Menjadi Guru: Antara Profesional dan Passion

Rubrik Pendidikan Oleh

Dr. Supangat MA
(Agupena DKI Jakarta)

Menjadi seorang guru bukanlah mudah apalagi dengan munculnya UU Guru dan Dosen No 14/2005 yang menjadikan status guru menjadi profesi yang setara dengan profesi notaris, dokter, pengacara, dan seterusnya. Sebagai professional (sosok yang berstatus profesi) tentu tidaklah mudah, untuk itu dibutuhkan minimal empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana terungkap dalam PP 74/2008, yaitu (1) kompetensi pedagogik merupakan kemampuan seorang guru dalam memahami karakteristik atau kemampuan yang dimiliki oleh murid; (2) kompetensi kepribadian adalah salah satu kemampuan personal yang harus dimiliki oleh guru profesional dengan cara mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; (3) kompetensi profesional sebagai salah satu unsur yang harus dimiliki oleh guru dengan cara menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam akan struktur dan metodologi keilmuannya, dan (4) kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik melalui cara yang baik dalam berkomunikasi dengan murid dan seluruh tenaga kependidikan atau juga dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Pertanyaannya mana yang lebih menonjol dari empat kompetensi tersebut? Terorinya memang tentunya kompetensi pedagogik karena guru itu intinya di KBM (Proses Belajar Mengajar). Namun, kenyataannya, baik berdasarkan data, pengalaman, maupun kajian mendalam, yang perlu ditonjolkan adalah kompetensi kepribadian yang dalam bahasa lain penulis menyebutnya passion. Walaupun anehnya pemerintah justru fokusnya pada aspek kompetensi profesional.

Mengapa passion lebih harus difokuskan dibanding profesional? Mari kita mengkajinya berbasis data dan analisa terhadap pendekatan profesional yang seringnya hanya aspek ijasah dan sertifikat pendidik, dan juga lainnya.

Menurut sumber data Kemendikbud, jumlah guru di Indonesia ada 5,488,758 orang. Jika dilihat dari aspek ijasah yang dimiliki oleh guru-guru kita, maka data membuktikan bahwa kalau dihitung yang belum berijasah S1 terdapat 2,068,160.00 atau sekitar 38%. Sementara guru yang sudah S1 ke atas ada 3,420,598 atau sekitar 62%, dan ini belum dilihat dari aspek apakah yang S1 memiliki jurusan kependidikan yang cocok dengan materi yang diajarkannya, maka dipastikan prosesntasenya akan mengecil.

Akan terlihat lebih tidak nyaman lagi jika dilihat dari aspek sertifikat pendidik, karena baru ada 30% dari seluruh jumlah guru yang mengajar anak-anak kita atau sekitar 1.638.240, dan ternyata yang aktif mengajar dari data tersebut lebih nyiris lagi karena didalamnya hanya 22% atau hanya sekitar 1.221.947

Belum lagi jika dilihatnya dari berapa dari guru-guru tersebut yang mengajarnya sama dengan jurusan yang diikutinya saat kuliah? Berapa guru-guru yang memiliki dan mengikuti pelatihan rutin yang sesuai dengan materi ajar dan metode mengajarkannya? Bagaimana dengan rasio jumlah guru yang berseritfikat pendidik dengan siswa?

Jika dengan menggunakan logika analisis dengan data minor terhadap 1.221.947 guru yang sudah tersertifikasi dan aktif mengajar. Dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut berapa dari mereka yang menjalankan perannya secara professional? Maka analisanya adalah sebagai berikut, profesional membutuhkan 3 tahapan yaitu: paham akan profesinya dan menjalaninya secara terpaksa, menjalankan kadang-kadang, dan menjalannya secara terus menerus (terbiasa). Angka moderatnya biasanya terpaksa 50% karang-kadang 35% dan terbiasa hanya 15%. Jika yang diambil angka 15% maka dari 1.221.947 hanya tersisa 183.292 guru terbiasa dengan profesi sebagai guru yang professional

Namun, jika pendekatannya dirubah dari fokus utama kompetensi professional ke kepribadian (passion) maka kita akan terasa sangat opitimis. Karena jika yang diukur adalah pribadi seorang guru yang digugu dan ditiru maka pencapainnya akan jauh lebih tinggi. Jelas bahwa umumnya minimal 80% orang akan meilhat prilaku sesuai dengan profesinya atau akan ada sekitar 4,391,006 dari total guru secara nasional. Coba bandingkan pendekatan Kompetensi Pedagogik akan memunculkan guru hanya 183.292 sementara dengan pendekatan Kompetensi Kepribadian akan memiliki 4,391,006, walau harus diakui masih berbasis analisa common sense

Untuk itulah maka marilah kita, khususnya Kemendikbud, mulailah bergerak dari jumlah guru empat jutaan ini bahkan berpotensi lebih, jika logika pendekatan ke guru lebih difokuskan pada passion daripada sekedar administrasi profesi. Salah satu untuk menjadi penggerak awal untuk melangkah adalah dengan menyiapkan guru-guru yang: (1) memiliki pribadi yang terus menjadi model bagi siswa-siswa mereka; (2) sosok pembelajar yang berkomitmen meningkatkan kualitas diri; (3) pribadi yang selalu siap ditugaskan di mana saja yang sesuai dengan harapan bangsa, lembaga, dan tentu sesuai keinginan sang guru yang menjalankannya; dan  (4) terus memiliki nasionalisme atau loyalitas pada lembaga, yang jika itu sekolah Islam maka loyal pada Allah dan Rasulnya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top