Menulis Untuk Keabadian

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Prov. Papua Barat

Usai menikmati semangkuk sop ayam kampung di pagi hari, dalam perjalanan pulang di Bengkalis, Prof. Ghamal Zakaria bermurah hati mengantar sampai ke depan penginapan. Ada sedikit waktu untuk berbincang, walau tak lebih dari sepuluh menit. Obrolan kami sepanjang perjalanan tentang bukti kehidupan seseorang. Jika ajal menjemput, maka tidak ada lagi kehidupan. Monumen sementara, hanyalah batu nisan. Di tiang tersebut, akan tercantum nama, tanggal lahir, dan juga tarikh wafat. Tak lebih dari tiga informasi saja. Dalam skala yang lebih luas, seseorang dapat dikenali bukan saja dari batu nisan, melainkan juga karya yang mengabadikan namanya. Salah satunya adalah karya akademik berupa tulisan.

Tidak seorangpun manusia di abad ini yang pernah bertemu Aristoteles, Plato, dan Socrates. Melalui karya-karyanya, kita mewarisi begitu banyak hal dari ketiga sarjana tersebut. Sehingga kita kemudian memiliki kesempatan untuk berinteraksi dalam pikiran-pikirannya untuk membaca kondisi saat ini. Mereka membantu kita untuk memahami konteks yang ada saat ini. Dalam sudut pandang yang berbeda tetapi masih dalam konteks keilmuan.

Mereka menjadi abadi dalam aktivitas keilmuan. Dirujuk, didikaji, kemudian ditelaah kembali. Jika menengok sejenak, maka sesungguhnya tidak perlu ada kekhawatiran untuk terus menulis. Sepanjang dilakukan dengan metode yang tepat, dilalui dengan kerangka yang ilmiah dan alamiah, maka apapun hasilnya tetap perlu dituliskan. Jikalaupun itu adalah kekeliruan, maka akan ada orang lain di generasi berikutnya yang akan mengoreksi. Paling tidak, tulisan pertama tetap akan dirujuk dan dijadikan sebagai pembahasan. Sebuah kesalahan sangatlah manusiawi, justru akan menjadi sebuah referensi supaya tidak melakukan kesalahan yang sama bagi orang lain.

⁠⁠⁠Kekeliruan yang dilakukan seseorang, justru akan menjadi sebuah pelajaran bagi individu yang lain. Sehingga dia tidak perlu terjebak dalam kesalahan yang sama. Dengan demikian, akan mengurangi kesalahan yang berulang. Sebaliknya, justru memberikan kesempatan demi kesempatan untuk terus lebih baik. Ini akan mrnjadi sumbangsih bagi kemanusiaan. Pelajaran akan didapatkan, bahkan dari kesalahan sekalipun.

“Apa bukti bahwa seseorang itu pernah hidup?”. Itu sepenggal pertanyaan yang diajukan oleh guru Prof. Ghamal. Jawaban diantaranya adalah dengan tulisan yang ditinggalkan. Seorang penulis, akan dikenang sepanjang masa melalui tulisan yang diwariskan kepada dunia. Mereka akan terus hidup walau secara bilogis tidak lagi wujud. Dr. Hamzah, Ketua STAIN Sorong menyebutnya dengan umur sosiologis. Tidak berada di dunia lagi, tetapi hidup dalam keseharian berupa ide, pemikiran, dan perbincangan.

Jika di masa lalu, tulisan diabadikan melalui qalam dan kertas. Abad ini, tulisan dengan mudah diabadikan. Buka lagi dengan biaya yang rendah, tetapi bahkan dalam beberapa hal justru gratis dan melimpah ruah. Kesempatan-kesempatan itu justru mempermudah mengabadikan ide dan pemikiran untuk didialogkan dalam pelbagai kesempatan. Sekarang, akan muncul pertanyaan lanjutan “apakah ada kesempatan dengan segala kesibukan yang menumpuk serta aktivitas yang padat?” Itu perlu pembahasan lanjutan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top