Guru Menjawab Tantangan dalam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Rubrik Pendidikan Oleh

Judul Buku: Guru Menjawab Tantangan dalam Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) (Kumpulan Artikel dilengkapi contoh: makalah, Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan KTI  pada Jurnal Ilmiah)
Penulis: Kurniati

Gambaran Isi Buku:
Artikel

  1. Guru Masa Depan
  2. Pendidikan yang Bermartabat
  3. Kembali Mengasah Batu Mulia yang Bernama Karakter
  4. Bahasa Identitas Kecerdasan
  5. Bangga Berbahasa Indonesia
  6. Peran Bahasa Ibu dalam Pembentukan Karakter Siswa
  7. “Merasai” UN CBT
  8. Kreativitas dan Proses Pembelajaran
  9. Harkat dan Citra Perempuan Sebuah Refleksi
  10. Sebuah Renungan: Disebut Ibu

Makalah

  1. Menggugah Pembelajaran Sastra Anak
  2. Teknik Presentasi dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa
  3. Pembelajaran Berbasis Budaya Berorientasi Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran Menulis

Jurnal Ilmiah

  1. Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menulis Paragraf Deskripsi Melalui Cerita Bergambar dengan Teknik Concept Mapping di SMKN 1 Sungailiat
  2. Korupsi yang Menggurita: Tinjauan Sosiologis Sastra Orang-Orang Proyek Sebuah Novel
  3. Pemanfaatan Tradisi Nganggung Masyarakat Bangka Sebagai Bahan Ajar Berorientasi Kecakapan Hidup dalam Pembelajaran Berbicara
  4. Konvergensi dalam Dialek Melayu Bangka Pada Penutur Dwibahasawan Kajian Dialektologi pada Tuturan Mahasiswa daerah Bangka di Bandung (2012)

Hasil Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Peningkatan Kemampuan Berbicara Siswa Melalui Pembelajaran Kolaboratif dengan Teknik Debat (Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada Siswa Kelas X PM1 Semester 1 Tahun Pelajaran 2014/2015)

Tentang Penulis
Kurniati, lahir di Mentok, pada bulan Maret. Setamat dari SMA (jurusan Bahasa) melanjutkan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S-1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya Palembang, SumSel. Setelah selesai kuliah (tahun 1998), mengisi hari-hari dengan membuat cerita bergambar (komik) pada sebuah majalah anak-anak (majalah Sobat) yang terbit di Palembang dan sekitarnya (2000—2002).

Hobi menulis dan menggambar telah dilakoni saat duduk di bangku SD, dan aktif dalam redaksi mading sekolah. Beberapa tulisan (artikel dan cerita pendek) pernah dimuat di media cetak yang beredar di Bangka Belitung.

Di sela-sela kesibukan sebagai guru di Sungailiat Bangka, ibu dari dua orang anak ini, menyempatkan untuk tetap menulis, baik melakukan penelitan (PTK), dan menulis. Buku pertama yang telah terbit Mengenal Sastra Melayu Bangka (2011), ditulis bersama Zalfika Ammya (bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka dan Pemkab Bangka). Pada tahun 2013 terbit buku kedua Daya Kisahku berupa kumpulan cerita pendek. Aku Ingin Menari (2013), Mengajar dengan Hati (2014), dan Senyum Membawa Sahabat (2015). Taraa…(2015) kumpulan puisi, Bermain-Main Dengan Doa (2015) sebuah kumpulan cerita pendek, dan merupakan karya duet bersama Dery Nodyanto sebuah kumpulan artikel dengan tajuk: Dua Guru Menulis (2015).
***

Guru Menjawab Tantangan dalam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Selalu tak pernah kehabisan topik bila berbicara tentang guru. Selalu tak pernah berhenti digugat bila terjadi kegiatan destruktif massal karena peran guru yang tidak maksimal. Selalu menjadi perdebatan, dan dipertanyakan masalah jam kerja dan penghasilan, adalah profesi guru. Anggaran negara terserab untuk perbaikan bangsa juga berimbas pada guru. Karena guru yang mulanya disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu, kini dituntut agar dapat diperhitungkan jasanya hingga mampu mendidik anak bangsa menjadi insan cendikia.

Maka menimbang, mengingat, mengamati, memperhatikan hingga menelisik peran guru dalam pendidikan yang pada hakikatnya adalah berlangsung seumur hidup itu, peran strategis guru pun harus lebih diberdayakan lagi. Guru tidak hanya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, dan penilai yang selalu bermetamorfosis secara inovatif, kreatif, dan bermoral, guru juga dituntut menjadi sosok profesional yang ideal.

Harapan ini nyaris menuntut guru untuk menjadi malaikat tanpa sayap. Berat sekali. Mereka harus mampu menjadi agen pengembangan moralitas dan mentalitas dengan cara mengubah potensi multikecerdasan peserta didik menjadi kemampuan aktual yang bermakna bagi kehidupan peserta didik agar menggapai masa depan terbaik.

Selain itu, guru tentu diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian. Pada intinya guru itu adalah penentu, pencetak, dan pelukis masa depan bangsa. Luar biasa. Begitu besar harapan pada pundak para guru.

