Perempuan Kuasa: Kumpulan Cerpen Karya Kurnia Inka

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Seuntai Kata

Alhamdulillah, berkat kemudahan dan kemurahan rahmat dari-Nya, penulis dapat menerbitkan kembali kumpulan cerita pendek yang kelima. Kumcer ini berisikan kisah mozaik kehidupan perempuan sebagai seorang insan, seorang manusia yang memiliki salah dan laba, sebagai pelipur lara. Kisah yang merupakan hasil pantulan, simakan, renungan dan pemikiran. Ya pemikiran. Terkadang dalam kisah penulis harus berpikir. Apakah kisah-kisah ini dapat menjadi renungan atau citra yang bermakna?

Berkaca pada diri sendiri tentang kebahagiaan dan sepi. Sedikit keluar dari zona yang biasanya selalu melingkupi cerita. Belajar merefleksi realita sejati, menilik pernak-pernik kehidupan berdasar pada rasa yang terkunci, cerita-cerita pendek ini terlahir.

Kisah dalam genggaman pembaca merupakan cerita yang sengaja penulis kumpulkan dari selang setahun kemarin pada beberapa media cetak yang terbit di Babel.

Terima kasih penulis nyatakan akan rasa peduli dan apresiasi pada media Bangka Pos, dan Babel Pos yang telah berkenan memuat kisah-kisah ini. Juga penerbit Frame Publishing yang setia mengabadikan langkah diri. Sebagai ungkapan terima kasih kembali, penulis sedikit berimaji menuangkan goresan bagian hati dan dapat ditelusuri nyatanya.

Semoga menjadi teman yang dapat menginspirasi.

Terima kasih.
Penulis

Sungailiat, Maret 2016

 

 

Kumpulan Cerpen: Perempuan Kuasa (Kurnia Inka)
Perempuan Kuasa merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Kurniati yang kelima, dan empat di antaranya diterbitkan Framepublishing. Tiga buku lainnya adalah Daya Kisahku (2013), Aku Ingin Menari (2014), dan Bermain-Main dengan Doa (2015).

Buku sebelumnya  berisi cerita seputar dunia remaja dan segala dinamikanya (jika bukan romantikanya), terutama terkait dengan edukasi/pendidikan karena Kurniati memang mendedikasiaknnya khusus sebagai bacaan SLTP dan SLTA/sederajat, tanpa menutup kemungkinan dibaca oleh segmen lain.

Ada pun dalam buku ini, cerita-cerita Kurniati menanjak ke dunia lebih “dewasa”, lewat karakter tokohnya yang beranjak meninggalkan bangku sekolah, masuk ke bangku kuliah atau terjun ke dunia pengabdian (mengajar, meneliti atau bidang lain). Sementara itu, tokoh-tokoh yang merujuk ke kehidupan yang lebih luas dihadirkan tanpa canggung, misalnya Nek Lampen yang merana di masa tua, atau Pak Tahan yang memang tahan menghadapi cobaan. Nama-nama semacam itu dipungut Kurniati dari realitas yang Melatarbelakanginya sehingga cocok sebagai nama, sekaligus memancarkan karakter yang melekat pada sang tokoh.

Melalui tokoh-tokoh yang kuat karakternya itu, cerita lalu dengan meyakinkan merengkuh banyak dimensi persoalan, dan itu artinya konflik, baik yang meruncing tajam seperti cobaan hidup yang berat sebagaimana dalam cerpen “Pecak Lampen”, maupun sekadar gesekan berupa salah paham semisal dalam “Lepet yang Tertukar” atau hilangnya kesempatan seperti dalam “Selaksa Gerhana”. Namun segala risiko seperti sudah siap ditanggungkan karena memang disadari bahwa keluar dari “zona nyaman” tidaklah mudah. Inilah yang terpancar misalnya dari tokoh Alin dalam cerpen  “Perempuan Kuasa”—yang sekaligus menjadi tajuk buku ini.

