KURIKULUM PENDIDIKAN KITA DAN KETELADANAN

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Alpansyah
(Ketua Agupena Wilayah Sumatra Selatan)

Topik pendidikan selalu menjadi pokok bahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Persoalan pendidikan bukan hanya terbatas pada urusan penerimaan peserta didik baru, pembagian rapor, pelaksanaan ujian nasional, tetapi lebih jauh daripada itu perilaku dan peraban kita selaku anak bangsa yang mulai menjauh dari nilai-nilai dasar dan falsafah hidup bangsa—sebagaimana yang kita rasakan saat ini—salah satunya juga merupakan  produk dari pendidikan itu sendiri.

Perbincangan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kurikulum dan guru. Ada semacam idiom dalam kajian ilmu kurikulum yaitu, “Kalau ingin tahu bagaimana arah peradaban sebuah Negara untuk beberapa tahun ke depan, lihat saja kurikulum pendidikan yang berlaku di Negara tersebut”. Kalimat ini memberikan makna bahwa bentuk kurikulum pendidikan yang berlaku di sebuah Negara akan menentukan peradaban seperti apa yang diinginkan oleh Negara tersebut dalam membentuk outcome-nya. Inilah pula yang menyebabkan kurikulum pendidikan sebuah negera belum tentu cocok di Negara lain atau sebaliknya. Ketidakcocokan ini tentu saja disebabkan oleh perbedaan ideologi dan falsafah hidup sebuah bangsa di Negara tersebut. Tentu saja dalam konteks Indonesia yang menjadi landasan dan falsafah hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Selain faktor kurikulum dalam memperbicangkan pendidikan, faktor guru juga merupakan hal penentu. Kurikulum pendidikan yang telah dirancang dengan baik tidak akan mencapai sasaran bila guru selaku pendidik tidak mampu mengimplementasikan tuntutan kurikulum tersebut dalam aktivitas pembelajaran (di sekolah dan di ruang-ruang kelas). Masih segar dalam ingatan kita bahwa untuk meningkatkan komptensi guru ini Kemendikbud RI melakukan diklat guru pembelajar (diklat GP) secara nasional. Diklat GP ini berawal dari hasil nilai uji kompetensi guru (UKG) secara nasional  belum mencapai target yang telah ditentukan.

Apakah dengan keberadaan kurikulum yang terus mengalami penyempurnaan (bahkan sampai hari ini) dan kompetensi guru yang meningkat, kualitas pendidikan pendidikan kita akanmeningkat dalam arti tercapainya tujuan pendidikan? Jawabnya belum tentu, mengingat keberlangsungan proses pendidikan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti  lingkungan keluarga, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terhadap pendidikan. Seluruh stockholder ini akan memberikan corak terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Oleh karena itu, ada dua hal yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu kurikulum pendidikan dan keteladanan.

Kurikulum Pendidikan Kita
Salah satu rasional perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 adalah kekhawatiran terhadap semakin merosotnya akhlak para peserta didik. Menurut Takdir Ilahi (2014:27) ada lima permasalah pendidikan di Indonesia yang terkait dengan krisis karakater, yaitu krisis moral, krisis spiritual, krisis keluhuran budaya, krisis keteladanan,  serta  krisis orientasi dan kebijakan.

Benarkah isu dekadensi moral ini sudah semakin serius? Bila kita memuat turun laman google tentang berita-berita kenakalan remaja khusunya pelajar maka  akan didapati banyak sekali peristiwa yang menunjukkan keruntuhan moral remaja, seperti pesta minuman keras, gang motor dan perilaku kejam, video seks, seks bebas dan hamil di luar nikah, serta perkelahian antarpelajar.Hal yang sama dikatakan pula oleh Umaroh, Zakiyah (2013) dalam Jurnal Ilmiah Kenakalan Remaja Universitas Negeri Semarang yang mengatakan bahwa bentuk kenalan tersebut seperti tawuran antarpelajar, penyalahgunaan narkoba serta seks bebas.

