BUDAYA BACA-TULIS DAN MASA DEPAN BANGSA

Rubrik Opini Oleh

Munawir AM, M.Si. (Sekretaris I AGUPENA Pusat)

Pendahuluan
Membaca merupakan gerbang pengetahuan yang paling utama. Semua aktiftas ilmiah dimulai dari membaca. Baik membaca yang tersurat, tersirat, maupun membaca yang tercipta. Terlepas dari berbagai definisi membaca dari para ahli, yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kegiatan membaca yang tersurat, sebagai langkah awal proses paket pembelajaran manusia. Pada yang tersurat ada makna/ pesan tersirat yang harus dipahami. Dari memahami makna dan pesan tersirat itu kemudian lahir kesadaran untuk merenungi dan menjelajahi (meneliti) yang tecipta di alam raya. Selanjutnya, membaca melahirkan pengetahuan baru dan rekayasa teknologi. Implementasi ilmu penegtahuan dan teknologi itulah yang kemudian melahirkan peradaban dunia baru. Fakta empiris itulah yang dialami umat islam di masa lalu, bahkan hingga mencapai puncak kejayaannya. Kini, dapatkah mimpi indah itu kembali menjadi nyata? Jawabannya, semua tergantung kita (dengan izin Allah Swt).

Dalam perspektif Islam, membaca menjadi kegiatan yang paling pertama diperintahkan. Sebelum Allah Swt mewahyukan perintah-perintah lain, termasuk perintah untuk menyembah-Nya, Dia sudah perintahkan Nabi-Nya untuk membaca, iqra’ (bacalah). Itulah wahyu yang pertama diturunkan (menurut mayoritas ulama). Bagaimana bisa seorang hamba menyembah Tuhannya, sebelum mengetahui siapa Tuhan yang harus disembah? Mengenal eksistensi Tuhan adalah hasil dari sebuah proses pencarian. Begitupula obyek lain, tidak akan kita kenali tanpa “membacanya”. Ringkasnya, tanpa membaca, kita tidak akan mengenal apa-apa.

Pada kenyataannya, membaca justru menjadi budaya langka di negeri kita. Jangankan masyarakat yang profesinya tidak terkait langsung dengan tuntutan membaca (seperti tukang ojek, karyawan pabrik, dan sejenisnya), sedangkan pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen pun jarang yang memiliki hobi membaca. Pembaca artikel ini mungkin merupakan pengecualian. Pelajar dan mahasiswa pada umumnya terpaksa harus membaca buku ketika berhadapan dengan ujian. Guru dan dosen, terpaksa harus membaca untuk menulis jika dihadapkan dengan kenaikan pangkat.

Lebih parah lagi, tantangan dan konsekuensi profesi yang seharusnya dihadapi dengan gentle, seperti menulis skripsi, tesis, desertasi, dan sejenisnya, justru sering  direspon dengan dingin karena banyak cara yang dapat ditempuh untuk memenuhi tuntutan tersebut tanpa membaca. Cara-cara istan banyak ditawarkan dengan harga murah. Jasa pengetikan yang merangkap calo penulisan karya ilmiah bertebaran di mana-mana. Tugas-tugas kuliah hingga tugas akhir berupa karya ilmiah di ujung perkuliahan pun dikerjakan calo. Setelah lulus, siapa sebenarnya yang lebih berhak menyandang gelar sarjana, master, dan doktor?

Terkait dengan pentingnya membaca, Prof. Mulyadhi  Kartanegara dalam Tradsi Ilmiah Islam (2005), menyebutkan dua fakta; 1) membaca merupakan tradisi islam yang hampir punah, 2) membaca  terkait dengan maju mundurnya sebuah bangsa.

