“Di ATAS REALITAS YANG ALAMI, KITA DIDIK ANAK KITA DENGAN PENDIDIKAN YANG ISLAMI”

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Ainun Zaujah
(Dosen Sosiologi Fisip Universitas Dayanu Ikhsanuddin kota Baubau)

Tulisan ini, saya mulai dengan mengutip pertanyaan seorang ibu pada Bapak Drs.Adriano rusfi,Psi pembicara utama di komunitas HEbAT. Berikut pertanyaannya:

“Pak, anak saya sering pulang ke rumah membawa ucapan-ucapan kotor dari teman-temannya. Bagamana cara memisahkan anak saya dari teman-teman semacam itu?”
Berikut jawaban pak Adriano: “Memisahkan anak dari teman-temannya tak menjawab persoalan. Andai kita punya anak dengan ego yang kuat, tentulah sang anak tak terpengaruh, tapi bahkan mempengaruhi (influencer)”

Lalu saya tercenung sendiri. Bagaimana mungkin menghasilkan anak berego kuat, mempengaruhi dan tak terpengaruh, jika ayah absen dalam pendidikan anak-anaknya ? Bukankah ayah adalah sang ego? (Adriano rusfi).

Berdasarkan cuplikan pertanyaan dan jawaban di atas, sayapun terinspirasi untuk membuat catatan sederhana ini. Semoga bermanfaat bagi semua orangtua yang membacanya. Awalnya saya ingin melindungi anak-anakku dari lingkungan yang buruk dengan cara menjaganya di dalam rumah. Melindunginya dengan dinding tinggi di rumah kami, pagar yang selalu terkunci sembari mengajarkan adab-adab islam untuk tumbuh-kembangnya.
Tetapi, ketika anak pertamaku LM.Faiz Ramadhan berusia 4 tahun dan memiliki adik yang baru lahir (Wd.Qonitah Salsabila), ternyata kebutuhan faiz untuk mengeksplorasi dunia yang penuh teka-teki, alam semesta yang menghijau tak dapat kuhentikan, tak dapat kubendung. Faiz selalu ingin bermain di luar rumah, sementara lingkungan pergaulan di tempat tinggal kami sangat menghawatirkan. Anak-anak terbiasa memaki, mengumpat, menghina, dan memukul.

Kesibukanku mengurus adik faiz, membuat faiz selalu ingin bermain di luar rumah. Saya pikir semua ibu tahu bagaimana repotnya mengurus seorang bayi. Segala kesenangan hidup teralihkan dan focus kita pada sang bayi. Kesibukan mempersiapkan menu bergizi untuk asupan ASI, menjaga bayi agar tidurnya nyaman, dengan celana yang sering basah karena pipis, baju yang kadang terkena cipratan pipis, belum aktivitas memasak, mencuci pakaian bayi mengingat tak memiliki asisten rumah tangga, jadwal suami yang tak menentu untuk selalu stand bye di rumah, karena aktivitas jaga pagi, siang, malam di Rumah Sakit dalam melaksanakan amanah profesi sebagai seorang perawat.

Faizpun lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman di lingkungan sepermainannya. Saya sering mendengar faiz mengucapkan kosa-kata baru yang asing di telingaku, kosa-kata yang menyakiti telingaku, karena faiz mulai meniru bahasa teman-temannya. Saya tak pernah bosan mengingatkan, menegurnya, menasehatinya. Meski harus saya ulangi sepanjang hari, sepanjang waktu, setiap momen-momen bersama faiz. Saya tak pernah letih untuk mengingatkan faiz tentang “boleh” dan “tidak boleh”.

Saya teringat perkataan pak Adriano yang dikutipnya dari surat Asy syams ayat 8, bahwa Allah mengilhamkan kepada setiap jiwa dua jalan. Jalan kebaikan dan jalan dosa. Keduanya jika dilalui oleh seorang anak, akan memberikan pelajaran dan hikmah tersendiri bagi kematangan dan kedewasaan anak. Dan…dua jalan tersebut sudah dilalui faizku. Ketika usianya 5-8 tahun saya banyak menangis karena faiz tumbuh bersama bahasa-bahasa kotor anak-anak di sekitar rumah kami. Saya selalu berdoa pada Allah SWT untuk mengembalikan fitrah faizku pada keadaannya semula. Ketika usianya memasuki 8 tahun 1 bulan, faiz kembali mejadi anak yang baik, anak yang menjaga lisan, sudah bisa membedakan ini baik dan buruk, bahkan sering berbagi cerita tentang teman-temannya yang suka berkata-kata kotor, teman-temannya yang sering mengambil mangga tetangga sebelah tanpa minta izin terlebih dahulu, faiz juga mengamati anak-anak muda yang tinggal di lingkungan kami yang suka nongkrong dan begadang, merokok, pacaran dan minum minuman keras. Faiz menyampaikan hal itu dengan sangat dewasa. “ Tidak boleh melakukan semua itu kan umi”? begitu faiz berucap padaku.