Tawuran antarpelajar memang bukan perkara baru bagi dunia pendidikan kita, melainkan  selalu menjadi bahan perbincangan di setiap tahunnya. Tawuran pelajar pada masa ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketenteraman umum dan merupakan ancaman bagi kita. Mirisnya, kejadian ini dilakukan bukan hanya disekolah saja, kadang mereka melakukannya di jalan atau bahkan ditempat-tempat umum dan tak lupa seringkali mereka juga merusak fasilitas umum.

Begitu juga dengan kejahatan penggunan narkoba. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus penggunaan narkoba oleh pelaku dengan tahap pendidikan SD hingga tahun 2007 (sepuluh tahun lalu) berjumlah 12.305. Data ini begitu mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan usia muda dan anak-anak) penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam.

Tentang seks bebas, berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar besar di Indonesia pernah berhubungan seks. Hasil kajian lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan seksual luar nikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan kegadisannya ketika masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan pengguguran.Sumber lain juga menyebutkan tidak kurang dari 900 ribu remaja yang pernah pengguguran akibat seks bebas.

Kejadian-kejadian sebagaimana dilansir di atas tentu saja tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan semata, banyak faktor lainnya yang dapat ditunjuk hidung. Namun, dalam pandangan seorang pendidik, pendidikan memiliki peran langsung dan strategis untuk membentuk watak generasi muda sebuah bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan. Kurikulum yang berlaku saat itu dirasakan belum sepenuhnya menitikberatkan pada pembentukan karakter peserta didik (meskipun hal ini masih dapat diperdebatkan lebih lanjut). Untuk itu, penyempurnaan pada Kurikulum 2013 menitikberatkan pada komptensi peserta didik yang meliputi empat aspek kompetensi, yaitu kompetensi 1 (K1) merupakan kompetensi religius, komptensi 2 (K2) merupakan kompetensi sosial, komptensi 3 (K3) merupakan kompetensi pengetahuan,  dan kompetensi 4 (K4) merupakan kompetensi keterampilan. Ini artinya,  setiap akhir proses pembelajaran di ruang-ruang kelas peserta didik harus memiliki keempat kompetensi tersebut dan kompetensi tentang religiusitas atau ketuhanan dan sosial  menjadi kompetensi yang mesti ditumbuhkembangakan disamping peserta didik menguasai seperangkat pengetahuan dan keterampilan.

Setelah terjadi proses pembelajaran siswa diharapkan memamahi sejumlah nilai-nilai karakter yang baik.Karakter berkaitan dengan pedoman hidup sehari-hari yang amat diperlukan guna mengambil keputusan dalam memecahkan pelbagai problem kehidupan.Ada delapan belas  nilai karakter yang  harus diterapakan padaseluruh tingkat persekolahan diantaranya adalah sebagai berikut: religius, sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain; jujur, perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yangselalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan; toleransi, sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya; disiplin, tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagaiketentuan dan peraturan; serta kerjakeras, perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya(lihat Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia , 2011:10).

Keteladanan
Sebenarnya secara konseptual kesadaran kita sudah menyadari perlunya penanaman nilai-nilai karakter kepada generasi muda khususnya pada tulisan ini yaitu para pelajar. Gonta ganti kurikulum yang sempat “menghebohkan” itu pun pada akhirnya untuk menyelamatkan ahklak para pelajar. Kurikulum diselaraskan, guru didiklat agar dapat menjalankan tuntutan kurikulum, sekolah dikondisikan untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai karakter. Hasilnyanya? Nanti, perlu proses dan waktu. Kita tidak boleh lupa keberhasilan penumbuhkembangan nilai-nilai karaker tersebut memerlukan keteladan dari semua pihak, bukan semata-mata mengadalkan penerapan kurikulum di sekolah.

