul mabuk dengan kesibukannya, sehingga tak mempedulikan lagi calon istrinya. Bahkan kemudian mencampakkannya.

Mantan kekasihku ternyata masih menaruh harapan padaku. Aku tak menanggapinya, karena khawatir akan menimbulkan masalah, terutama dengan sahabatku. Namun, semakin sering dia menghubungiku dan mengungkapkan kegundahgulananya, mengundang simpatiku. Meluluhkan kekokohan pendirianku. Aku terbelenggu dalam kepelikan benih-benih lingkaran cinta segitiga yang digulirkan gadis yang pernah singgah di hatiku itu.

“Tapi tidak ada hubungan apa-apa di antara kami,” ujarku meyakinkan sahabatku.

“Ah,” kilahnya, geram, “mana ada pencuri mengaku.”

“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, saat ini dia betul-betul membutuhkanmu.”

“Untuk apa?”

Kutatap matanya. Dia berusaha menghindar tatapanku. Kurengkuh bajunya, dia diam saja. Lalu tangannya mengibas tanganku.

“Kamu tahu tidak,” aku geregetan, “calon istrimu sekarang bagaimana?”

Dia tersentak, tapi sikapnya tetap dingin. Aku mulai panas.

“Dia terbaring lemah di rumah sakit,” kataku emosi.

Dia kembali tersentak, menatapku tajam. Terbaca olehku tatapan matanya, mulai meluluh kebekuan sikapnya.

“Semenjak kamu meninggalkan dia tanpa kepastian, dia syok, hingga kemudian…” sejenak kupotong ceritaku, “ya… pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa dia ke rumah sakit jiwa.”

Spontan dia bersuara keras, “Apa maksudmu?!”

Kupelototi dia, “Calon istrimu gila gara-gara kamu!”

Dia kelimpungan. Sesaat kemudian matanya berkaca-kaca.

“Ibumu yang menyuruhku untuk menemuimu. Beliau cari-cari catatan alamatmu. Beruntung ketemu,” aku menjelaskan, “nomor kamu dihubungi susah sekali.”

“Aku memang sengaja ganti nomor.”

Kulihat air matanya berlinang. Jemarinya mengepal menahan kekesalannya.
***

Saat itu juga, aku dan sahabatku bergegas kembali ke daerah asal kami. Tempat yang kami tuju adalah rumah sakit jiwa tempat gadis calon istri sahabatku dirawat. Sesampainya, kami melihat gadis itu sedang duduk termenung di sudut taman di depan kamar perawatannya. Kami hampiri dia.

Melihat kedatangan kami, gadis itu ketakutan, bersiap-siap pergi. Namun, sahabatku mencegahnya. Gadis itu memberontak. Sikapnya beringasan.

“Ini aku, Sayang,” ucap sahabatku, sambil berusaha menguasai calon istrinya.

Namun, gadis itu makin memberontak, meradang. Kemudian lari meninggalkan kami, sambil berteriak-teriak ketakutan.

Tangis sahabatku lepas. Kubiarkan. Mataku juga basah. Lalu kurangkul sahabatku.

“Maafkan aku. Semua ini salahku,” sesal sahabatku, parau suaranya.

Kami berangkulan. Membiarkan tangis mengharu biru. Menyesali dan meratapi guratan nasib yang melingkupi kami. Guratan kelam di batas cerita. ***

Keterangan:
Cerpen “Guratan Kelam di Batas Cerita”, dimuat di Harian Rakyat Sultra edisi Sabtu (10/12).

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*