Dunia Kepenulisan dan Sosial Media

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Ariza Fahlaivi
(Jurnalis Website Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
-Pramoedya Ananda Toer-

Menulis adalah kegiatan yang membosankan. Seorang penulis harus duduk menatap layar laptop atau komputer selama berjam-jam untuk sebuah royalti yang tidak besar-besar amat. Menulis adalah kegiatan yang menguji mental. Seorang penulis harus siap jika karyanya tidak diterima di berbagai penerbit. Jerih payah mengumpulkan data, melakukan riset, dan mengolah data yang telah diperoleh, terkadang hanya berakhir di draft komputer penerbit.

Kejenuhan, kebosanan, writers block, kesempitan waktu, dsb, adalah hal-hal lumrah yang biasa hinggap dalam diri seorang penulis. Haruki Murakami, seorang penulis ternama Jepang, harus duduk menatap layar komputer selama 6 jam setiap harinya. Stephen King harus menyingkirkan segala jenis benda yang mampu mengusik konsentrasinya dari kamar; televisi, video game, radio. Stephenie Mayer harus menyelesaikan semua urusan rumahnya sebelum menulis nota kecil di atas kertas untuk seri Twilight-nya.

Rasanya, masih banyak di luar sana yang tetap berusaha untuk menjadi seorang penulis meski menulis bukanlah perkara yang sepele. Mereka tahu menulis adalah kegiatan yang membutuhkan mental keras layaknya baja; tahan banting terhadap setiap penolakan yang akan diterima. Mereka paham betapa mengerikannya ketika naskah hasil kerja keras selama satu tahun, siang dan malam, terjerembab di surat elektronik penerbit yang tak pernah dibalas, namun, tetap saja, mereka tetap menulis.

Semangat para penulis pemula tersebut tak pernah luntur karena mereka sadar bahwa menerbitkan sebuah karya merupakan jaminan untuk sebuah keabadian. Menulis berarti sebuah komitmen agar orang lain bisa belajar dari buku yang ditulis. Supaya dunia ini tak lagi merupakan tempat di mana keputusasaan bersarang. Agar generasi penerus belajar dari kegagalan para pendahulunya sehingga kesalahan yang sama tak perlu lagi terulang.

Di lingkungan saya hidup, saya sangat sedikit berteman dengan seseorang yang mempunyai gairah yang sama dengan saya; menulis. Teman-teman saya lebih memilih bermain sepakbola ataupun futsal daripada harus duduk berjam-jam di depan laptop sembari memikirkan ide yang tak kunjung muncul ketika sedang dicari. Keadaan tersebut membuat saya sedikit frustasi karena saya tidak menemukan seseorang yang bisa diajak untuk berbagi perihal dunia kepenulisan.

Lambat laun saya mulai menemukan hambatan dalam menulis. Saya tak tahu hal-hal apa saja yang seharusnya ada dalam sebuah buku. Kegundahan tersebut menghantarkan saya kepada salah seorang penulis yang aktif di dunia maya. Aplikasi burung biru yang sebelumnya saya gunakan hanya sekedar untuk membicarakan remeh-temeh tentang cinta saya alihfungsikan sebagai media pembelajaran untuk menulis.

Semenjak berteman dengan salah seorang penulis yang sudah menerbitkan sebuah buku dan kebetulan satu almamater, saya kemudian menemukan akun-akun yang sering memberikan tips-tips kepenulisan. Waktu berlalu dan ganjil rasanya jika tidak melihat kicauan dari akun-akun yang saya ikuti, bukan karena takut tidak dianggap eksis, tetapi lebih kepada rasa takut tertinggal dalam mengikuti pelajaran yang diberikan secara cuma-cuma di sosial media tersebut.

Saya mengenal karya-karya para Maestro penulis dunia juga berawal dari sosial media. Bumi Manusia-nya Pak Pram, The Name of The Rose-nya Umberto Eco, A Farewell To Arms-nya Hemingway, dan beberapa buku lainnya yang sudah diakui sebagai sebuah masterpiece oleh dunia literasi. Para penulis dunia tersebut telah berhasil mengabadikan nama mereka di warung-warung kopi, dunia maya, dan forum-forum resmi, bahkan ketika mereka telah tiada.

Rasa penasaran membuat saya menelusuri rekam jejak para penulis dunia tersebut- melalui internet tentunya. Betapa banyak pelajaran yang dapat saya petik dari kisah hidup mereka. Ketika saya frustasi ketika naskah saya ditolak oleh beberapa penerbit, saya lantas membaca kembali kesulitan-kesulitan para penulis sebelum mereka benar-benar menerbitkan sebuah karya. Di sebuah akun yang saya ikuti, saya menemukan kata-kata milik Pramoedya Ananta Toer yang selalu melucut semangat saya ketika saya ingin menyerah, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Nyatanya sosial media tak melulu tentang sebuah basa-basi dan obrolan tidak bermutu. Di dalamnya juga tersemat ilmu-ilmu gratis yang dapat kita serap setiap harinya. Betapa beruntungnya saya ketika mendapatkan ilmu kepenulisan tanpa harus membeli buku dan mengikuti seminar-seminar. Betapa sang burung biru yang senantiasa terbang bebas di dunia maya tersebut telah memberikan sesuatu yang begitu berharga, khususnya saya. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*