Perempuan yang berprofesi sebagai pendidik itu memang telah lama mencoba menapak ranah baru, keluar dari area nyaman seorang “pekerja” yang hanya menunaikan jam kantor. Datang pagi, dan pulang ke rumah pada saat jam pulang kerja. Seperti itu saja setiap hari. Akhir bulan atau awal bulan menerima amplop. Selesai, semua rutinitas. Dan ia tidak ingin hanya seperti itu. Ia ingin memiliki arti yang sama besar dalam kehidupan sebagai seorang manusia. Ia ingin berhasil. Ia merasa memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

Keberanian sikap demikian membawa pesan yang jelas kepada sosok  pengabdi di mana saja supaya tidak membatasi diri berkiprah di ruang kelas. Seorang guru, sebagaimana profesi yang lain, memiliki jangkauan batin dan tanggung jaeab moral yang kuat. Itulah sebabnya, dalam cerita awal “Ketika Pucuk-Pucuk Daun Mulai Layu”, terlihat betapa takutnya tokoh “aku” dihajar resah gelisah melihat anak-anak muda yang seolah hidup “semau gue” di luar padepokan. Apabila “aku” hanya memikirkan pengabdian sebatas padepokan, setelah usai jam pengajaran usai pula tanggung jawabnya, tentu kegelisahan itu tidak akan menyerang. Namun sebaliknya, tokoh “aku” membawa semangat pengabdiannya itu sampai ke luar pagar padepokan, sehingga ketika ia bertemu kenyataan di luar dengan anak-anak padepokan yang ia anggap “liar”, kegelisahan itu tak bisa ditahan. Karena itu, alih-alih memendam sendiri, “aku” berusaha mengajak pengurus padepokan untuk berbicara mencari solusinya. Malang, argumentasinya selalu dipatahkan oleh para senior yang relatif cuek. Konflik batin pun meruyak, dan dalam perjuangan tokoh “aku” yang kandas, Kurniati dengan cerdas menghadirkan lanskap alam sebagai simbol “ranggasnya tunas-tunas muda bangsa” lantaran pemaknaan atas tanggung jawab begitu sempit:

Kulihat lahan pedepokan yang hampir puluhan tahun menghijau, kini terkikis warna lain. Nyaris kusam menggantikan pemandangan, semakin banyak polesan. Pucuk-pucuk mulai meranggas, niscaya meragukan rimbunnya arti sebuah penghijauan.

Kemampuan Kurniati membangun simbol dan metafor kisah, layak dipujikan. Judul “Perempuan Kuasa” itu sendiri merupakan frase yang membalik persepsi umum selama ini tentang (ke-) kuasa (-an) perempuan, baik dalam arti superior maupun inferior, baik dalam pengertian plus maupun minus. Dalam arti superior, kita bisa saja membawanya ke wacana feminisme yang beberapa tahun belakangan menjadi wacana laten di tanah air. Dalam persfektif ini, perempuan adalah sosok yang kuat, memiliki daya maskulinitas, sehingga juga sah memiliki “kekuasaan” dan kemerdekaan tanpa batasan. Di sini perempuan bisa memegang kekuasaan dalam bidang apa saja, dari manejer sampai pimpinan partai, dari bupati hingga presiden.

Untuk melihat nilai plus, situasi ini bisa dibawa ke ranah emansipatoris, sebagaimana diperjuangkan Kartini dalam apa yang dikenal sebagai gerakan emansipasi. Namun “kuasa” perempuan juga bisa inferior dan minor, tatkala ia dipahami sebatas kekuasaan domestik, alih-alih publik yang penuh persoalan pelik. Atau sebaliknya, perempuan yang berkiprah di luar kerap dianggap mengejar karir dan jabatan semata, padahal sering perempuan yang beraktivitas di luar rumah semata karena panggilan jiwa atau tanggung jawabnya.

Atas banyaknya bias dan ambigisitas dalam perkara (ke-)kuasa(-an) perempuan inilah, Kurniati sekalian membaliknya menjadi “Perempuan Kuasa”. Ini bukan hanya sekadar membalikkan sebutan, melainkan serentak dengan itu mengubah cara pandang, memberi makna baru dan menempatkan perempuan pada kodratnya yang lebih otentik. Betapa tidak. “Perempuan Kuasa” bukan sesuatu yang pasif, tidak juga masif, sebagaimana dalam frase (ke-)kuasa(-an) perempuan. “Perempuan Kuasa” menyiratkan sosok yang bergerak dan bekerja, dan secara otonom menerapkan visi-misinya dalam tujuan yang hendak dicapai. Boleh saja apa yang dikerjakannya itu hal-hal kecil, namun berkat kesadaran dan tanggung jawabnya toh berefek juga pada kinerja dan mutu pengabdian, bahkan hakikat kehidupannya secara luas.