Dengan demikian, selain harapan yang besar itu, yang dapat dirasakan secara kasat mata, nampaknya guru perlu diawasi dan dinilai kinerjanya (diperhitungkan angka kreditnya melalui kegiatan profesi). Hal ini bertujuan agar tugas dan fungsi yang melekat pada jabatan guru tersebut terlaksana sesuai dengan harapan. Kewajiban guru dalam melaksanakan  pembelajaran/pembimbingan, dan/atau tugas-tugas tambahan yang relevan dengan fungsinya di sekolah diberikan penilaian. Penilaian ini di samping untuk menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan, sekaligus pula menjaga profesionalitas para guru. Kegiatan penilaiaan ini dinamakan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Karena konsekuensi dari jabatan seorang guru sebagai profesi diperlukanlah sistem pembinaan dan pengembangan terhadap keprofesian tersebut secara terpogram dan berkelanjutan. Lebih jelasnya, adanya ketentuan kegiatan tersebut berdasarkan penetapan Permenneg PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesional guru. Dan kegiatan PKB ini merupakan salah satu unsur kegiatan guru yang diberikan angka kreditnya, selain unsur pendidikan, pembelajaran/bimbingan, dan kegiatan penunjang (bab V).

Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (masih dalam dasar hukum di atas) kini merupakan syarat bagi guru untuk mengembangkan karier. Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan salah satu komponen unsur utama yang kegiatannya dihitung angka kredit untuk kenaikan pangkat/golongan. Jika para guru tidak melaksanakan kegiatan tersebut, konsekuensinya adalah karier guru akan terhambat. Jika karier terhambat, berarti sang guru belum membuktikan bahwa dirinya telah menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya.

Adapun unsur kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang menjadi bahan pengembangan dan diberikan angka kredit bagi guru, terdiri atas:

  1. Pengembangan diri, kegiatan ini dilakukan guru untuk meningkatkan kompetensi dan keprofesian guru yang meliputi kegiatan para pendidik dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional (diklat), juga berupa pelaksanaan kegiatan kolektif guru, seperti mengikuti lokakarya, musyawarah kerja guru, inhouse training, penilaian, pengembangan media pembelajaran, dan/atau kegiatan pengembangan keprofesian guru.
  2. Publikasi ilmiah. Kegiatan publikasi ilmiah mencerminkan karya nyata para guru. Setidaknya ada tiga kelompok kegiatan yaitu; a) presentasi pada forum ilmiah (misalnya menjadi nara sumber, pemrasaran); b) publikasi hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal, misalnya melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), dan menulis makalah; c) publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan dan/atau pedoman guru
  3. Menghasilkan karya inovatif. Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) berupa karya inovatif, terdiri dari empat (4) kelompok, yakni; a) menemukan teknologi tepatguna; b) menemukan/menciptakan karya seni; c) membuat, memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum; d) mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya.

Tabel Macam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

1 Pengembangan Diri 1.    Mengikuti diklat fungsional

2.   Melaksanakan kegiatan kolektif guru

2 Publikasi Ilmiah 1.  Presentasi pada forum ilmiah

2. Publikasi hasil penelitian atau gagasan inovatif pada Bidang pendidikan Formal

3. Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau Pedoman Guru

3 Karya Inovatif kegiatan PKB 1. Menemukan teknologi tepat guna
2. Menemukan/menciptakan karya seni
3. Membuat /memodifikasi alat pelajaran
4. Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dsb

Sumber Pedoman Penilaian Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Kemendikbud, 2012

Dalam pelaksanaannya, penilaian kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini tentu saja disertai pedoman dan rambu-rambu yang telah diatur dan berdasar pada hukum, di antaranya Permenneg PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009. Pedoman ini juga mengatur transparansi penilaian yang dapat mencerminkan hubungan yang berpengaruh antara kenaikan jabatan fungsional guru dengan peningkatan profesionalitas. Hubungan yang dimaksud adalah semakin tinggi jabatan fungsional seorang guru, maka semakin meningkat profesionalitas seorang guru.

Setidaknya, setelah mengetahui jalur penilaian terhadap pelaksanaan tugas dan kewajiban guru dalam profesinya sebagai syarat, yang sangat “profesional” itu, tentu tak akan ada lagi yang menganggap “ringan” pekerjaan guru. Semoga tak ada lagi yang menilai profesi keguruan sebagai profesi “ibu-ibu” yang penuh syahdu. Profesi guru adalah menghias waktu. Membuang waktu berarti orang yang tak mampu.

Permasalahannya sekarang, disadari atau tidak, sudahkah para guru melakukan pembimbingan, melakukan tugas-tugas tambahan yang relevan dan berkelanjutan dengan fungsinya di sekolah, dan terdokumentasikan secara tertulis maupun praktis? Pada kenyataan, banyak guru terhambat kariernya karena belum terpenuhinya kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan tersebut.

Akan tetapi dari kegiatan ini tidak sedikit pula yang telah membuktikan kinerja tenaga pendidik kita secara profesional. Dengan melakukan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan, para guru telah menepis keraguan, menjawab tantangan, serta memenuhi tuntutan banyak orang tentang profesi guru. Mengutip amanat menteri pendidikan kita, guru yang profesional, guru yang kreatif, inovatif, dan inspiratif, sangat diperlukan dalam menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat.

Sungailiat, 8 Desember 2015

Lahir di Mentok, pada bulan Maret. Setamat dari SMA (jurusan Bahasa) melanjutkan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S-1), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya Palembang, SumSel. Buku pertama yang telah terbit Mengenal Sastra Melayu Bangka (2011), ditulis bersama Zalfika Ammya (bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka dan Pemkab Bangka). Pada tahun 2013 terbit buku kedua Daya Kisahku berupa kumpulan cerita pendek. Aku Ingin Menari (2013), Mengajar dengan Hati (2014), dan Senyum Membawa Sahabat (2015). Taraa…(2015) kumpulan puisi, Bermain-Main Dengan Doa (2015) sebuah kumpulan cerita pendek, dan merupakan karya duet bersama Dery Nodyanto sebuah kumpulan artikel dengan tajuk: Dua Guru Menulis (2015).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*