Home » Literasi » “OM TULIS OM” » 882 views

“OM TULIS OM”

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Yasser A. Amiruddin (Guru SMA Negeri 1 Maniangpajo/Agupena Kabupaten Wajo)

Fenomena “Om Telolet OM’ menjadi sangat viral di media sosial maupun kehidupan nyata. Bukan saja bagi kalangan anak-anak dan remaja, orang tuapun merasa tidak asing lagi dengan kalimat tersebut.

Meski sudah lama membudaya di kalangan anak-anak Indonesia, namun baru kali ini “Om Telolet Om” berhasil dikenal oleh dunia. Mungkin wabah “Om Telolet Om” ini menyebar akibat komentar diberbagai akun media sosial tokoh-tokoh pesohor dunia. Bahkan dalam akun Twitter President Obama dengan usernama @POTUS menuliskan “I Think, “telolet” is a new weapon from Indonesia, OMG”.

Kenapa dianggap senjata baru? Mungkin karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia yang tidak diketahui pangkal dan ujungnya. “Om Telolet Om” merupakan sebuah fenomena baru dan kritik sosial atas pemberitaan yang disinyalir tidak berimbang.

Dengan demikian, jika “Om Telolet Om” bisa membooming dan viral seperti ini. Mengapa tidak kita viralkan “Om Tulis Om”. Bukankah dengan menulis, dengan sendirinya kita menciptakan keabadian pada diri sendiri?

Kekuatan viral “Om Telolet Om” jika dicermati berasal karena kesederhanaan, terkesan garing dan kampungan, unik, serta original (Cuma ada di Indonesia). Kalau ditarik ke dunia literasi, maka ini akan menjadi cerminan orang Indonesia. Mereka lebih cenderung suka ke hal-hal yang tidak terlalu berat, unik, menghibur, dan visual yang kuat.

Begitupun dengan “Menulis”. Menulis akan lebih mudah jika kita memulainya dengan hal-hal yang sederhana, unik, tidak berat, dan menghibur visual yang kuat. Pencipta tokoh Harry Potter, J. K. Rowling mengatakan bahwa “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”

Penulis kemudian teringat dengan sebuah tulisan seorang siswa yang penulis baca lewat blog pribadinya. Memang, sempat membuat penulis tertawa setelah membacanya, karena siswa tersebut menuliskan perasaannya tentang sosok penulis yang diketahuinya. Namun, patut diapresiasi karena yang bersangkutan telah berani menulis dan diekspos ke dunia maya. Berikut tulisan yang penulis maksud:

Di SMA Negeri 1 Maniangpajo, ada seorang guru yang sangat aku idolakan, semenjak aku duduk dibangku SMP. Dia sering dipanggil dengan sebutan Yasser. Dia adalah sosok seorang guru yang penuh inspirasi. Dia selalu menginspirasi, memotivasi serta menciptakan hal-hal yang baru kepada siswa-siswanya. Dia merupakan salah satu guru berprestasi di SMA Negeri 1 Maniangpajo.

Yasser Arafat, itulah nama lengkapnya. Aku baru mengetahuinya semenjak aku duduk di bangku SMA, karena yang aku tahu hanyalah Yasser Amiruddin, itupun juga hanya melalui akun Facebooknya. Aku sering membuka kronologi facebooknya, karena Ia selalu memosting hal-hal yang bisa kita ambil sisi positifnya. Seperti berita-berita, kata-kata inspirasi maupun motivasi serta foto-foto keren, seperti foto pramuka SMA Negeri 1 Maniangpajo yang diberi nama CSC (Cemara Scout Community) dan foto-foto keren lainnya yang berkaitan dengan SMA Negeri 1 Maniangpajo.

