Ekspresi Cinta Nabi dalam Peringatan Maulid

Rubrik Opini Oleh

Munawir AM, M.Si. (Sekretaris I AGUPENA Pusat)

Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati dan dirayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan di negeri kita Maulid Nabi menjadi momentum nasional yang dihormati dengan tanggal merah (libur) sebagai hari libur nasional, seperti juga 25 Desember sebagai Hari Natal.

Patut disyukuri juga, bahwa ceremonial peringatan maulid Nabi di Indonesia, kini tidak lagi menjadi sarana pertengkaran di antara sesama umat Islam yang pro dan kontra, terutama dua organisasi Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah. Semoga hal tersebut menjadi salah satu tanda kedewasaan umat Islam dalam merespon perbedaan. Karena memang masih banyak tugas kita yang lebih penting dari pada membuang waktu untuk mempertentangkan perbedaan. Perbedaan dan keragaman adalah sunatullah yang hanya butuh disikapi dengan arif, bukan diseragamkan.

Motivasi Perayan Maulid Nabi Muhammad SAW
Di negeri kita, perayaan maulid Nabi diselenggarakan dengan beraneka ragam cara. Dari yang paling sederhana hingga yang paling wah. Dari sekedar tausiyah singkat ampai tabligh akbar dengan rangkaian pekan lomba serta penampilan-penampilan artis ibu kota. Tetapi satu hal yang menyamakan di antara keragaman itu adalah motivasi penyelenggaraannya. Pada umumnya, alasan dan motivasi utama umat Islam menyelenggarakan peringatan maulid Nabi adalah untuk mengekspresikan kecintaan mereka kepada Sang Nabi. Kalaupun kenyataannya motivasi dan niat tersembunyi mereka menjadi beragam, itu persoalan lain. Penyimpangan dari niat semula itu hal yang biasa terjadi dalam beramal. Itulah perlunya “meluruskan niat”.

Dalam rangka memberikan nuansa cinta Nabi, rangkaian acara yang tidak pernah terlewat adalah  salawat Nabi dengan berbagai model dan cara. Dari sekedar pembacaan salawat Nabi hingga pembacaan rawi secara panjang lebar. Tema-tema tausiyah dalam acara tersebut biasanya juga mengarah kepada bagaimana megingatkan dan menghadirkan kembali sosok sang Nabi. Ada yang menceritakan kembali sejarah Nabi pada masa hidupnya, ada yang mengaitkan dengan masalah kontekstual saat ini, dan lain-lain.

Bukti Cinta yang Sebenarnya
Membaca salawat untuk baginda Nabi jelas diperintahkan dan merupakan bagian dari bentuk kecintaan kepada baliau. Menguraikan kisah hidup Nabi untuk mengingatkan umat Islam akan peri kehidupan yang dijalani oleh manusia pilihan itu juga bagus dan bermanfaat. Tetapi bukti yang tidak boleh kita lupakan utnuk mengekspresikan cinta kita kepada Nabi adalah dengan menghidupkan sunahnya dalam kehidupan nyata. Menghidupkan sunah bukan dalam arti mengerjakan amalan-amalan yang berhukum sunah dalam perspektif fiqh, tetapi meneladani semua perilaku beliau dalam segala aspeknya. Karena dalam segala aspek kehidupan, Nabi Muahammad Saw adalah teladan terbaik.

Sebagai seorang ayah bagi anak-anak, Nabi Muhammad SAW adalah profil ayah terbaik. Meski dalam teorinya membolehkankan orang tua memukul anaknya sebagai bagian dari hukuman dalam mendidik, tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Beliau sangat mencintai anak-anak beliau tanpa membeda-bedakan. Bagaimana kita?

Atas nama cinta kepada Nabi Muhammad SAW, tidak ada alasan bagi kita untuk berlaku kasar kepada anak-anak. Perilaku kasar kita akan lebih mudah diteladani oleh anak-anak kita dari pada ketika kita berlaku lemah lembut. Apalagi jika anak kita tidak pernah melihat kita berlaku santun dan lembut. Anak-anak kita adalah gambaran dari diri kita, meski tidak sepenuhnya. Sekali lagi, atas nama cinta kepada Nabi, mari kita belajar menjadi ayah/ ibu terbaik bagi anak-anak kita. Ayah/ Ibu yang senantiasa dirindukan oleh mereka, seperti Nabi Saw.

