Belfast, Jawaban Atas Mimpi yang Aku Perjuangkan!

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Agung Prasetyo Wibowo
Mahasiswa Queens Belfast University/Perwakilan Agupena Inggris

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

–Pramoedya Ananta Toer

Aku Beranikan Diri untuk Menulis
Aku selalu kehilangan kepercayaan diri dalam hal menuangkan sebuah kisah cerita atau sekadar menuliskan apa yang pernah aku capai dan raih ke dalam sebuah tulisan. Aku selalu merendahkan diri dan berpikir bahwa manusia itu lemah, termasuk salah satunya menuliskan semua apa saja yang pernah aku alami. Pikiranku yang selalu menganggap bahwa masih banyak orang hebat di luar sana membuatku diam tanpa sebuah karya. Banyak dari orang-orang yang lebih hebat, lebih piawai, lebih cakap dalam bidang keilmuannya masing-masing. Hal itulah yang menjadi tembok penghalangku untuk belajar menuangkan sebuah kisah yang inspiratif. Akhirnya, aku beranikan diri untuk menulis, aku baca lagi, aku ubah dan baca lagi. Dengan sengaja aku hapus tulisan itu karena setelah aku baca hasilnya tidak sesuai dengan harapan.

Kali ini aku mencoba memaksakan diri untuk menulis. Sebenarnya menulis sudah menjadi hobiku sejak S1 dulu. Ah, aku memang terlalu naif pada diriku sendiri, hobi yang tidak aku optimalkan dengan baik. Padahal dengan menulis, semua kisah dan cerita yang sudah aku alami dan lalui dapat terdokumentasikan dengan rapi dan baik. Aku bersyukur, aku sudah menyadarinya dan ini adalah waktu yang tepat untuk berbagi dengan sebuah tulisan. Hingga saat ini, perangai ini tanpa ku sadari masih terbawa hingga duduk di bangku kuliah S2 di belahan bumi bagian utara. Sebuah tempat yang lumayan jauh dari tanah air Indonesia. Tempat yang sangat berbeda baik dari kondisi geografis, lingkungan, adat, dan kebudayaan Indonesia.

Sejujurnya, tempat ini bukan menjadi tujuan utamaku untuk belajar dan melanjutkan program pascasarjana dengan beasiswa LPDP. Waktu itu, hanya Australia yang ada dibenakku untuk melanjutkan S2 karena letaknya yang lebih dekat dengan Indonesia. Sehingga mempermudah aksesku untuk pulang ke tanah air dan menjenguk ibu yang aku tinggal seorang diri di kampung halaman. Ya, tulisan ini adalah salah satu bentuk rasa syukurku, karena aku sadar bahwa setiap perjuangan hidup kita layak untuk kita abadikan tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan tulisan.

Jawaban Atas Impian Itu
Lebih dari apa yang aku tulis dan harapkan, Allah SWT berkehendak lain. Allah SWT menginginkan aku belajar dari sesuatu yang memang tidak aku duga sama sekali. Semacam expect the unexpected”, itulah kata yang menjadi cambukku agar aku bisa menjadi lebih dewasa lagi dalam menyikapi berbagai hal. Tentunya agar bisa lebih hidup mandiri, lebih bekerja keras, dan bersyukur atas apa yang sudah berhasil aku raih. Dan, tempat yang akan aku habis kan satu setengah tahun masa studi ini adalah sebuah kota di antara dunia negara, Northern Ireland! Sungguh, ini di luar dugaan.

Sungguh tidak terasa, sudah genap lebih dari satu tahun aku menghabiskan waktu di kota Belfast, ibukota Irlandia Utara. Sayang, aku baru menyempatkan diri untuk menulis dan menuangkan apa yang aku pikirkan. Hidup di Northern Ireland seperti hidup di antara dua Negara. Hal ini dikarenakan secara pemerintahan Northern Ireland termasuk dalam wilayah United Kingdom (UK). Sebagaimana kita ketahui bahwa United Kingdom terbagi atas empat negara bagian yaitu England, Wales, Scotland, dan Northern Ireland. Namun, karena letaknya di pulau Irlandia bagian utara, budaya Irish sangat melekat di sini. Bahkan ada salah satu teman sekelasku yang memiliki dua passport, passport British dan passport Irish. Dual kenegaraan dan aksen bahasa Inggris mereka sangat berbeda, sehingga aku menyadari ada dua unsur kebudayaan, yakni British dan Irish.

Ada beberapa hal unik lainnya selain mendapati teman yang mempunyai dual kenegaraan. Untuk mata uangpun, ada beberapa toko yang menerima Euro dan Poundsterling. Setiap kalimat yang terucap dari orang-orang lokal selalu ada nada yang dinaikkan di akhir kalimat dan beberapa pengucapan yang ternyata memang berbeda dengan American dan British English. Sungguh, tempat ini tidak pernah terbayangkan sama sekali. Tempat yang mungkin tidak aku kira sebelumnya untuk melanjutkan studiku. Selain jauh dari Indonesia, Belfast ternyata menyimpan banyak hal-hal unik yang membuatku takjub.

