BAPAK TUA DI KERETA

Rubrik Cerita Anak Oleh

Cerita Anak oleh Erawati Heru Wardhani

Kereta mulai beranjak meninggalkan Stasiun Tugu, Yogyakarta. Aku duduk manis di samping ayah di gerbong ketiga. Ya, aku dan ayah baru saja menghadiri pernikahan saudara ayah di Yogya. Ibu tidak ikut karena adikku, Raya, masih sangat kecil, usianya baru dua bulan. Ibu takut repot di perjalanan.

Di depanku duduk dua orang bapak yang usianya lebih tua dari ayah. Bapak yang satu terlihat lebih muda, pakaian dan sepatunya bagus. Sepertinya dia orang kaya. Bapak yang satu lagi lebih tua, hampir sama dengan kakek. Bapak tua ini berpakaian sangat sederhana. Dia juga tidak banyak berbicara, kecuali jika ditanya oleh ayah atau bapak kaya. Sama seperti aku. Aku juga diam karena tidak tahu pembicaraan orang tua. Aku lebih suka membaca buku cerita yang ditulis oleh penulis kesayanganku.

Meskipun begitu, sesekali aku mendengar percakapan ayah dan kedua bapak itu. Aku jadi tahu, bapak yang berpakaian dan bersepatu bagus ke Yogya untuk mengurus bisnisnya. Aku sih, tidak tahu apa itu bisnis, tapi bapak itu menyebut-nyebut rumah makan miliknya di dekat Malioboro. Kalau Malioboro aku tahu, karena setiap ke Yogya, ayah dan ibu mengajakku jalan-jalan ke sana.

Bapak yang berpakaian sederhana cerita kalau dia ke Jakarta untuk mengunjungi dua anaknya yang merantau. Sehari-hari bapak ini bertani di sebuah desa, di pelosok Yogya.

Sepanjang perjalanan, ayah asyik mengobrol dengan kedua bapak itu. Meskipun ayah lebih banyak sebagai pendengar.

“Anak saya yang sulung sudah saya kasih usaha rumah makan juga di Kemang,” kata bapak kaya. Ayah dan bapak tua hanya mengangguk-angguk.

“Anak nomor dua, perempuan sekarang sibuk jadi bintang iklan,” lanjutnya lagi.

Wah, aku kagum sekali. Aku ingin menanyakan, apakah anaknya sering muncul di TV. Tapi aku langsung ingat kata-kata ayah. Anak kecil tidak sopan jika ikut dalam pembicaraan orang tua. Ya sudah, aku diam saja. Aku lebih suka melanjutkan membaca buku. Apalagi ceritanya sangat menarik. Ditulis oleh penulis cerita anak yang terkenal. Tapi,keasyikanku membaca kadang terganggu oleh perkataan bapak kaya yang suaranya sangat keras.

“Biasanya saya naik pesawat pulang pergi Jakarta Yogya, sayang tadi tiketnya habis,” kata bapak kaya.

“Kalau saya malah biasa naik bis, jarang naik kereta mahal seperti ini,” kata bapak tua. “Ini karena saya sudah dikirimi uang tiket saja,” lanjutnya lagi.

***

Hampir tengah malam, kereta tiba di Stasiun Gambir. Aku, ayah dan dua bapak itu turun bersama. Kami langsung menuju ruang tunggu di lantai bawah. Ayah sudah menelepon Pak Rojali, sopir keluarga kami untuk menjemput. Bapak tua katanya juga mau dijemput anaknya. Sementara bapak kaya masih sibuk dengan handphone-nya yang bagus.

Tak lama kemudian, aku melihat dua laki-laki berjalan ke arah kami. Hmm, rasanya aku mengenali mereka. Wajah mereka sering aku lihat, entah di mana. Begitu mereka semakin dekat, aku terlonjak. Lho, itu kan, Kak Andra penulis cerita anak idolaku. Penulis yang bukunya selalu aku bawa. Dan laki-laki yang lebih tua, mungkin seumur ayah, itu kan, ahli ekonomi yang sering muncul di TV. Ayah yang mengenalinya, langsung mengangguk tersenyum.

“Kenalkan, ini dua anak saya,” tiba-tiba bapak tua berkata pada kami. Aku, ayah dan bapak kaya, kaget.

Wah, aku sungguh tidak menyangka, bapak yang sederhana itu memiliki anak yang hebat-hebat. Aku dan ayah menyalami mereka. Mereka ramah sekali menyapa kami.

Tak terlukiskan rasa senangku bisa bertemu idola. Aku langsung minta tanda tangan Kak Andra di buku yang aku bawa. Ayahku juga terlihat senang bisa berbincang dengan tokoh terkenal yang sering muncul di TV.

Sementara itu, agak jauh di belakang kami, bapak kaya masih sibuk menelepon. Aku sempat mendengar kata-katanya karena suaranya yang keras.

“Apa? Jadi kamu juga tidak bisa jemput papa? Anya bilang masih sibuk shooting! Lho, Pak Tohir kan, masih di kampung!” Nadanya terdengar marah.

Melihat bapak kaya yang kesal, bapak tua segera bicara pada anaknya. Tak lama kemudian, bapak itu menawarkan untuk mengantarkan bapak kaya.

“Silakan, Pak, biar kami antar sampai ke rumah,” katanya tulus.

Dengan tersipu, bapak kaya itu akhirnya ikut mobil anak bapak tua. Wah, aku semakin kagum dengan kebaikan si bapak tua. Sepertinya ayahku pun begitu.
*****

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*