Memberikan Perhatian dan Meminimalkan Hukuman pada Anak

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Tawakkal
Guru Sekolah Dasar di SDN 198 Bira, Kec. Bontobahari, Kab. Bulukumba *)

Tidak berbeda dengan makanan, momen di sekitar kita yang tidak pernah berubah dan sebagainya akan membuat seseorang akan merasa jenuh. Di tempat kerja yang kurang bersahabat, kurangnya hiburan, serta keadaan-keadaan yang tidak pernah berubah dalam waktu yang lama juga akan membuat seseorang menjadi bosan. Sama halnya dengan pemberian hukuman pada anak yang berlebihan akan membuat mereka merasa jenuh, bosan hingga akhirnya mengeluh dan akan memberikan kesan yang membekas pada ingatannya yang sukar untuk dilupakan hingga akan menimbulkan rasa dendam.

Hukuman adalah tindakan pemberian pendidikan kepada anak didik karena telah melakukan suatu pelanggaran. Tujuan pemberian hukuman ini diberikan agar anak didik tidak lagi mengulangi kesalahan atau pelanggaran yang sama. Walaupun telah diperintahkan dalam agama, namun pemberian hukuman ini haruslah tidak membuat si anak didik cedera atau berakibat fatal bagi fisiknya. Seorang anak pastilah mempunyai karakter yang berbeda-beda. Nah, dari karakter inilah harusnya kita harus mengetahui jenis hukuman apa yang pantas diberikan. Dan tentunya hukuman yang mendidik. Pemberian hukuman dengan pukulan adalah sesuatu yang tidak pantas diberikan kepada anak, namun langkah inilah langkah yang terakhir yang harus diberikan kepada anak didik apabila pemberian teguran, pemberian hukuman ringan tidak lagi membuat si anak berubah. Pemberian hukuman kepada anak seharusnya bertahap. Mulai dari teguran, hukuman yang ringan, sedang hingga hukuman yang berat. Berilah hukuman pada anak namun jangan berlebihan.

Berbeda halnya dengan pemberian perhatian bagi anak. Pemberian perhatian ini tentunya haruslah berlebihan. Ini jelas bertolak belakang dengan pemberian hukuman. Jika seorang anak diberikan perhatian lebih pada semua aspek kehidupannya, maka akan membuahkan hasil yang maksimal dan akan melahirkan generasi bangsa yang cerdas dalam segala hal. Inilah yang dimaksud dengan pendidikan dengan perhatian. Pemberian perhatian ini dapat digolongkan ke dalam beberapa aspek, antara lain adalah :

  • Perhatian dari segi agama dan kepercayaan. Mendidik seorang anak harus dimulai dari segi agama. Mengapa demikian? Apabila pondasi iman seorang anak telah matang, maka tidak ada lagi keraguan yang akan membuat seorang anak akan terjerumus dalam hal yang dilarang oleh agama. Barulah selanjutnya dengan pemberian perhatian dari segi yang lain;
  • Perhatian dari segi mental anak dan kesehatannya. Pendidikan ini dimaksudkan agar seorang anak tidak mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang bisa merusak mental serta kesehatannya. Mari kita melatih anak didik menjadi pemberani, mempunyai rasa rendah diri, tidak mempunyai rasa angkuh, dan sebagainya. Sama halnya dengan kesehatan. Kesehatan adalah hal penunjang setelah pendidikan agama seorang anak. Biasakanlah seorang anak mengkonsumsi makan sehat dan halal. Bila pendidikan dan kepercayaan anak serta kesehatannya baik maka langkah selanjutnya adalah memberikan perhatian dari segi sosial anak;
  • Perhatian dari segi sosial. Bagaimana manusia bisa hidup tanpa orang lain? Maka jawabannya adalah mustahil. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung pada orang lain. Kita akan selalu meminta bantuan orang lain apabila ada hal yang tidak mampu kita kerjakan sendiri. Ini adalah contoh kecil bahwa manusia pasti membutuhkan orang lain untuk mempertahankan hidupnya. Itulah sebabnya seorang anak haruslah diberikan pendidikan dari segi Bagaimana cara bergaul yang baik, tidak meremahkan orang lain, serta pendidikan selalu ingin dan rela membantu orang lain tanpa imbalan. Seorang anak yang pandai bergaul akan membuat si anak tersebut bisa mendapatkan sahabat yang banyak. Seperti kata kalimat “Banyak teman banyak rejeki”

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, marilah kita memberikan pendidikan kepada anak dengan perhatian yang lebih dari segala aspek kehidupan seorang anak. Namun jangan memberikan pendidikan dengan hukuman yang berlebihan. Semoga kita semua bisa melahirkan generasi bangsa yang cerdas dari segi imtaq dan iptek sehingga bisa bersaing dengan Negara-negara maju di dunia.  ***

Lahir di Gowa / Maroanging 13 Oktober 1986. Alamat Dusun Dauhe, Desa Darubiah, Kec. Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Penulis merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, jenjang Strata Satu (S-1) PGSD. Mempunyai hobby, menulis, membaca, olahraga, travelling, dan sebagainya. Di samping sebagai guru pada Sekolah Dasar, penulis juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Kritik dan saran sangat diharapkan dan bisa disampaikan lewat akun facebook Tawakkal Thu Alallah atau ponsel/WA di 085255991914. http://tawakkalthualallah.blogspot.com. Kini menjadi Pengurus Agupena Cab. Bulukumba.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top