MENULIS ITU SUSAH (BAGIAN I)

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat

Tidak satu manusia pun yang dilahirkan dengan kemampuan menulis, sehingga keterampilan menulis perlu diasah dalam pelbagai kesempatan. Saya teringat pesan guru bahasa Inggris kami, DR. Sisilia Halimi. Beliau memberi pesan saat kami mulai belajar bahasa Inggris di Universitas Indonesia, kampus Salemba. Bahwa belajar menulis satu-satunya dengan cara menulis. Kalaupun saat menulis ada kekeliruan, justru itu merupakan kesempatan terbaik untuk memperbaiki kekeliruan.

Saat kelahiran manusiapun, hanya menangis yang dikuasai sejak lahir. Sehingga makan yang juga kebutuhan pokok perlu dipelajari. Secara rumit, kemampuan makan dengan etike dan segala aturan yang melingkupinya bahkan harus melalui pendidikan tertentu. Itulah gambaran bagaimana sebuah keterampilan yang perlu melalui sebah proses yang tidak singkat. Menulis juga hampir sama dengan berenang. Pesan Dr. Nur Asik, proses belajar berenang akan lebih bagus jikalau langsung terjun ke kolam renang. Saat ada masalah, ketidakmampuan sehingga menyebabkan tenggelam, saatnya pelatih melemparkan pelampung.

Demikian pula menulis, latihan, ketekunan, dan juga perjuangan, perlu dilakukan secara berulang sehingga menghasilkan sebuah tulisan. Saat mulai menulis, bisa saja gangguan demi gangguan akan mendera. Mulai menyalakan laptop, maka dering telepon kadang menginterupsi. Selanjutnya kadang pula pesan singkat, termasuk obrolan di dunia maya. Semua itu bisa menggangu dan bahkan menghentikan proses menulis. Jikalau belajar menulis dari seseorang, maka ketika ada kekeliruan, sang pelatih akan segera membantu.

Ibu DR. Corina, juga dosen Universitas Indonesia saat menjadi fasilitator penulisan artikel di STAIN Sorong tiga tahun lalu juga memberikan penegasan bahwa menulis sebuah pekerjaan yang susah. Untuk itu, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menepis semua kesusahan sehingga seorang penulis mampu mewujudkan sebauh karya.

Terakhir, saya teringat pesan allahuyarham Marwiyah, nenek saya senantiasa mengingatkan bahwa parang yang tumpul sekalipun akan tajam jikalau terus diasah. Dalam konteks menulis, hampir sama. Keterampilan menulis hanya dapat dikuasai jikalau ada latihan yang dilakukan secara terus menerus, berkesinambungan, dan sesekali dilakukan koreksi. Untuk itu, walaupun susah tetap saja ada jalan yang dapat mempermudah sehingga semua kesusahan itu dapat tersingkirkan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top