Di SMA Negeri 1 Maniangpajo ia memiliki jabatan sebagai Wakasek Kurikulum. Aku menganggap dia sebagai tulang punggung SMA Negeri 1 Maniangpajo. Bagaimana tidak?, setiap ada kegiatan pasti dialah seorang yang sering sibuk dengan urusan-urusan itu. Itu sih menurut pandangan aku. Dia selalu menciptakan hal-hal yang baru, yang membuat SMA Negeri 1 Maniangpajo lebih maju.

Di samping itu dia juga mengajar di kelas. Dia memiliki cara mengajar yang berbeda dengan guru-guru lain. Ia sedikit menerangkan dan siswa pun mudah mengerti serta banyak praktek. Kadang dia mengajar di kelas dengan membawa anak-anaknya yang imut itu, sebut saja mereka A. Kaltsum dan A. Daffa.

Di SMA Negeri 1 Maniangpajo dia juga pembina pramuka SMA Negeri 1 Maniangpajo yang sering disebut CSC (Cemara Scout Community). Aku bergabung di Ekstrakurikuler pramuka SMA Negeri 1 Maniangpajo. Di Ekskul itu aku mendapatkan pelajaran tambahan darinya yang penuh dengan inspirasi dan motivasi.

Dia adalah sosok guru yang berprestasi, penuh inspirasi dan motivasi dia selalu membagikan ilmu yang ia miliki itu kepada siswa-siswanya. Andaikan saja nanti aku juga bisa menjadi guru. Aku ingin seperti dia yang berprestasi dan selalu menginspirasi. Dan menjadi orang tua yang tidak pernah melupakan dan mengabaikan anak-anaknya meskipun ia sedang sibuk.

Memang sebuah tulisan sederhana. Namun, apresiasi yang tinggi karena siswa tersebut telah menuangkan pikiran apa yang diketahuinya tentang sosok seorang guru sembari bercita-cita akan meneladani gurunya lewat sebuah tulisan. (mudah-mudahan cita-citanya terkabul. Aamiin)

Kalau kita melihat lingkungan sekitar, tanpa disadari, sebenarnya manusia tidak pernah bisa dilepaskan dari tulisan. Setiap saat pasti menemukan tulisan di sekitarnya. Entah itu berupa surat kabar, merk sebuah produk, ataupun aktivitas keseharian kita seperti membaca dan mengirim pesan pendek ataupun update status di media sosial.

Dari fakta-fakta tersebut, terbukti bahwa menulis memang menjadi kebutuhan sehari-hari kita. Namun, kenapa belum seviral fenomena “Om Telolet Om”?. Itu karena sebagian besar dari masyarakat kita (termasuk Guru), menganggap bahwa menulis hanya karena terpaksa, sebab merupakan tuntutan pekerjaan. Padahal meski terpaksa, ternyata mereka juga dapat menulis.

Mungkin kita masih ingat dengan Afi Nihaya Faradisa, seorang peserta didik kelas XII pada salah satu SMA di Banyuwangi. Tulisan-tulisan pada akun facebooknya juga sempat viral, apalagi setelah muncul dalam pemberitaan. Dalam chat langsung penulis dengan Afi pada tanggal 3 Juli 2016 yang lalu, dirinya mengaku banyak belajar dari seorang guru tentang teknologi pikiran. Dari pemikiran kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

Lantas, kenapa kita tidak bisa seperti Afi? Untuk menjadi seorang sarjana, membutuhkan waktu 4 (empat) tahun. Jika mau jadi dokter, harus menambah 2 (dua) tahun koas. Tapi, untuk menjadi seorang penulis, kita cukup memutuskan bahwa hari ini kita adalah seorang penulis.

Dengan memutuskan hal tersebut, akan lebih mudah menviralkan budaya menulis. Menulis adalah media untuk mengembangkan diri, menuangkan ide, memengaruhi orang, dan yang pasti menjadi ladang pahala.Keyakinan yang dalam akan memutuskan kekuatan yang lebih dahsyat.

Mari menulis. “Om Menulis Om” ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*