Home » Cerita Anak » Sastra » SOK JAGOAN » 991 views

SOK JAGOAN

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Erawati Heru Wardhani

Obit baru saja masuk ke kantin sekolah ketika melihat Pepen menyambar kue di depan Reti. Reti yang asyik mengobrol dengan Dina sepertinya tidak melihat kuenya raib.

“Pepen!” Teriakan Obit membuat Pepen, Reti dan Dina menengok ke arahnya.

“Ada apa?” jawab Pepen sambil tetap menjilati gula yang melapisi donat ditangannya.

“Kalau berani macam-macam sama anak perempuan, hadapi aku!” kata Obit sambil bertolak pinggang.

“Hah?” Pepen langsung berhenti mengunyah donat. Bengong. Begitu juga Reti dan Dina, mereka tampak bingung.

“Reti, kamu nggak tahu kuemu diambil Pepen? Makanya jangan suka keasyikan ngobrol,” tegur Obit.

“Kamu apa-apaan, sih, Bit? Pepen memang aku panggil karena mau aku kasih kue,” jelas Reti.

“Makanya kalau mau marah lihat-lihat dulu.” Pepen menjulurkan lidah lalu melanjutkan makan donatnya.

Kali ini Obit yang bengong. Ternyata dia salah duga. Dia jadi malu sendiri. Untung Pepen tidak marah, malah tertawa meledek Obit.

Bukan sekali ini saja, Obit menggertak temannya. Kemarin sore saat melintas di depan rumah Raihan, dia memergoki Raihan melemparkan bola kasti ke arah balok-balok yang baru saja disusun Jeihan, adiknya. Obit langsung memarahi Raihan.

“Raihan, usil banget sih, sama adik sendiri!” teriaknya.

Belum sempat Raihan menjawab, Obit sudah berlari menghampiri Jeihan.

“Jeihan, kalau kakakmu usil lagi, biar Kak Obit yang balas,” katanya sambil membantu membereskan balok-balok Jeihan.

“Kakak enggak usil, kok! Kami sedang main lempar bola. Yang paling banyak merobohkan balok, dia pemenangnya,” jawab Jeihan polos.

“Oh!” Obit tersipu malu dan segera berlalu.

Teman-teman Obit jadi heran dengan sikap Obit yang mendadak berlagak jadi pahlawan.

“Kamu kenapa sih, Bit? Kok, sikapmu jadi kayak jagoan saja?” tanya Pepen penasaran. Saat itu Pepen, Raihan dan Romi sedang bermain di teras rumah Obit.

“Aku memang ingin jadi jagoan yang membela siapa saja yang butuh bantuan,” jawab Obit tegas.

“Bagus sih, tapi sikapmu terlalu berlebihan,” sahut Romi.

“Iya, bikin orang sebel dengan gayamu!” timpal Raihan sambil memonyongkan mulutnya.

“Mana sering salah, lagi,” tambah Pepen lalu tertawa.

“Hei, kalian kenapa jadi menyerang aku!” Obit teriak marah.

Om Gilang yang sedang membaca di ruang depan, keluar mendengar keponakannya ribut di teras.

“Obit, kenapa teriak-teriak, sih?”

Teman-teman Obit menceritakan semuanya. Om Gilang manggut-manggut, sesekali tersenyum.

“Obit, Om mengajari kamu bela diri bukan untuk sombong-sombongan, ya,” kata Om Gilang perlahan.

Kali ini giliran teman-teman Obit yang manggut-manggut sambil tersenyum. Mereka baru paham dengan sikap Obit belakangan ini. Obit menunduk malu.

“Namanya juga bela diri, digunakan hanya ketika ada yang berbuat jahat pada kita. Fungsinya untuk membela diri, bukan untuk menantang atau menyerang orang,” jelas Om Gilang.

Obit memang baru seminggu berlatih karate. Om Gilang, adik papanya baru tinggal di rumah Obit karena diterima kuliah di kota tempat Obit tinggal.

Setelah menjelaskan sedikit tentang bela diri karate, Om Gilang mengajak teman-teman Obit ikut berlatih setiap minggu pagi. Kata Om Gilang selain untuk membela diri, karate juga bagus untuk kesehatan.

Teman-teman Obit senang bisa berlatih karate bersama Om Gilang. Obit juga senang. Berlatih dengan banyak teman ternyata lebih seru dibanding sendiri. Yang jelas, sejak itu Obit tidak lagi bergaya sok jagoan karena sudah tahu kegunaan bela diri.
*****

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

Saat Liburan Panjang Tiba

Oleh Sardono Syarief Andra segera menyimpan buku bacaan yang dipinjamnya dari perpustakaan

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,
Go to Top