Tradisi Islam Yang Hampir Punah
Banyaknya warisan ilmiah karya umat islam di masa lalu di berbagai perpustakaan merupakan bukti nyata betapa dahsyatnya etos belajar dan berkarya pada diri umat islam kala itu. Dengan mengenang warisan mereka, diharapkan kita dapat membangun rasa percaya diri untuk berbuat seperti mereka. Jika dulu, dengan segala keterbatasan teknologi dan sarana, umat islam mampu melahirkan begitu banyak maha karya yang monumental di bidang tulis-menulis, maka hari ini dan esok, kita juga pasti mampu.

Dulu, umat Islam harus mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk mendapatkan sebuah hadits, namun mereka begitu produktif. Kini, hanya dengan menggerakkan jemari kita di atas laptop sambil menyeruput kopi di kamar sendiri, puluhan bahkan ratusan hadits dapat kita dapatkan, lengkap dengan komentar para pakar. Begitu pula informasi terkini yang terjadi di tempat yang jauh, dapat dilihat secara real time bahkan live. Namun kenyataannya kita tetap tidak punya karya, alias mandul.  Sekedar ilustrasi tentang betapa dahsayatnya semangat umat islam di masa lalu dalam membangun peradaban melalui literasi, kita bisa lihat beberapa contoh.

Al-Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833 M) adalah salah satu contoh yang cukup inspiratif bagi umat di zaman ini. Terlepas dari godaan teologi muktazilah dan liberal yang mendominasi pemikirannya, dia adalah pemimpin yang gila ilmu dan cukup besar perannya dalam membangun peradaban dunia.

Cukup banyak harta negara yang dibelanjakan di sektor pengembangan ilmu pengetahuan. Para penerjemah profesional dari berbagai displin ilmu, disewa dengan harga layak, untuk menerjemahkan berbagai disiplin ilmu, dari berbagai bahasa, ke bahasa Arab. Bahkan tidak semua mereka beragama islam. Hunain bin Ishaq adalah salah seorng ilmuwan Nasrani yang disewa Al-Makmun untuk menerjemahkan buku-buku Plato dan Aristoteles.

Dampaknya, Darul Hikmah menjadi perpustakaan, dan pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan menjadi perguruan tinggi pertama di dunia. Sebagai perpustakaan, Darul Hikmah dipenuhi dengan ribuan buku ilmu pengetahuan. Inilah bentuk dukungan penguasa dalam mengembangkan budaya baca-tulis pada masa silam. Wajar, jika umat islam kala itu menjadi umat terdepan dan maju, karena baca-tulis menjadi tradisi. Bahkan, ulama islam menjadi pembawa lentara peradaban ke segala penjuru dunia. Terang benderanglah dunia, Barat dan Timur. Umat islam menjadi panutan dalam hal ilmu pengertahuan. Berbagai warisan di bumi Spanyol yang ada hingga saat ini, cukup menjadi saksi bahwa umat islam pernah berjaya di sana dalam kurun waktu hampir delapan abad.

Dukungan pemerintah secara formal dan massif tersebut akhirnya melahirkan sebuah tradisi baru di bidang keilmuan. Setiap individu dalam masyarakat islam terjangkiti semangat belajar. Tidak lama kemudian terlahirlah pakar-pakar di berbagai bidang keilmuan, seperti matematika, fisika, kimia, filsafat, kedokteran, dan lain-lain (dulu mereka semua disebut ulama). Sebagai inspirasi, pada tulisan ini dikemukakan dua contoh ilmuwan muslim.

Di bidang filsafat dan kedokteran, kita mengenal Ibnu Sina (980-1037). Di dunia Barat dikenal dengan Avicenna. Di samping sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter, ia adalah seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan. Dunia mengenalnya sebagai “Bapak Pengobatan Modern”. Salah satu karya monumental-nya di bidang kedokteran adalah al-Qanun fi ath- Thib yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad. Karya lain di antaranya adalah Asy Syifa (18 jilid), An Najat, dan Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur). Menurut salah satu sumber, Ibnu Sina menulis tidak kurang dari 450 judul buku di berbagai bidang keilmuan.

