Menulis yang Sehat dan Menyehatkan

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Seiring dengan bertambahnya usia, setiap orang akan mengalami proses penuaan. Itu bagian dari hukum alam. Tidak ada satu resep apapun yang dapat mencegah penuaan, resep tercanggih dan termutakhir sekalipun. Itu bagian dari keharusan alam. Sementara itu, menjaga kesehatan bukan rahasia. Salah satunya dengan menulis. Ketika proses menulis dilakukan secara konsisten, maka akan didapatkan buahnya bukan dalam waktu yang singkat tetapi justru pada saat usia semakin bertambah. Maryam, Hartini, dan Sumijatun (2015) menggambarkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktivitas pendidikan dengan demensia pada lanjut usia.

Dua hal yang menjadi aktivitas utama ketika menulis yaitu berpikir dan mengingat. Keduanya menjadi sumbu bagi produktifitas sehingga dengan tetap adanya usaha untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi-fungsi mental akan memberikan stimulus sehingga demensia tidak terjadi. Riset-riset kesehatan menggambarkan bahwa saat berumur 60 tahun, seseorang akan mengalami penurunan fungsi-fungsi otak. Sehingga sedekit demi sedikit terjadi penurunan kemampuan (Hock, dkk, 2003; Yaffe, 2001; Bassuk, Glass, dan Berkman, 1999). Dengan demikian untuk tetap merawat sehingga fungsi-fungsi kognitif tersebut tidak turun secara drastis dapat dicegah dengan salah satunya adalah aktivitas kognitif sejak awal. Jika dilakukan secara konsisten dan dengan pelbagai cara, maka akan tetap memberikan stimulus agar otak bekerja secara maksimal.

Dunia kesehatan mengenal senam otak (Dennison dan Dennison, 2002). Hanya saja, senam otak (brain gym) jika dilakukan hanya ketika saat memasuki usia lanjut, tidak akan memberikan dampak secara signifikan. Ketika terapi kognitif dan senam otak dilakukan di usia tersebut, hanya memberikan penurunan tingkat depresi (Prasetya, Hamid, dan Susanti, 2010). Diperlukan aktivivitas yang bermula sejak masih usia anak-anak (Putranto, 2009). Maka, aktivitas membaca dan menulis menjadi keperluan setiap individu. Bukan saja dalam rangkaian untuk mengetahui dan belajar secara formal di bangku sekolah tetapi sesunggunya adalah tuntutan untuk kehidupa itu sendiri. Tentu, tidak satu satu orangpun yang menginginkan untuk mengalami kepikunan saat-saat menikmati masa pensiun.

Keseimbangan kognitif akan tetap didapatkan saat menjaga dan mempertahankan keaktifan membaca dan menulis (Wahyuni, 2004). Aktivitas membaca dan menulis tidak saja akan memberikan dukungan bagi konsentrasi setiap murid (Rizki, 2008; Nuryana dan Purwanto, 2010) tetapi pada saat yang sama juga akan memberikan capaian dan luaran pembelajaran (Nidlomuddin, 2012). Kehilangan memori jangka pendek (Setianingsih, 2013), tingkat stres yang rendah (Fitria, 2010), dan menghindari kecemasan (Purwanto dan Widyaswati, 2009) didapatkan secara langsung jikalau seseorang secara berkelanjutan secara aktif melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kognitif.

Terutama bagi remaja putri, aktivitas menulis bahkan bisa membantu untuk relaksasi dan mengurangi nyeri (Putri, 2009; Suparto dan Sumenep, 2011). Bukan berarti bahwa itu tidak terjadi pada laki-laki. Hanya saja, dalam tradisi Indonesia dimana laki-laki beraktivitas pada ranah publik sehingga memberikan kesempatan bagi adanya pekerjaan-pekerjaan fisik dan berhubungan dengan banyak orang. Sementara perempuan, kadang hanya berada dalam ranah domestik dan berinteraksi secara terbatas. Kemampuan membaca dan menulis yang dilatihkan sejak masih peringkat awal di sekolah dasar akan memberikan kemampuan yang lebih baik berbanding jika dilatih pada usia selanjutnya (Chelfia, 2008). Begitu pula dengan keseimbangan (Nurhayati, 2010) dan interaksi sosial (Lestari, 2012).

Uraian tersebut menggambarkan betapa dengan tetap menulis dan membaca akan berdampak pada banyak hal, tidak saja saat usia yang bertambah tetapi juga secara langsung akan memberikan dampak pada saat itu juga. Sejatinya, menulis tentu memerlukan aktivitas membaca, sementara membaca juga berinteraksi dengan tulisan. Sehingga keduanya saling melengkapi dan menyatu dalam aktivitas kognitif sebagai bagian dari menjaga otak. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top