Tiga Alasan Guru Harus Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah
(Dosen Manajemen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Jakarta/FAI-UMJ, dan Blogger di strategikeuangan.com)

Hidup adalah pilihan. Begitu pun kita, yang menjatuhkan pilihan pada profesi  guru, mulai dari Guru Kelompok Bermain, Guru Mengaji, Guru Les, dan Guru di Perguruan Tinggi atau Dosen dan  guru-guru lainnya, yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

Maka dari itu, karena menjadi guru adalah pilihan yang telah kita putuskan, tentu harus ada konsekuensi yang musti kita terima dari setiap pilihan yang telah kita tentukan. Khususnya pilihan menjadi seorang guru.

Salah satu konsekwensi yang harus kita terima ialah, kita harus menjadi sumber ilmu pengetahuan. Artinya, seorang guru itu harus bisa menjaga kualitas keilmuannya. Sehingga, kita “pantas” menyandang gelar guru.

Oleh karena itu, salah satu cara untuk menjaga keilmuan yang kita miliki ialah dengan cara rajin menulis. Karena, kegiatan menulis akan menjadikan seorang guru sebagai pembelajar sejati.

Begitupun saya, yang saat ini sedang diamanahi sebagai pengajar di perguruan tinggi, maka mau tak mau saya harus belajar dan belajar. Agar semangat belajar saya terus tumbuh, maka saya putuskan membuat Blog Pribadi, yaitu Blog Strategi & Keuangan, yang beralamat di strategikeuangan.com. Sebuah Blog, yang memfokuskan pembahasan pada rumpun ilmu Manajemen Strategi dan Ilmu Keuangan Modern.

Mengenal Kegiatan Menulis
Sebenarnya, kegiatan menulis itu merupakan kegiatan yang cukup simpel. Karena, siapa saja bisa melakukannya. Hanya saja, kesimpelan menulis, tak membuat menarik minat banyak orang untuk melakukannya. Sehingga, hanya orang-orang tertentu saja yang mau melakukannya. Orang-orang tertentu itulah, yang kemudian disebut sebagai penulis.

Maka dari itu, tak mengherankan jika profesi penulis itu tak banyak yang menekuninya. Entah menulis sebagai kegiatan utama, atau hanya sebagai kegiatan sampingan. Maka dari itu, jika kita tertarik untuk masuk menjadi bagian yang sedikit tersebut, yaitu sebagai penulis, kita harus mengenal kegiatan menulis. Karena tak kenal maka tak sayang.

Maka dari itu, mari kita berkenalan dengan kegiatan menulis. Menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan yang ada di dalam benak kita, menjadi sebuah narasi tulisan yang bisa dimengerti oleh orang lain.

Tentu, apa yang kita tulis, harus bisa dipertanggung jawabkan oleh diri kita pribadi. Agar bisa dipertanggung jawabkan, maka tidak boleh melanggar norma-norma yang berlaku. Mulai dari norma adat-istiadat, norma agama, dan norma negara.

Seorang Guru Harus Menulis
Nah, seperti yang telah dijelaskan, profesi menulis adalah sebuah profesi yang harus dipilih. Entah sebagai kegiatan utama, ataupun kegiatan sampingan. Hanya saja, bagi seorang guru, profesi menulis bukanlah sebagai profesi.

Akan tetapi, sebagai sebuah kegiatan yang harus dilakukan, dan bahkan wajib dilakukan. Karena, menulis akan membuat seorang guru menjadi pembelajar sejati. Yang akan selalu memperbaharui pengetahuannya setiap saat.

Maka dari itu, jika Anda seorang guru, maka Anda harus dan mesti menulis. Dan ada tiga alasan penting seorang guru harus menulis. Semoga dengan memahami alasan tersebut, kita sebagai seorang guru akan termotivasi untuk menulils.

Pertama: Media Belajar dan Mengembangkan Ilmu Pengetahuan

Ingat, guru adalah gudang ilmu pengetahuan. Sementara pengetahuan, akan berkembang setiap saat. Maka dari itu, jika seorang guru tak mau belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, berarti  dirinya tak berhak menyandang gelar guru.