Dalam bidang filsafat, ada sebuah karya Ibnu Sina yang kurang populer, tetapi sangat insiratif, yaitu al-Inshaf, kitab yang memuat 28.000 masalah filsafat. Jika diasumsikan satu masalah filsafat dituangkan dalam satu halaman saja, maka al-inshaf adalah kitab setebal 28.000 halaman. Dahsyatnya lagi, konon kitab setebal itu ditulis dalam kurun waktu enam bulan. Berarti Ibnu Sina menulis lebih dari 155 halaman setiap hari, setidaknya selama menulis kitab al-inshaf.

Dua abad kemudian muncul Ibnu Taimiyah (12631328), seorang pemikir dan ulama Islam dari Harran, Turki. Ia dikenal sebagai ahli lmu keislaman, di samping matematika. Tiap malam ia menulis di bidang tafsir, fiqh, dan ilmu ushul sambil mengomentari para filusuf . Ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) dalam sehari semalam. Karyanya mencapai 500 judul. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah al-Fatawa. Kitab ini terdiri dari 37 jilid, di mana satu jilid tersendiri merupakan daftar isi.

Prestasi ilmiah umat islam begitu gemilang pada abad ke 8 sampai abad 14 M. Bahkan capaian iptek umat islam kala itu jauh melampaui Barat dan Cina. Mulyadhi mengutip stantemen Toby E. Huff dalam The Rise of Early Moder Science yang menggambarkan keemasan peradaban umat islam tersebut; “Dari abad ke-8 hingga akhir abad ke-14, ilmu pengetahuan Arab (Islam) barangkali adalah sains yang paling maju di dunia, yang jauh melampaui Barat dan Cina”.

Mengapa mereka begitu bersemangat dalam berkarya? Faktor utama yang membuat mereka tidak kenal lelah berkarya adalah karena mereka begitu terinspirasi dan tertantang oleh banyaknya ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk berpikir, merenungi, dan mentadabburi ayat-ayat Allah, baik yang tersurat dalam al-Qur’an maupun ayat kauniyah yang terhampar di alam semesa, bahkan dalam diri manusia. Di samping ayat yang secara tegas memerintahkan umat islam untuk membaca dengan kata perintah, Iqra’ (bacalah).

Mereka merasa betapa sempit kesempatan yang diberikan di dunia ini jika dibandingkan dengan tugas dan kewaiban yang diembannya. Sehingga terlahir semboyan al-waajibaat aktsar min al-awqaat (tugas kita jauh lebih banyak dari usia kita). Itulah dorongan intrinsik pada diri umat islam secara individual yang menggambarkan adanya kesadaran penuh akan kewaiban sebagai muslim, yang kemudian mentradisi dan membentuk budaya baru dalam masyarakat muslim. Sementara umat islam saat ini merasa begitu banyak waktu luang, sehingga melahirkan semboyan yang memprihatinkan, seperti “hujan-hujan gini enaknya makan apa ya?”, kalimat yang hanya bisa terlontar dari orang yang merasa bingung menghabiskan waktu. Padahal batas waktu (kematian) itu bisa datang kapan saja.

Secara lebih ilmiah, persentase minat baca bangsa Indonesia secara umum memang amat sangat minim dan memprihatinkan. Berdasarkan data UNESCO, presentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 presen (Suara Pembaruan, Sabtu, 28 Februari 2015). Berarti hanya ada satu orang yang memiliki minat baca, dari 10.000 orang di Indonesia. Sungguh memprihatinkan!

Membaca dan Kemajuan Bangsa
Membaca menjadi pintu gerbang utama untuk menggaet ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah modal utama untuk membangun sebuah bangsa.  Jika Jepang yang wilayahnya hanya seluas pulau sumatera sedangkan penduduknya yang padat (mencapai 100 juta jiwa), dapat menjadi icon negara maju dalam banyak bidang, tidak lain karena adanya tradisi ilmiah dalam masyarakatnya yang berlanjut kepada implementasi IPTEK di dalam kehidupan nyata.  Bahkan mencapai swasembada pangan, mengalahkan Indonesia sebagai negara agraris dalam hal produksi pangan nasional.

