Home » Cerita Anak » Sastra » NAMAKU JIGME » 1019 views

NAMAKU JIGME

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Erawati Heru Wardhani

Namaku Jigme. Aku berasal dari sebuah desa kecil di Tibet. Meskipun kehidupan kami sangat miskin, namun aku hidup bahagia bersama ayah, ibu dan adikku, Lakhpa. Setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk bermain. Bermain layang-layang bersama adikku, atau bermain di sungai bersama teman-temanku.

Namun pada suatu hari, kedua orang tuaku memanggilku. Mereka mengatakan kalau aku akan dikirim ke India untuk sekolah. Ya, selama ini aku memang tidak bersekolah karena orang tuaku tidak mempunyai uang.

Setahuku, setelah negara China memasuki negaraku, negaraku berubah menjadi bagus. Banyak dibangun gedung-gedung dan taman-taman yang indah. Tapi entah kenapa kehidupan bangsa kami justru semakin buruk. Aku dan teman-teman tidak bisa bersekolah karena biayanya tidak terjangkau. Untuk makan saja, keluargaku harus membayar mahal. Tapi seperti aku bilang tadi, meskipun miskin, aku merasa bahagia karena bisa berkumpul dengan keluargaku. Itulah sebabnya keputusan orang tuaku untuk mengirimku ke India, sangat membuatku sedih.

Sore itu aku menatap pegunungan Himalaya yang terhampar di depanku. Besok aku harus meninggalkan ibu, ayah dan Lakhpa yang sangat kucintai. Meninggalkan desa dan rumahku. Tak terasa air mataku menetes. Kenapa orang tuaku tega menyuruhku pergi? Apakah mereka sudah tidak menyayangiku lagi? Setelah mengusap air mata, aku kembali menatap pegunungan yang tampak putih tertutup salju. Celah diantara pegunungan itulah yang besok harus kulewati. Tapi sungguh, bukan itu yang membuatku takut. Aku hanya sedih membayangkan akan berpisah dari keluargaku.

“Jigme, jangan menangis, ibu sangat sayang kepadamu,” seperti tahu pikiranku, tiba-tiba ibu memelukku dari belakang. Aku hanya bisa menatap ibu dengan mata yang masih basah oleh air mata.

“Ibu hanya ingin kamu mendapat pendidikan yang lebih baik,” kata ibu. “agar hidupmu tidak susah seperti saat ini,” lanjutnya lagi.

Aku hanya mengangguk, berusaha memahami kata-kata ibu.

Dan hari kepergianku pun tiba. Aku berkumpul bersama delapan anak seumurku dan enam orang dewasa yang akan mengantar kami menuju India. Ayah membawakan aku selimut dan memakaikan kaos kaki tebal. Ibu membekaliku minum dan tsampa, makanan utama kami yang dibuat dari sejenis gandum. Ya, aku dan teman-temanku akan berjalan kaki melewati celah pegunungan Himalaya untuk mencapai India.

Perjalanan selama dua minggu kami tempuh dengan penuh perjuangan. Berjuang melawan dinginnya salju, bertahan dari kelaparan. Setiap kali aku putus asa, aku kembali teringat kata-kata ibu. Aku pergi untuk belajar dan memperbaiki hidupku agar lebih baik. Kata-kata ibu membuatku tetap semangat melanjutkan perjalanan.

Akhirnya aku sampai di suatu tempat di India yang bernama Dharamsala. Ternyata di sini banyak sekali orang dari negaraku. Dan ternyata di sini pulalah, pemimpin kami, Dalai Lama diasingkan oleh pemerintah China. Pemimpin kami yang sangat baik dan bijaksana. Kami merasa aman dan senang berada di dekatnya.

Di sini aku bisa bersekolah dan tinggal di asrama. Tinggal di dekat pemimpin kami dan orang-orang dari negaraku, membuatku seperti berada di Tibet. Aku berharap, aku bisa berkumpul dengan keluargaku. Entah nanti setelah aku selesai sekolah, atau nanti setelah keluargaku menyusul tinggal di sini. Yang jelas aku harus rajin belajar agar masa depanku cerah, seperti harapan ibu.
*****

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

Saat Liburan Panjang Tiba

Oleh Sardono Syarief Andra segera menyimpan buku bacaan yang dipinjamnya dari perpustakaan

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,
Go to Top