Dan salah satu cara untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan, ialah dengan menekuni kegiatan menulis. Karena, kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengharuskan seseorang banyak belajar, banyak membaca, banyak memperhatikan, dan banyak melakukan penelitian—baik penelitian di laboratorium ataupun penelitian dalam kehidupan masyarakat.

Artinya, dengan kita menekuni kegiatan menulis, maka secara tidak langsung kita telah melakukan kegiatan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena, seorang penulis tidak akan mungkin bisa menulis suatu pokok pembahasan, tanpa dirinya terlebih dahulu mempelajarinya.

Kedua: Menyebarkan Ilmu Pengetahuan
Tugas seorang guru bukan hanya mengajar di kelas ataupun di sekolah, akan tetapi tugas seorang guru adalah menyebarkan ilmu pengetahuan. Salah satu menyebarkan ilmu pengetahuan, yaitu dengan cara menulis. Karena, dengan menulis, mulai menulis di media massa cetak ataupun online, menulis buku, menulis di jurnal ilmiah, dan lain sebagainya, kita sebagai guru akan bisa menyebarkan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Bayangkan saja, jika orang-orang terdahulu tidak mau menulis, mungkin ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini, tidak akan sampai pada diri kita. Dan berkat kegigihan pendahulu-pendahulu kita, kita pun diberi kesempatan untuk mencicipi nikmatnya ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai seorang guru untuk menulis. Karena dengan menulis, kita bisa menyebarkan ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan yang kita sebarkan, tidak terbatas hanya di kelas ataupun di sekolah, akan tetapi kita bisa sebarkan ilmu pengetahuan ke masyarakat secara luas.

Ketiga: Mendapatkan Honorarium
Nah, alasan terakhir seorang guru harus menulis ialah, kegiatan menulis itu mendapatkan honorarium lho…! Sehingga, dengan menekuni kegiatan menulis, berarti seorang guru juga berusaha mencari pemasukaan tambahan (Passive income).

Bayangkan saja, jika dalam sebulan kita bisa menghasilkan satu buku, menghasilkan 4 hingga 5 opini yang dimuat di koran nasional, menghasilkan resensi yang dimuat di koran 4 hingga 5 resensi, dan jenis tulisan lainnya, tentu kita sebagai guru akan memiliki pendapatan tambahan yang cukup dahsyat…!

Artinya, dengan kita menekuni kegiatan menulis, kita sebagai seorang guru akan membuka kran pendapatan baru. Sehingga, kita sebagai guru akan memiliki dua pendapatan. Yaitu, pendapatan dari  mengajar, dan pendapatan dari kegiatan menulis.

Dari pengalaman saya pribadi selama menekuni kegiatan menulis, Alhamdulillah bisa menghidupi saya di tanah rantau Jakarta ini. Bahkan, dari kegiatan menulis ini pun, bisa membiayai kuliah saya. Bahkan, untuk kuliah S-2 saya, sekitar 95% saya peroleh dari kegiatan menulis. Dahsyat kan….!

Maka dari itu, bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai guru, jika ingin menambah pendapatan (passive income), yuk kita mulai menulis. Sehingga dengan banyak menulis, akan beriringan dengan peningkatan pendapatan yang kita miliki.

Penutup
Nah, itulah tiga alasan mengapa seorang guru harus menulis. Guru yang dimaksud ialah, mulai dari Guru Sekolah Formal, Guru Mengaji, Guru Les, dan Guru di Perguruan Tinggi atau Dosen, atau bahkan guru-guru lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Dari alasan tersebut, semoga membuat kita yang berprofesi sebagai guru, tergerak hati untuk mulai belajar dan menekuni kegiatan menulis.

Atau bahkan, ada di antara kita sudah memulainya, maka yang harus dilakukan ialah semakin meningkatkan dan menekuni kegiatan menulis. Bayangkan saja, jika dalam tiga bulan kita bisa hasilkan satu buku. Berarti dalam setahun, kita bisa hasilkan 4 buku. Dan jika lima tahun, kita sudah bisa hasilkan 20 buku. Fantastis kan….?

Dan saya pun membayangkan, jika seandainya setiap guru yang ada di Indonesia mau menulis. Perkembangan ilmu pengetahuan pun akan bergelinding dengan sangat dahsyat. Maka dari itu, bagi kita yang menjadi seorang guru, yuk menulis….! ***

Tags:

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*