Sebagai seorang suami bagi istri-istrinya, Nabi adalah suami terbaik. Nabi telah memberikan contoh bagaimana berlaku adil kepada para istri, baik yang muda belia ataupun yang tua renta. Itulah hal tersulit bagi para suami. Poligami adalah realitas historis bagi Nabi kita, yang mengandung konsekuensi lebih berat dari pada monogami. Oleh karena itu, jika kita bukan pelaku poligami, semestinya kita bisa lebih mudah untuk berlaku adil kepada istri kita yang cuma semata wayang itu.

Berlaku adil bukan hanya persoalan bagi-bagi jatah, apalagi berbagi dengan wanita lain yang bukan istri sah. Na’uzubillaah… Semua perbuatan yang berbau aniaya itu bertentangan dengan prinsip keadilan. Satu orang istri yang diabaikan hak-haknya, adalah bentuk konkrit dari ketidakadilan seorang suami. Atas nama cinta kepada Nabi, mari kita terus belajar berlaku adil kepada istri dan menjadi suami terbaik.

Sebagai seorang pemimpin, Nabi kita adalah pemimpin terbaik. Apresiasi Michael Hart yang memposisikan beliau di urutan pertama dari 100 tokoh berpengaruh sejagad hanya satu bukti adanya pengakuan dari kalangan luar. Pada masa kepemimpinan beliau, umat lain yang berada di Madinah pun merasakan keadilan, kebijaksanaan, dan toleransi dari perilaku beliau. Beliau telah menunjukkan bagaimana etika memimpin yang ideal, dari memimpin segelintir umat hingga memimpin umat sejagad dari Madinah.

Dengan kecerdasannya, beliau lebih memilih pola hidup bersahaja. Bukan karena tidak bisa kaya, tetapi untuk menunjukkan contoh nyata bagaimana sikap zuhud terhadap gemerlap dunia, sehingga umat ini mudah memahami konsep zuhud dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Uniknya, Nabi bukan hanya menjadi contoh bagaimana menjalani hidup tanpa gemerlap harta, tetapi sekaligus menjadi teladan bagi orang kaya bagaimana membelanjakan harta. Dari sisi ketiadaan harta yang meliputi kehidupan rumahtangganya, Nabi Muhammad SAW adalah seorang warga  “miskin” yang bermartabat, tetapi dari sisi kuantitas sedekahnya, beliau adalah orang kaya, karena faaqidusyai` laa yu’thi (orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat berbagi), sedangkan beliau banyak disebut sebagai orang yang paling dermawan oleh masyarakat di sekitarnya.

Dengan demikian, yang miskin dan yang kaya tidak kehilangan contoh nyata bagaimana menjalani kehidupannya untuk menjadi yang terbaik.  Atas nama cinta, mari kita belajar menjadi zahid yang dermawan, baik kaya maupun miskin. Bersedekah dan berderma dalam kondisi apapun.

Sebagai tetangga, Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bagaimana menjadi tetangga yang baik bagi lingkungannya. Menganjurkan banyak hal tentang bagaimana menjadi tetangga yang baik, dari cara bekerja sama hingga kepada persoalan berbagai makanan. Begitu banyak wahyu turun kepada beliau terkait dengan masalah tetangga, hingga beliau bersabda bahwa Jibril terus-terusan memberi wasiat agar beliau berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai beliau menyangka kalau tetangga itu akan menjadi ahli waris. Terbayang bagaimana baik dan santunnya Nabi dalam memperlakukan tetangga di sekitar beliau. Atas nama cinta, mari kita belajar menjadi tetangga yang baik!

Ringkasnya, peringatan maulid Nabi yang kita rayakan dengan niat menghidupkan sunah-sunahnya, harus berlanjut kepada karya nyata dalam kehidupan kita sehari-hari yang mencerminkan akhlak Nabi Muhammad SAW., karena itulah ekspresi cinta kepada Nabi yang paling nyata. Contoh-contoh nyata perilaku mulia Nabi di atas hanyalah sepercik mutiara dari Sang Qudwah terbaik yang harus kita teladani, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt; Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3:31). Mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah satu paket yang padu dan tidak bisa dipisahkan. ***

 Wallahu A’lam…

Tags:

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*