LI, GADIS PEMBUAT LENTERA

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Erawati Heru Wardhani

Setiap melintas jalan kecil di batas desa, Han selalu tergoda untuk menengok ke sebuah rumah kecil bercat merah. Entah apa yang membuatnya ingin selalu berhenti sejenak mengamati rumah itu. Bagi orang lain, mungkin rumah itu tidak menarik. Rumah tua yang kayunya sudah keropos, pintunya selalu tertutup, dan tanpa jendela! Han jadi ingin tahu, seperti apakah penghuninya sehingga tidak mau bersahabat dengan dunia luar.

Sore itu, sepulang dari rumah Bibi Tsia, Han kembali menatap rumah itu. Han berdiri di bawah pohon, sehingga orang akan menyangka kalau dia sedang berteduh dari terik matahari sore. Dia menebak-nebak apa yang dilakukan penghuninya. Apakah mereka bekerja atau hanya tidur saja. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang bapak dengan baju yang lusuh keluar, membawa beberapa lentera kertas berwarna merah. Dia meletakkannya di bangku depan. Bapak itu kembali masuk. Ketika keluar, dia membawa lebih banyak lagi lentera. Tapi yang membuat Han terkejut adalah, ketika seorang anak perempuan, mungkin seumurnya, keluar. Dia berjalan perlahan dengan tangan kanan membawa lentera kertas, tangan kiri meraba-raba dinding. Han langsung memperhatikan mata gadis itu. Kedua kelopak matanya tertutup. Gadis itu buta!

Meski belum pernah mengenalnya, Han tiba-tiba merasa sedih melihat gadis itu. Apalagi melihat baju dan penampilannya yang sangat lusuh. Gadis itu membantu bapaknya meletakkan beberapa lentera ke dalam keranjang sepeda. Saat bapak itu keluar pagar dengan sepedanya, Han masih berdiri di bawah pohon.

“Mau ke mana, Nak?” sapa bapak itu ramah.

“Saya mau pulang, hanya ingin berteduh sebentar. Bapak mau menjual lentera?” balas Han.

“Betul, Nak. Menjelang Festival Lentera, banyak orang kota yang memesan.”

“Bapak membuat sendiri?” tanya Han memperhatikan lentera itu.

“Ya, dibantu oleh Li, anak bapak. Dia pintar membuat lentera.”

“Li hebat sekali, ya, Pak,” puji Han tulus.

“Iya, sayang dia tidak mau berteman dan bersekolah karena malu,” kata bapak itu dengan wajah muram.

“Kapan-kapan boleh saya mengajak teman-teman untuk bermain bersama Li?”

“Tentu saja, Nak. Dia selalu menyendiri, apalagi setelah ibunya meninggal.” Mata bapak itu berkaca-kaca.

Han terharu. Dia bertekad suatu hari akan datang bersama teman-temannya.
*****

Hari ini, tepat hari ke-15 bulan pertama kalender China. Semua rakyat China bersiap merayakan Festival Lentera atau disebut Yuan Xiao. Termasuk warga desa tempat tinggal Han. Desa kecil di Provinsi Sichuan, China. Sejak siang Han mengajak Wang, Liu, Xi dan Zie ke rumah Li. Mereka sudah meminta orang tua mereka dan tetangganya untuk membeli lentera pada Li gadis buta.

Awalnya, Li tidak mau menemui mereka, tapi setelah dibujuk ayahnya, akhirnya Li mau keluar. Sebenarnya Li anak yang menyenangkan dan manis. Dia hanya malu dengan kondisi fisiknya. Han dan teman-teman mengajak Li bercanda dan bermain. Lama-lama Li pun akrab. Dia bisa tersenyum dan tertawa. Han dan teman-temannya berhasil meyakinkan Li, meski cacat, Li bisa bermain dengan teman-teman yang normal. Mereka juga memuji kehebatan Li membuat lentera. Suatu saat mereka ingin diajarkan membuat lentera.

Malamnya, Festival Lentera berlangsung meriah. Penduduk desa menggantungkan lentera merah dengan berbagai bentuk ke pohon di sepanjang jalan. Anak-anak juga keluar dengan membawa lentera. Mereka beramai-ramai menyelesaikan teka-teki di lentera. Mereka juga menikmati kue yuan xiao, yaitu kue yang dibuat dari tepung beras. Semua bergembira.

Tampak di antara anak-anak itu adalah Li, gadis pembuat lentera. Meski buta, dia tidak malu lagi. Sekarang dia punya teman-teman yang baik. Bapak Li juga sangat bahagia melihat putrinya bisa bergembira bersama teman-teman barunya.

Tapi mungkin yang paling bahagia adalah, Han. Dia tidak lagi melihat kesedihan di wajah Li. Han juga tidak penasaran lagi jika melihat rumah tua di batas desa. Di balik rumah tanpa jendela itu, ternyata selama ini Li yang buta menciptakan lentera yang kini menerangi desanya. Meski hidupnya dalam kegelapan, ternyata Li bisa memberi keceriaan dan bisa menerangi desanya melalui lenteranya. *****

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

Saat Liburan Panjang Tiba

Oleh Sardono Syarief Andra segera menyimpan buku bacaan yang dipinjamnya dari perpustakaan

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,
Go to Top