Keteladan tersebut harus ditunjukkan oleh semua orang yang merasa bertanggung jawab akan kelangsung kehidupan berbangsa dan bernegara dan menyelamatkan Indonesia untuk masa mendatang. Ketelandan tersebut juga harus dicontohkan sebab keteladanan bukan hanya pengetahuan tetapi sikap mental yang merasuk kedalam jiwa setiap warga bangsa. Pemerintah, masyarakat, keluarga, warga sekolah, dan individu pelajar itu sendiri harus menjadi contoh untuk melakukan keteladan dalam setiap aspek kehidupan dan perbuatan sehari-hari.

Sekedar memberikan contoh bentuk keteladan dalam hal disiplin waktu. Di beberapa Negara luar (baik Negara berkembang terlebih lagi Negara maju) tranportasi umum berupa kereta cepat untuk angkutan massa atau Mass Rapid Transit (MRT) baik berupa LRT, monorel, kereta komuter, ataupun bus—yang sebentar lagi insyaallah tahun 2018 ini LRT juga akan beroperasi di Palembang—pada setiap stasiun terdapat jadwal keberangkatan yang konsisten misalnya setiap lima belas menit sekali. Ini secara tidak langsung pemerintah selaku memegang otoritas pelayan publik ini mencontohkan atau mengajarkan keteladan kepada masyarakat tentang disiplin waktu. Artinya, penumpang yang terlambat ia akan ketinggalan dan diminta untuk menunggu lima belas menit kembali. Bentuk-bentuk keteladanan dalam hal disiplin waktu seperti ini sedianya diterapkan dalam semua bentuk pelayanan masyarakat sehingga keteladanan bukan sekedar slogan tetapi hidup dalam jiwa setiap individu yang pada akhirnya menjadi nilai-nilai karakter bangsa.

Begitu pula keteladanan yang harus dicontohkan masyarakat misalnya budaya tidak membuang sampah sembarangan. Sampai hari ini kita dapat melihat ada salah satu sudut di kota ini di mana masyarakat meletakan sampai di pinggir jalan sehingga sepanjang jalan itu merupakan deretan sampah rumah tangga. Masyarkat sengaja melakukan itu sebab nantinya  mobil sampah dari dinas kebersihan kota akan datang untuk mengambilya. Betul memang ada mobil dinas kebersihan yang mengambil sampah-sampah itu, tetapi hal itu tetap saja tidak mencerminkan nilai-nilai menjaga kebersihan lingkungan dengan baik. Bagaimana kalau tenaga dinas kebersihan tersebut berhalangan atau kendaraann pengangkut sampah itu mogok, maka kita akan melihat onggongkan sampah di sepajang jalan? Kiranya hal seperti ini tidak perlu terjadi, masyarakat tentu paham cara mengatasi persoalan tersebut. Inilah salah satu bentuk keteladanan yang perlu dicontohkan dalam kehidupan bermasyarakat dalam aktivitas keseharian yaitu membuang sampah pada tempatnya.

Contoh yang paling mudah ditemukan untuk meneladankan disiplin ini adalah saat berlalu lintas atau saat antri untuk keperluaan sesuatu hal. Dengan mudah kita sering menemukan masyarakat pengguna jalan yang tidak patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas. Celakanya, seperti ada perasaan bangga bila berhasil melanggar rambu-rambu lalu lintas, misalnya lampu masih merah pengguna kendaraan ini menerobosnya. Ini paling banyak terjadi. Bahkan beberapa waktu lalu polisi lalu linta mencoba membuat slogan di dekat lampu lalu (lampu merah) “Orang Pintar Taat Aturan”. Kalimat slogan ini menurut saya baik sekali guna memotivasi pengguna jalan untuk bertindak rasional dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Tindakan seperti ini mencerminkan akhlak yang baik sebagai manusia yang berpikir (cerdas). Namun, masih ada saja pengguna jalan yang menerobos lampu lalu lintas dan berseloroh, “Ya, orang pitar taat aturan tetapi saja orang bodoh maka saja terus saja!”

