Karena Menulis Adalah Perjuangan

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong dan AGUPENA Prov. Papua Barat)

Kalimat ini saya dengar dari Asma Nadia. Semua orang punya kesulitan berbeda. Jikalau saja menulis itu mudah, maka melimpahruahlah tulisan. Hanya saja, selalu tulisan menjadi barang langka. Tulisan yang bermutu dan berkualitas, lebih langka lagi.

Tantangan demi tantangan dialami seorang penulis. Menaklukkan tantangan itu sebuah urusan tersendiri. Katakanlah soal listrik. Sepanjang Kamis (7/12 2016) listrik padam di kota Sorong sejak usai dhuhur. Saat mengetik itulah berhenti sama sekali. Aliran listrik yang terputus, tidak ada cadangan listrik di UPS. Akhirnya tidak ada sama sekali aktivitas menulis. Padahal, secara pribadi punya janji tersendiri hari itu. Sebuah abstrak harus dikirim. Akhirnya tertunda menunggu keesokan harinya.

Itu perjuangan. Untuk mempertahankan mood dan spirit sampai esok hari untuk menjaga ritme menulis. Begitu juga dengan soal ketersediaan bahan-bahan referensi. Juga sebuah perjuangan untuk mengumpulkannya. Langganan jurnal tidaklah murah. Sementara itu juga sebuah kebutuhan dasar. Walau tersedia akses yang dibuat para peretas. Beberapa kawan memilih menggunakannya. Akhirnya pintu darurat digunakan. Meminta bantuan kawan yang sementara menempuh studi di luar negeri.

Belum lagi ketika menulis kekeringan ide. Menulis menjadi buntu. Tak ada yang bisa ditulis. Tidak sedikitpun. Bahkan mandeg sama sekali. Kata seorang kawan “menulis itu murah, hal yang mahal adalah proses menemukan ide”. Meraih ide itulah yang perjuangan. Ketika menulis merupakan aktivitas yang berada di hilir. Bagian hulunya adalah menggali ide kemudian menggulirkannya.

Usai menulis belum berhenti sampai di situ. Arti menulis tidak akan bermakna sama sekali kalau hanya disimpan dalam file saja. Tidak terbaca oleh orang lain. Proses sekanjutnya tetap perjuangan. Meneruskan ke penerbit. Paling tidak mengunggahnya ke laman web. Saat itulah dukungan percetakan atau jaringan internet diperlukan.

Dua hal lain yang juga butuh perjuangan adalah memastikan tulisan itu kredibel dan sahih. Kredibel dalam arti data atau informasi yang disampaikan tidak mengandung kesalahan sedikitpun. Sementara sahih juga berarti bahwa sumber data yang dipakai adalah sumber yang tepat dan juga terpercaya. Lagi-lagi perjuangan.

Akhirnya, perjuangan yang tidak kalah beratnya adalah merawat semangat. Mungkin hari ini produktif. Di lain hari tanpa karya sama sekali. Awal mulanya seperti air bah yang membanjiri. Setelahnya tidak ada sama sekali. Kesulitan demi kesulitan akan terjadi. Saat kesulitan melanda, perjuangan dibutuhkan untuk tetap meniti jalur kepenulisan. Saat yang sama menyingkirkan kesulitan itu, juga berusaha untuk tetap konsisten untuk terus berkarya. Hanya karena adanya semangat itulah kemudian karya demi karya akan tetap lahir. Wallahu a’lam bi al-shawab. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top