Membenahi Pendidikan Indonesia

Rubrik Pendidikan Oleh

Inggar Saputra
(Dosen Universitas Mercubuana)

Mata dan pikiran saya terus terusik. Setelah Jepang Foundation terus memassifkan pergerakan budaya dan pendidikan, kini Malaysia ikutan beraksi. Dalam silaturahmi ke sebuah tempat di Kuningan, saya disarankan mengunjungi promosi kampus Malaysia di Indonesia. Dan akhirnya saya, menemukan fakta baru. Pendidikan Malaysia terus berbenah, mengejar ketinggalan dari negara Asia Tenggara lainnya.

Bukan main, dan bukan main-main. Pusat Pendidikan Malaysia di Kuningan menjanjikan tawaran menarik. Beasiswa berlimpah, pilihan kampus yang banyak, terpenting dukungan besar kepada mahasiswa asing. Tak lupa menyebut, tawaran menggiurkan publikasi jurnal internasional. Di luar itu, ada kesempatan finansial yang besar, jika Anda tertarik menjadi tenaga pengajar di negeri jiran tersebut.

Soal beasiswa, Indonesia boleh diadu. LPDP dan Beasiswa Unggulan, masih bisa diandalkan banyak anak bangsa. Tapi jujur, Malaysia menjanjikan berbeda. Sebuah tawaran beasiswa yang beragam, plus dilengkapi tanggungan pembiayaan yang lebih banyak. Dibandingkan dua beasiswa Indonesia, tentu ada sisi berbeda. Meski kalau mau jujur, beasiswa Indonesia sebenarnya cukup baik, tapi adanya persoalan “sunatan anggaran” dan “keterlambatan pencairan anggaran” merupakan dua dosa yang masih sulit dihilangkan.

Pilihan kampus, ini yang cukup unik. Secara umum, Indonesia masih cukup unggul dengan pilihan kampus negeri cukup banyak. Tapi ada sebuah cerita unik dari seorang pemandu acara tersebut, sebuah kampus negeri di Malaysia ingin terus menyerap mahasiswa asing berkualitas. Dikabarkan, sang rektor harus turun gunung termasuk ke Indonesia untuk mengejar mimpi kampusnya tersebut. Selama di Indonesia, Rektor kampus tersebut berpromosi, siap menyediakan ruang dan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia yang siap bergabung di kampusnya. Serius sekali rupanya, kampus Malaysia mengalahkan Indonesia.

Pada kesempatan itu, sang pemandu pameran mengatakan, Malaysia sedang berusaha mengejar label kampus berkelas dunia. Cita-cita ini ditanamkan dengan baik pemerintah Malaysia kepada kampus negeri dan swasta. Salah satu persyaratannya mencapai world class university harus memenuhi kuota tertentu jumlah mahasiswa asing. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Indonesia menjadi salah satu sasarannya. Dengan menjanjikan kualitas pendidikan tinggi terbaik, mereka siap bersaing dalam kompetisi dunia global.

Bagi penikmat dunia tulisan, hal terakhir yang cukup menggiurkan dalam belajar ke Malaysia adalah publikasi internasional. Saya cukup paham mengapa kebijakan pemerintah Indonesia terus mendorong publikasi internasional sangat gencar belakangan ini. Salah satunya, kelihatan sekali pemerintah Indonesia cukup menahan malu dikalahkan Malaysia dalam persoalan ini.

Terlihat sekali keseriusan Malaysia dalam publikasi internasional dengan mewajibkan setiap semester kepada mahasiswa khususnya pasca sarjana untuk menulis di jurnal bereputasi internasional (terindeks Scopus misalnya) Hal ini meninggalkan dua pelajaran penting, yaitu membiasakan mahasiswa membuat tulisan berkelas dunia dan menjaga mahasiswa agar tidak kaget dengan aturan penulisan tugas akhir yang cukup ketat.

Ini berbeda dengan kebijakan setengah hati pemerintah Indonesia, yang misalnya mensyaratkan wajib publikasi internasional pada tugas akhir mahasiswa pasca sarjana. Lebih mengesankan paksaan menulis dibandingkan memberikan edukasi sejak dini pentingnya menulis di jurnal internasional. Maka tak usah heran, menulis di jurnal internasional meninggalkan kesan “dipaksa” dibandingkan sadar diri, bahwa itu sesuatu yang penting.

Akhirnya, tulisan ini berangkat dari pesan sederhana, agar pendidikan tinggi Indonesia harus berbenah diri. Teringat saya pada sebuah kalimat bijak, “Dulu tahun 1960-an, pendidikan Malaysia belajar banyak termasuk datang ke Indonesia untuk menyerap ilmu dari negeri ini. Sekarang karena kita asyik terbuai dan miskin inovasi, negeri tetangga itu jauh meninggalkan kita” Ya, jika miskin inovasi dan gagal berbenah diri, jangan salahkan jika Indonesia semakin tertinggal dari negara lain. Selamat belajar dan berinovasi. ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top