MENGAWALI TAHUN 2017 DENGAN MENULIS

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Yasser A. Amiruddin
(Guru SMAN 1 Maniangpajo/Agupena Kabupaten Wajo)

Tahun 2016 telah berganti menjadi tahun 2017. Dalam catatan sejarah, tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Menjelang akhir tahun, banyak orang menulis mengenang kejadian-kejadian yang telah didapat selama satu tahun tersebut sekaligus merumuskan, merencanakan berbagai macam hal-hal, resolusi, harapan-harapan yang  diinginkan memasuki lembaran tahun terbaru. Kenangan-kenangan dalam bentuk rekaman peristiwa yang disajikan dalam bentuk teks, gambar, atau video secara singkat seringkali disebut dengan keleidoskop. Selain kaleidoskop, istilah lain yang sering digunakan pada akhir tahun oleh para penulis adalah refleksi yang kemudian sering berlanjut ke istilah lainnya seperti evaluasi, introspeksi, hingga resolusi.

Refleksi akan berisi catatan penting yang telah dilakukan dan apa dampak serta manfaatnya. Sementara, evaluasi biasanya mendeskripsikan penilaian dengan apa yang telah dilakukannya sebagai bahan pembelajaran sekaligus bahan perbaikan dimasa yang akan datang apabila ada kekurangan. Sedangkan introspeksi biasanya cenderung ke personal misalnya mengoreksi perbuatan yang telah dilakukannya agar lebih baik dan bermanfaat lagi. Berbeda dengan tiga istilah diatas yang lebih dominan bercerita tentang masa lalu, maka untuk resolusi adalah pernyataan yang diinginkan untuk masa yang akan datang. Bisanya berisi mimpi, impian atau cita-cita yang diinginkan. Ini berfungsi sebagai penyemangat dan target yang akan dicapai sesuai rencana yang telah dibuat.

Bagi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), tentunya merancang resolusi tidaklah asing lagi. Sejak tahun 2014 setiap ASN sudah dituntut untuk menyusun Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) yang merupakan resolusi kerja seorang ASN untuk satu tahun ke depan. Setiap akhir tahun, SKP yang sudah disusun kemudian diukur untuk mengetahui keberhasilan kerja ASN tersebut. Pengukuran tersebut boleh disamakan dengan keleidoskop.

Lantas, bagaimana keleidoskop 2016 dan resolusi 2017 bagi seorang penulis? Berprofesi sebagai seorang guru tentunya merangkum keleidoskop dan menyusun resolusi tidak jauh dari dunia tulis-menulis. Apalagi, dunia tulis-menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan diri seorang guru.

Penulis kemudian teringat dengan proses yang terjadi selama 366 hari yang terjadi pada tahun 2016 kemarin. Beberapa jam sebelum pergantian tahun, penulis menerima sebuah sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai peserta karya kegiatan Simposium Guru tahun 2015. Dengan bekal tersebut, Simposium Guru tahun 2016 tentunya sudah diprogram di awal tahun 2016.

Tidak hanya itu, rentetan catatan perjalanan dari didikan seorang Guru kepada salah seorang siswanya hingga menuai prestasi sampai tingkat nasional tidak lepas untuk dibukukan. Bukan bermaksud untuk riya sehingga cerita tersebut dibukukan, melainkan untuk menciptakan keabadian dan menuliskan catatan sejarah. Apalagi, didikan tersebut akhirnya dibalas dengan pengkhianatan kepercayaan, pengingkaran janji, dan kebohongan dalam bertutur oleh siswa tersebut.

Kenapa mesti dibukukan? Dari catatan perjalanan tersebut, akan ada hikmah yang harus dipetik sebagai pengalaman dalam bertindak ke depan. Sebuah tulisan bukan hanya tentang eksistensi. Tapi, tentang resonansi kita dengan akhirat. Dengan bekal berbagai tulisan, baik yang berbentuk buku maupun artikel, akhirnya bisa membawa penulis untuk naik golongan per Oktober 2016 yang lalu. Pengalaman dari keleidoskop 2016, kemudian menjadi bahan untuk menyusun resolusi 2017.

Di awal tahun 2017 ini, penulis menulis dengan mengawali menyusun resolusi 2017 sbb:

  1. Menerbitkan minimal 2 (dua) buku tunggal ber-ISBN
  2. Menerbitkan minimal 2 (dua) buku keroyokan ber-ISBN
  3. Menulis minimal 1 artikel dalam 1 bulan dan dimuat dimedia cetak ber-ISSN ataupun pada media online
  4. Kembali mengelola Blog Pribadi
  5. Mengikuti event menulis tingkat nasional
  6. Meluangkan banyak waktu untuk keluarga dan menulis daripada pekerjaan di luar tupoksi
  7. Tidak memasang spanduk/baliho sebagai Cabup, Cagub, Caleg, maupun Capres

Resolusi-resolusi tersebut di atas dibuat sebagai niat dari hati yang paling dalam. Tulisan tersebut bukan sekedar sebagai penghibur hati supaya otak terstimulasi bahwa diri ini sudah menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, poin-poin dalam resolusi tersebut harus membawa diri ini untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai apa yang diinginkan.

Pondasi utama untuk mencapai hal tersebut, tentunya dengan meneguhkan niat dan hati. Jika hati sudah bersungguh-sungguh, segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Bilamana hati sudah bertekad besar, gunung sebesar apapun akan bisa dibelah. Itu bukanlah hal yang mustahil.

Resolusi merupakan tuntutan untuk dikerjakan di tahun 2017. Resolusi tersebut merupakan target satu tahun ke depan supaya menghasilkan dan berguna untuk kehidupan kita. Jika target kita jelas, apa yang akan dilakukan. Maka satu tahun kedepan bukanlah waktu yang singkat untuk merealisasikannya. Namun, jika targetnya tidak jelas, pasti akan merasakan waktu yang lama dalam berproses.

Olehnya itu, mari merefleksi keleidoskop 2016 dan menyusun resolusi 2017 khususnya dalam dunia tulis menulis. Ini catatan kecil saya di awal tahun 2017. Mana catatan Bapak/Ibu? ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top