PENDIDIKAN YANG MENCERAHKAN

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Tawakkal
Guru Sekolah Dasar di SDN 198 Bira, Kec. Bontobahari, Kab. Bulukumba

Pendidikan adalah merupakan hal yang wajib bagi seluruh umat manusia. Pendidikan akan membawa kesejahteraan hidup. Pendidikan rakyat yang tinggi akan membawa Negara kita maju dan mampu bersaing dengan Negara-Negara lain di dunia. Oleh sebab itu diperlukan adanya peningkatan pendidikan yang merata.

Hal utama dalam peningkatan pendidikan adalah Pendidikan yang mencerahkan. Pendidikan yang mencerahkan dimulai dari guru dan orang tua. Pendidikan harus berlandaskan pada tiga jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan akal, emosi dan spiritual. Guru yang memiliki ketiga jenis kecerdasan ini adalah pendidik yang telah mengalami pencerahan, yang akan mencerahkan anak didiknya dengan cara menggali potensi-potensi hebat mereka, menimbulkan kemauan mereka dengan melangsungkan proses belajar yang menarik, menghibur dan menyenangkan “Tanpa Kekerasan”

Guru hadir sebagai agen perubahan dan rekonsiliasi yang kreatif, mempraktekkan hidup damai dalam kebhinekaan di masyarakat. Guru hendaknya tidak saja menjadi pengajar atau teacher, namun juga berperan sebagai pembelajar, learner. Ia tidak hanya pandai dalam ilmu pengetahuan, smart teacher, dan sukses membangun perilaku, success learner, namun juga harus memberikan pencerahan jiwa, delight learner. Pendidikan semacam inilah kiranya yang akan mampu membebaskan dari kemiskinan berpikir dan pembodohan perilaku atau disebut pendidikan yang mencerahkan.

Proses belajar mengajar yang mencerahkan ini akan menjadi wahana penemuan diri, menjadi proses identifikasi diri dan pemecahan masalah yang dihadapi anak didik, baik itu masalah materi pelajaran maupun kehidupan pribadi mereka. Pendidikan yang mencerahkan adalah pendidikan yang memberikan anak didik hak-hak belajar mereka. Bukan semata transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga disertai keteladanan dari sang guru yang disaksikan dan dialami langsung oleh anak didik baik di kelas maupun di ruang publik.

Mengapa mesti belajar hingga yang sulitnya bikin pusing kepala? Tanpa belajar dan berlatih secara terus menerus maka seseorang tidak akan mencapai suatu tujuan pendidikan dengan maksimal. Oleh sebab itu, belajar tidak terlepas dari kemauan yang tinggi, jangan mudah menyerah, serta konsisten yang kuat dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Seorang Thomas Alfa Edison akhirnya bisa menemukan satu bahan yang cocok untuk membuat bohlam pada percobaannya yang ke-1000. Jangan terlalu mudah untuk menyerah dalam belajar.

Dalam hal ini, tugas guru adalah memberikan support, memandu, bukan mendikte, menunjukkan bukan membawa. Bagaimana bisa murid tidak menyontek, kalau guru masih mengajar dengan sistem menghafal? Tentu mereka akan memilih meng-copy paste jawaban dari buku biar dapat nilai bagus. Bagaimana murid tidak suka bolos, malas datang ke sekolah, jika gurunya hanya sibuk dengan urusan-urusan pribadi di luar sekolah? Guru harus tetap hadir di dalam kelas pada saat pelajaran sedang berlangsung. Dari pengalaman saya di kelas bahwa siswa akan menunggu gurunya yang tidak hadir apabila mereka selalu merasa di sayangi dan membutuhkan nasehat-nasehat dari guru. Siswa akan malas ke sekolah apabila guru selalu memberikan tugas sampai puluhan nomor kemudian tidak diperiksa. Di samping itu siswa akan merasa bosan, malas dengan berbagai macam alas an apabila seorang guru selalu menakut-nakuti siswanya.

Bagaimana bisa murid suka membaca, jika guru tidak memperkenalkan indahnya buku, juga tak pernah mendongengi murid dengan menarik? Bagaimana murid bisa berkembang jika berpikir atau berkata sedikit saja sudah dianggap “di luar batas” dan guru langsung mencapnya sebagai anak nakal?

Oleh sebab itu pendidikan yang mencerahkan adalah dimulai dari guru dan orang tua. Orang tua haruslah menjalin kerjasama yang baik dengan lembaga-lembaga pendidikan, memberi contoh yang baik bagi anaknya, begitu juga Seorang guru haruslah pandai-pandai menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkang. Proses pembelajaran bukan hanya di dalam kelas namun juga bisa di luar kelas. Sebagai contoh Mengunjungi suatu museum, tempat-tempat bersejarah di dalam daerah adalah merupakan salah satu proses pendidikan yang mencerahkan. Yang terakhir adalah pendidikan yang mendalam tentang agama dan keyakinan merupakan syarat utama dalam menciptakan pendidikan yang mencerahkan.

Sebagai penutup, penulis kutipkan beberapa kalimat penting dari Prof. Slamet Iman Santoso yang patut kita renungkan (Santoso, 1987). Kalau manusianya baik, maka barang yang rusak akan diperbaiki. Kalau orangnya rusak, maka barang yang baik akan dirusak, sesuai denga seleranya yang rusak. Orang pintar dalam menghadapi soal “ruwet-bundhet”, dapat menemukan jalan keluar yang sederhana. Orang bodoh, dalam menghadapi soal sederhana, menyebabkan soalnya menjadi “ruwet-bundhet”. ***

Lahir di Gowa / Maroanging 13 Oktober 1986. Alamat Dusun Dauhe, Desa Darubiah, Kec. Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, jenjang Strata Satu (S-1) PGSD. Mempunyai hobby, menulis, membaca, olahraga, travelling, dan sebagainya. Di samping sebagai guru pada Sekolah Dasar, penulis juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Kritik dan saran sangat diharapkan dan bisa disampaikan lewat akun facebook Tawakkal Thu Alallah atau ponsel/WA di 085255991914. http://tawakkalthualallah.blogspot.com. Kini menjadi Pengurus Agupena Cab. Bulukumba.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top