Menulis dengan Senang Hati

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Sabtu dan Ahad (21-22, Januari, 2017) saya berkesempatan ke Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Mengenal pesantren ini, awalnya dari tulisan Prof Mastuhu. Kemudian mengenal salah satu putri kiyai aktif di organisasi alumni beasiswa yang kami terima semasa kuliah dulu. Kesempatan ini merupakan sebuah anugerah dimana bisa menyaksikan Banyuwangi dengan segala inovasi yang mengitarinya. Dalam kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, bisa berbagi cerita dengan kami, para peserta seminar nasional.

Namun, tulisan ini bukan tentang Blokagung ataupun Banyuwangi. Salah satu mahasiswa pasca saya di STAIN Sorong mengirimkan tugas artikel tentang Blokagung. Menguraikan bagaimana kepemimpinan pesantren dalam aspek pengelolaan koperasi pondok. Dengan gembira kami menerima artikel dan mulai membacanya. Di akhir artikel saya justru kecewa. Padahal artikel yang dikirim mahasiswa kami sangat bagus. Hanya saja, ada artikel yang sama, sudah tersedia di repository di tahun 2013. Ini saya artikan bahwa tidak mungkin penulis di tahun 2013 yang melakukan plagiat. Sebagian besar, bagian-bagian artikel mahasiswa kami justru diambil dari tulisan orang lain.

Untuk menghasilkan sebuah tulisan, salah satu tipsnya adalah menulis dengan hati. Sebuah tulisan adalah salah satu sarana untuk belajar. Bukan tentang tugas semata-mata, tetapi melampaui semua itu, sebagai bagian untuk belajar. Setelah belajar, maka hasilnya akan abadi. Bisa dibagi dengan orang, bahkan kapan saja dapat dibaca kembali. Berbeda dengan tradisi lisan yang mengandalkan hafalan, mudah untuk hilang, dan tidak dapat diverifikasi.

Menulis, termasuk tugas perkuliahan sesungguhnya harus dipandang dari sudut kesempatan untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Jikalau bukan memilih karir di bidang manajemen pengetahuan setelah perkuliahan selesai, maka ini akan menjadi proses mengabadikan. Walau hanya sekali, tetapi dapat bermanfaat untuk selamanya. Selanjutnya, walau berkarir di bidang lain tetapi sudah memiliki karya yang abadi. Sementara jikalau memilih jalan pendidikan sebagai karir, ini akan menjadi awal dalam menghasilkan karya.

Kalau sebuah pekerjaan dilaksanakan dengan senang hati, maka semuanya akan serba mudah dan dihasilkan dengan akhir yang sempurna. Saya suka memberikan contoh bagaimana sebuah pertandingan sepak bola, berlangsung selama 90 menit dan tayang tengah malam. Ketika kesebelasan favorit yang bertanding, bahkan tengah malam sekalipun bersedia untuk bangun dan menonton selama itu. Dibandingkan dengan memegang bara api, walau hanya selama sepuluh detik tetapi rasa-rasanya lama dan tentu berbahaya bagi kulit. Ini karena semuanya ada faktor hati di dalamnya. Ada kecintaan terhadap olahraga sepakbola. Kalau dilarangpun, justru akan mengakibatkan penyakit.Bahkan, menulis sebuah tugas sekalipun akan sangat menyenangkan jikalau sejak awal sudah diniatkan untuk menjadi bagian dari ibadah. Apalagi kalau ditambahkan dengan niat bahwa semuanya akan menjadi bagian dari amal sholeh. Maka, menulis yang dilingkupi dengan suasana kebatinan bahwa ini adalah keperluan, akan menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sementara jikalau itu dianggap sebagai sebuah beban. Maka, menulis hanya diselesaikan begitu saja, untuk menggugurkan kewajiban semata.

Untuk itu, melibatkan hati yang senang ketika menulis sesungguhnya adalah bagian penting. Menulis akan menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan, berusaha memberikan yang terbaik, dan selanjutnya akan menghasilkan sebuah karya yang berusaha untuk sesempurna mungkin. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top