Dalam hati saya tersenyum dan berucap syukur, karena masa-masa kritis 5-8 tahun sudah kami lalui sebagai orangtua dalam mendampingi tumbuh-kembang faiz.

Kini, faiz semakin mandiri dalam hal mencari sumber-sumber makanan yang tersedia di alam semesta. Faiz mulai berpikir untuk mencari uang. Sayapun tak menghentikan tekadnya, sebagai bekal kemandirian untuknya. Faiz beberapa kali pulang ke rumah membawakan saya uang, kadang Rp.2000, pernah Rp.5.000, pernah Rp.10.000, pernah Rp.50.000. Ketika kutanya, beragam jawaban faiz. “Tadi, habis bantu tetangga angkat barangnya umi” atau “ itu hadiah ulangtahunku dari nenek, atau “tadi habis jual asam ke tempat penampungan asam”.
Faiz juga mulai belajar memancing dan memanah ikan. Aktivitas tersebut dilakukannya sejak bulan Desember 2016.

Perubahan faiz menjadi anak yang mandiri, tidak terlepas dari peran suami dalam menjalankan perannya sebagai sang raja tega, sumber ego bagi faiz. Peran suami dalam pendidikan anak, sangat signifikan dalam membentuk faiz menjadi pribadi yang memberi pengaruh kebaikan bagi teman-temannya saat ini. Faiz selalu meminta saya untuk menceritakan keindahan surga, kepahlawanan-kepahlawanan dalam Islam, Akhlak nabi Muhammad SAW ketika sesekali saya menemani faiz bermain di lingkungan kami. Faiz menjadi leader bagi teman-teman sepermainannya.

Kini saya paham, betapa peran ayah dalam membentuk Ego seorang anak sangat penting. Ayah sebagai sang raja tega harus hadir dalam kehidupan seorang anak.

Setelah mengikuti pelatihan bersama pembicara utama komunitas HEbAT pak Harry santosa tanggal 18 Agustur 2016 di Villa Nirwana Beach kota Baubau tentang pendidikan berbasis fitrah dan pelatihan bersama Drs.Adriano rusfi,Psi tanggal 5 Desember 2016 di Baruga La Ode Malim Unidayan Baubau tentang mempersiapkan generasi aqil baligh, saya dan suami bisa menyatukan persepsi tentang pola asuh anak, memahami bahwa begitu banyak fitrah yang telah terinstal di dalam diri setiap anak yang lahir ke dunia ini. Fitrah tersebut antara lain fitrah keimanan, fitrah nalar dan belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas dll. Semua fitrah tersebut telah diinstal oleh Allah SWT, dan tugas kita sebagai orangtua adalah melakukan activasi terhadap fitrah-fitrah tersebut.

Karenanya, leadership seorang anak bisa dimulai sejak usia dini dengan yang paling sederhana, misalnya memelihara hewan dan tumbuhan. Rasulullah SAW menggembala kambing ketika usia dini (0-6 tahun) di Bani Sadiah. Setelah itu usia 7-10 tahun mulai libatkan dalam project-project sederhana di rumah. Usia 11-14 tahun mulai antarkan ke Maestro atau pakar/maestro yang sesuai bakatnya untuk magang. Rasulullah SAW mulai magang bersama pamannya di usia 11-12 tahun.

Di usia ini, menitipkan anak pd keluarga sholehah (homestay) atau Murobby (pendamping akhlak) juga penting untuk menularkan keteladanan dan keshalihan. Ini adalah ilmu yang kami peroleh dari konsep pendidikan berbasis fitrah bersama komunitas HEbAT.

Jadi, menyembunyikan anak-anak kita di balik dinding rumah-rumah kita, bukanlah solusi yang tepat, tetapi menghadapkan anak pada realitas dan membekalinya dengan ego yang diperoleh dari kelekatan seorang anak dengan ayahnya. Maka, Ayah tidak boleh abai dalam pendidikan anak. Agar anak bisa berkata “tidak” ketika teman-temannya, ketika in-groupnya, ketika ganknya berkata” ayo bro, rokok yuk, minum BIR yuk, Makai narkoba yuk”. Karena peran ayah hadir dalam kehidupannya. Anak berani berkata tidak pada ajakan-ajakan negative teman-temannya. Maka kaidah dalam pendidikan anak menurut pak Adriano adalah “di atas realitas yang alami kita didik anak kita dengan pendidikan yang islami”.

Baubau, 20 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top