Demikian pula dalam berdiri dalam barisan untuk antre, kita sudah terbiasa untuk saling mendahului sehingga tidak pernah tertib. Ada pengalaman yang tidak mengenakkan bagi saya selalu anak bangsa yang pada saat itu berkesempatan berkunjung Negara tetangga. Beberapa orang tampak  antre secara bergelombol di tempat pemeriksan  imigrasi. Dari logat bahasa yang mereka gunakan saya memastikan mereka adalah saudara-saudara kita yang menjadi TKI. Mereka antre dengan cara bergerombol sebab terbiasa begitu barangkali. Tentu saja ini membuat marah petugas imigrasi dan dengan lantang mengatakan bahwa antre itu satu satu bukan berebut. Ini bukan negaramu! Ya, kalimat terakhir itu membuat darah saya terkesiap, ini bukan negaramu! Oleh perilaku segelintir orang karakter sebuah bangsa menjadi taruhannya.

Keteladanan juga harus ditampakkan dalam keluarga. Bagaimana kita melarang anak-anak menonton televisi atau main game melalui telepon genggam pada jam-jam anak belajar sementara orang tua melakukan hal itu. Bagaimana kita selaku orang tua dapat memberikan keteladanan kalau diri kta sendiri tidak dapat mencontohkan keteladanan kepada anak-anak kita.

Tanpa keteladanan nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada generasi penerus dalam hal ini para pelajar tidak akan bermakna apa-apa, bahkan salah Sawali (http://agupena.or.id) menyebut pelajar kita akan mengalami “generasi terbelah” artinya di sekolah ia mendapat pengetahuan dan contoh-contoh tentang penumbuhan nilai-nilai karaktertetapi di luar sekolah ia akan menghadapi hal-hal yang sebaliknya.

Penutup
Salah satu rasional perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 adalah antisipasi terhadap kekhawatiran terhadap semakin merosotnya akhlak para peserta didik. Menurut Takdir Ilahi (2014:27) ada lima permasalah pendidikan di Indonesia yang terkait dengan krisis karakater, yaitu krisis moral, krisis spiritual, krisis keluhuran budaya, krisis keteladanan,  serta  krisisi orientasi dan kebijakan. Oleh karena itu kurikulum dirancang untuk memperkukuh sejumlah nilai-nilai karakter yang baik. Karakter berkaitan dengan pedoman hidup sehari-hari yang amat diperlukan guna mengambil keputusan dalam memecahkan pelbagai problem kehidupan seperti nilai-nilaireligius, jujur, toleransi, disiplin, serta kerjakeras.

Penumbuhkembangan nilai-nilai karakter memerlukan keteladanan. Keteladan tersebut harus ditunjukkan oleh semua orang yang merasa bertanggung jawab akan kelangsung kehidupan berbangsa dan bernegara dan menyelamatkan Indonesia untuk masa mendatang. Ketelandan tersebut juga harus dicontohkan sebab keteladanan bukan hanya pengetahuan tetapi sikap mental yang merasuk kedalam jiwa setiap warga bangsa. Pemerintah, masyarakat, keluarga, warga sekolah, dan individu pelajar itu sendiri harus menjadi contoh untuk melakukan keteladan dalam setiap aspek kehidupan dan perbuatan sehari-hari.

Tanpa keteladanan nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada generasi penerus dalam hal ini para pelajar tidak akan bermana apa-apa. Jangan sampai pelajar kita akan mengalami “generasi terbelah” artinya di sekolah (baca: kurikulum) ia mendapat pengetahuan dan contoh-contoh tentang penumbuhan nilai-nilai karaktertetapi di luar sekolah ia akan menghadapi hal-hal yang sebaliknya. ***

Lahir di Musi Banyu Asin, 01 Januari 1969. Pendidikan S2 Bahasa Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya tahun 2011. Saat ini penulis sedang melaksanakan tugas perbantuan sebagai guru Sekolah Indonesia KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. Aktif menulis di berbagai media baik lokal maupun nasional. Tulisan berupa cerpen dan puisi banyak dimuat surat kabar Sriwijaya Post, Berita Pagi, Sumatera Ekspres, dan majalah remaja Annida. Kini menjadi Ketua II Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top