Kebijakan Full Day School dan Pembelajaran yang Menyenangkan

Rubrik Pendidikan Oleh

Dr. Supangat MA
Ketua Agupena DKI Jaya

Dalam beberapa kesempatan, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggagas pentingnya menerapkan sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Minimal beliau menyebutkan tiga alasannya, pertama agar anak tidak sendiri ketika orangtua mereka masih bekerja, kedua bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai dijemput orangtuanya seusai jam kerja, dan ketiga anak-anak bisa pulang bersama-sama orangtua mereka sehingga ketika berada di rumah mereka tetap dalam pengawasan, khususnya oleh orangtua.

Kata full day school biasanya dipahami sebagai sekolah yang aktivitas pembelajarannya diawali dari pukul 07.00 pagi hingga jam 16.00 sore hari. Bagi lembaga Islam biasanya diakhiri dengan shlat Ashar berjamaah. Durasi 9 jam dalam proses pembelajaran yang berkurikulum pemerintah (Kurikulum Nasional) jelas akan mengakibatkan kelelahan dan kejenuhan yang tinggi, karena dengan pulang jam 12.00 saja banyak anak-anak merasakan lelah berada di sekolah, apalagi hingga pukul 16.00.

Kondisi ini tentu membutuhkan energi bagi para sekolah khususnya para guru untuk memberikan strategi yang solutif agar bisa menjadikan anak-anak betah di sekolah, yang salah satunya menurut penulis dengan penerapan metode pembelajaran yang fun (menyenangkan) yang akan menjadikan anak didik termotivasi dan senang untuk belajar, yang hal ini berkonsekuensi pada kesuksesan mereka di kemudian hari.

Jika cara mengajar gurunya masih dengan metode ceramah/presentasi dapat membuat anak-anak jenuh karena informasi yang masuk ke dalam otak anak hanya melibatkan pendengaran tanpa dilengkapi dengan ingatan visual, dan peran gerak motorik. Namun, jika melibatkan semua aspek (pendengaran, penglihatan, pemikiran, dan gerak) maka siswa dapat mempertahankan informasi dalam jangka yang cukup lama di otaknya.

Metode pembelajaran fun learning yang penulis cantumkan dalam tulisan ini merupakan bahasa penyederhanaan dari teori active learning. Hal ini sengaja penulis ubah karena kata fun lebih terasa mudah dipahami dibanding kata active, yang dulunya dikenal sebagai ‘learning by doing’.  Bahkan, sudah lebih dari 2400 tahun yang lalu, konsep belajar ini sudah dikenalkan oleh Confucius dengan konsepnya What I hear, I forget, What I see, I remember, What I do, I understand

Arti kata fun learning adalah suatu upaya untuk membuat para siswa dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan. Siswa diharapkan dapat aktif, bebas mengekspresikan ide-idenya, dan mandiri dalam menyelesaikan masalahnya, di mana siswa diberi kesempatan untuk bereksplorasi, memecahkan masalah, bereksperimen, dan berkreasi dalam kegiatan belajar sehari-hari. Siswa dirangsang untuk aktif, kreatif, mandiri, dan memiliki disiplin yang tinggi. Mereka pun belajar menghargai pendapat orang lain pada saat berdiskusi, dan bagaimana cara menyampaikan pendapat dengan baik. Kegiatan fun learning adalah kegiatan yang variatif, menyenangkan, penuh gairah, dan optimalisasi pribadi siswa. Belajar aktif membuat siswa tidak harus selalu duduk di kursi,  mereka dapat bergerak terarah dan berfikir secara maksimal.

Ada beberapa asumsi dasar dalam pembelajaran fun learning ini. Pertama, siswa/anak didik adalah subjek inti dalam proses pembelajaran, sehingga merekalah yang aktif dengan mempertimbangkan keseimbangan seluruh ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik mereka. Kedua, guru merupakan sosok fasilitator yang membimbing anak didik untuk belajar mandiri, guru bukanlah penceramah atau nara sumber. Ketiga, kurikulum seharusnya sesuai dengan kemampuan anak didik dan juga sesuai dengan kebutuhan mereka dan kurikulum nasional (Kurikulum 2013) sedikit banyak mendukung kondisi ini. Dan keempat, lingkungan, terutama kelas, harus di-setting sedemikian rupa sehingga anak didik merasakan siap untuk belajar saat masuk di dalamnya. Guru harus men-setting kelas (kursi dan meja) yang memang diniatkan dari awal dengan pendekatan komunikatif untuk kenyamanan dan kesiapan peserta didik  dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran misalnya: Huruf U, Corak Tim, Meja Konferensi, Lingkaran, Kelompok untuk kelompok, Workstation, Breakout grouping, Susunan Chevron, dan Auditorium.

Salah satu contoh pembelajaran yang fun yang penulis dapat sampaikan adalah belajar dengan kegiatan menjodohkan, dimana guru membutuhkan bahan/aturan, antara lain: kertas kecil yang berisi soal, jawaban ditulis/ditempel pada botol gelas air kemasan, usahakan jarak antara lembar soal dan gelas jawaban cukup jauh agar siswa dapat bergerak lari. Dengan cara bermain sebagai berikut: guru menjelaskan prosedur ‘permainan penjodohan’, dan beberapa siswa berkelompok dan setiap kelompok diberi beberapa soal dalam bentuk kertas kecil, jawaban ditulis/ditempel pada botol air kemasan, dan akhirnya siswa dengan lari untuk me-matching-kan antara penjelasan yang di kertas agar dimasukkan dalam jawaban yang tertempel pada botol air kemasan tersebut. Model permainan ini akan menjadikan siswa dapat mendengarkan materi dengan baik dan juga akan mengenal dan memahami materi dengan baik dan cepat. ***

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*