Lihatlah tokoh Alin, yang bertekad tak hanya mau menjadi sosok penerima amplop gaji tiap bulan lalu duduk manis sebagai orang kantoran, namun sebagai perempuan, Alin “merasa punya hak untuk menentukan nasib sendiri”. Dan itu artinya, ia ingin melakukan sesuatu yang lebih, tidak sebatas rutinitas kerja. Di sisi lain, ungkapan “Perempuan Kuasa” ini juga memiliki aksentuasi lokalitas yang khas, sebab lazim dalam masyarakat Melayu, orang yang rajin dan tekun bekerja disebut “orang (yang) kuasa” atau “dia (sungguh) kuasa”. Analog dengan frase ini misalnya dalam adegan berikut:

Perahu sesekali miring ke kanan, ke kiri, dan tak jarang pula oleng yang mendalam di sisi perahu, membuat kami menahan nafas sambil berucap.

Nah, “berucap” di sini, merujuk kebiasaan masyarakat Melayu untuk mengucapkan lafaz Allah di dalam situasi yang rawan dan genting, sebagaimana orang Jawa mengingatkan dalam situasi sulit,”nyebut, Pak, nyebut…”Artinya, Kurniati tetap konsisten menggarap khazanah lokal sebagai rujukan ceritanya, lengkap dengan nilai transendental yang kuat.

Singkat pengantar, muatan cerita Kurniati dalam buku ini terasa lebih kaya dan berwarna karena kemampuannya memasuki banyak persoalan. Karenanya, di sini banyak ditemui cerita-cerita unik, katakanlah “Sebuah Enigma”, “Pundakku Bagai Hanger”, atau “Simtom Mawar”. Hal ini didukung gaya bahasa Kurniati yang semakin matang, lincah-mengalir, juga kocak, serta penuh detail. Satu lagi yang dapat diamati dari gaya ungkap Kurniati dalam cerita-cerita terbarunya ini ialah bahasa yang cenderung filosofis, sebagai cara estetik mengajak kita, pembaca, untuk merenung. Akhirnya, semoga buku ini mendatangkan manfaat.

Selamat membaca!

Yogyakarta, Nopember 2016

Framepublishing
Kumpulan Cerpen: Kurnia Inka

Daftar Isi
Pengantar Penerbit ~ v
Seuntai Kata ~ xi
Daftar Isi ~ xiii

Ketika Pucuk-pucuk Daun Mulai Layu ~ 1
Lepet yang Tertukar ~ 6
Pecak Lampen ~ 17
Pemuja Matahari ~23
Perempuan Kuasa ~ 31
Pundakku Bagaikan Hanger ~ 39
Sayap Angin di Pulau Lengkuas ~ 45
Sebuah Enigma ~ 53
Sebuah Kidung di Puncak Budaya ~ 61
Selaksa Gerhana ~ 69
Semangat Nasi kotak ~ 75
Simtom Mawar ~ 81
Biodata Penulis ~ 89

Lahir di Mentok, pada bulan Maret. Setamat dari SMA (jurusan Bahasa) melanjutkan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S-1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya Palembang, SumSel. Buku pertama yang telah terbit Mengenal Sastra Melayu Bangka (2011), ditulis bersama Zalfika Ammya (bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka dan Pemkab Bangka). Pada tahun 2013 terbit buku kedua Daya Kisahku berupa kumpulan cerita pendek. Aku Ingin Menari (2013), Mengajar dengan Hati (2014), dan Senyum Membawa Sahabat (2015). Taraa…(2015) kumpulan puisi, Bermain-Main Dengan Doa (2015) sebuah kumpulan cerita pendek, dan merupakan karya duet bersama Dery Nodyanto sebuah kumpulan artikel dengan tajuk: Dua Guru Menulis (2015).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Cerpen Hadi Sastra Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya

Di Pantai Itu

Di Pantai Itu Cerpen Dini Safitri Pantai.. Ah, Entah kenapa, setiap melihat

Malam Terindah Dinda

Malam Terindah Dinda Cerpen Dini Safitri Saat kuresah Saat kugelisah Saat kususah
Go to Top