Dalam konteks sunnatullah, negeri “tanpa agama” (dalam perspektif muslim) yang memiliki etos belajar tinggi, lebih berhak untuk maju dari pada negeri “muslim” yang pemalas. Masyarakat yang menurut kita tanpa agama tetapi memiliki etos belajar tinggi sejatinya lebih beriman kepada kandungan al-Qur’an dan sekaligus mengamalkannya (meskipun mereka tidak melakukan ritualnya) dari pada  masyarakat muslim yang tidak peduli dengan ilmu, karena itu sama artinya dengan tidak peduli dengan al-Qur’an yang dengan tegas memerintahkan untuk melakukan tadabbur dan penelitian terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan ayat kauniyah (alam semesta).

Kita sering mencibiri mereka dengan pertanyaan, “bukankah kemajuan mereka hanya pada sisi materi, tetapi ruhaninya kering dan moralnya rendah? Sesungguhnya statemen demikian hanya akan membuat umat islam semakin malas belajar dan berkarya, karena merasa sudah lebih layak untuk maju. Padahal yang dapat memecut semangat kita untuk belajar dan berkarya adalah introspeksi dan pertaubatan. Bertaubat dari kemalasan. Tapi taubat itu tidak akan penah ada tanpa introspeksi. Bagaimana orang mau berubah, jika tidak pernah merasa bersalah?

Bukankah iman itu harus ada buktinya? Menerapkan akhlak islami dalam kehidupan sehari-hari adalah bukti adanya iman. Pola hidup bersih, bekerja keras, rajin belajar, adalah akhlak islami. Siapa saja yang berakhlak seperti itu dikatakan lebih islami meskipun mengaku tidak beragama, dari pada orang yang mengaku muslim tetapi pola hidupnya jorok dan pemalas. Bukankah salat kita juga tidak ada maknanya apa-apa jika tidak mampu menjadi benteng bagi kita dari perbuatan keji dan munkar? Nah, begitu pula iman kita, tidak ada nilainya tanpa amal sebagai buktinya, alias mandul.

Intinya, negeri yang masyarakanya rajin belajar dan bekerja serta mengamalkan ilmunya, itulah yang secara sunnatullah lebih berhak untuk maju. Dulu umat islam maju dan mencapai puncak peradaban karena memiliki budaya ilmiah itu, yang mereka temukan dalam al-Qur,an. Bukan karena mereka mengaku muslim.

Penutup
Belajar dari sejarah (mengambil ibrah) merupakan esensi dari belajar sejarah. Sejarah umat islam telah mengajarkan kita banyak hal tentang dinamika kehidupan berbangsa. Mereka mengalami puncak keemasannya setelah berjuang keras mengimplementasikan ajaran Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan nyata. Perintah membaca, mengamati, mentadaburi, dan meneliti semua yang tersurat dan tercipta di alam raya menjadi inspirasi dan dorongan utama dalam upaya menciptakan tradisi baru dalam membangun peradaban. Upaya itu dimuali dengan mentradisikan membaca dalam setiap lorong waktu. Dengan membaca, kita dapatkan segala informasi baru, dengan menulis, kita mengabadikan informasi, pengalaman, dan semua temuan yang kita dapatkan selama proses pembelajaran dan penelitian.  Jika ada bersitan keinginan untuk meraih kembali kejayaan umat islam di masa lampau, jawabannya adalah; kembalikan budaya baca dan tulis (tradisi ilmiah) dalam kehidupan umat islam. Wallahu a’lam. ***

Daftar Pustaka

Badri Yatim, 1993, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Mulyadhi Karta Negara, 2005, Tradisi Ilmiah Islam,  (Draft, sebelum diterbitkan)

kbbi.web.id

https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina

https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Taimiyah

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/26/dunia-islam/khazanah/

http://www.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/16/10/06/oem3h6368-iptek-berbanding-lurus-dengan-kemajuan-bangsa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top