Banyak di antara kita yang mungkin menginginkan bisa kuliah di UK. Untuk mewujudkan mimpi bisa kuliah di salah satu universitas unggulan di Belfast, UK ada beberapa hal yang mungkin harus kita persiapkan. Ada banyak hal mengejutkan yang akan aku paparkan dalam tulisan sederhana ini. Bermula dari penerbanganku yang dimulai dari kota tempatku berdomisili, Pekanbaru, Riau. Penerbangan ke Irlandia utara ini membawa cerita yang kalau aku pikir semacam drama. Drama Korea yang ebay? Tidak juga. Penuh tangis dan haru biru? Tidak juga, yang aku alami tidak seperti itu kok. Tapi aku tidak tahu ya, kalian yang membaca tulisan ini apakah akan menangis haru atau tertawa geli.

Well, tepat pukul 11.00, aku, ibu, serta teman-temanku sudah beranjak pergi ke bandara untuk check in pesawat. Penerbanganku dijadwalkan akan berangkat pada pukul 13.00 WIB ke Jakarta. Karena aku sering berpergian dengan pesawat, aku selalu merasa khawatir, selalu bepikir aneh-aneh, dan memikirkan konsekuensi terburuk apakah yang akan terjadi. Pagi itu, awalnya aku menuju ke ATM sebelum check in niatnya ambil uang, karena aku yakin pasti bakalan butuh uang lebih untuk membayar biaya kelebihan bagasi. Secara, bagasiku beratnya minta ampun dan melebihi batas. Selesai mengambil uang di ATM, tepatnya di ground floor bandara, aku melangkahkan kaki menuju layar kaca yang memberikan informasi seputar jadwal penerbangan, terlihatlah di sana penerbangan ke Jakarta pada pukul 13.00 WIB dengan pesawat X berstatus CANCEL! Deg!!!

Aku yakin ini pasti mataku yang salah melihat. Setelah aku lihat tiga kali, aku masih belum yakin, aku langsung bergegas menuju ke lantai satu untuk segera check in. Sementara mereka yang mengantarkanku sudah ramai menunggu di lobi bandara. Oke, aku mencoba untuk berpikir positif, ini mungkin bukan penerbanganku. Aku mencoba tenang. Meski penerbangan ini sama persis dengan maskapai yang akan aku tumpangi. Setelah tiba di konter check in, petugas konter langsung mempersilakan aku untuk meletakkan bagasi untuk ditimbang, dan benar bagasiku melebihi batas. Untung alhamdulillah, aku sudah mengambil uang terlebih dahulu ke ATM. Setelah bagasi aman, baru mereka memproses tiketku, dan aku mencoba untuk tenang, semoga bukan pesawatku yang cancel tadi.

Semacam Drama di Bandara
Ternyata Tuhan berkehendak lain, yang cancel itu memang pesawatku ke Jakarta. Panik langsung menyelimuti pikiran dan diriku, seakan tubuh ini tidak bisa dikontrol lagi. Panik bukan main. Masalahnya adalah penerbanganku menuju ke London tepat pada pukul 17.50 WIB. Kalau penerbanganku dipindah setelah pukul 13.00 WIB, otomatis aku akan ketinggalan pesawat ke London. Yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana kalau aku ketinggalan pesawat. Otomatis tiket pesawat akan hangus dan bagaimana caranya untuk membeli tiket yang baru. Penerbangan ke London sangat mahal, bias-bisa aku harus jual tanah untuk membeli tiket baru. Aku mencoba untuk tenang dan menceritakan penerbanganku ke London yang memang waktunya sangat mepet. Ya, tidak ada pilihan lain untukku selain berangkat pukul 13.00 WIB.

Akhirnya mereka menemukan solusi, yakni memindahkanku ke penerbangan pukul 15.00 WIB dan menghubungi pihak maskapai penerbangan ke London, agar bisa menunggu penumpang yang malang nasib nya ini. Setelah aku hitung-hitung rentang waktu jamnya, aku masih khawatir, khawatir akan ketinggalan pesawat karena waktunya terlalu mepet. Bergegas aku yakinkan ke petugas, agar mencarikan tiket pukul 13.00 WIB. Setelah beberapa menit, akhirnya namaku dipanggil, dan penerbanganku dipindah ke pukul 13.00 WIB dengan maskapai yang berbeda. Alhamdulillah aku ucapkan dengan penuh rasa syukur. Akhirnya tiket sudah di tangan, dan akupun kembali ke kerumunan mereka yang sudah mengantar dan menungguku sedari tadi.

Aku berpamitan dengan ibu dan teman-temanku, dan meninggalkan mereka untuk kembali suatu saat nanti. Satu hal yang membuatku sedih adalah meninggalkan ibu seorang diri di rumah. Bagaimana kalau beliau sakit dan siapa yang akan merawatnya, tiba-tiba bencana banjir datang lagi ke rumah kami, kalau ternyata uang kirimanku belum sampai, kalau beliau belum membeli persediaan makanan, kalau motor ternyata rusak. Pikiranku mendadak kacau, kekhawatiran yang berlebihan membuatku kalut dan sedih.

Tanpa aku sadari, linangan air mata membasahi pipi saat aku melihat ibu dari kejauhan. Beliau pasti akan sangat merindukanku dan menanti kedatanganku. “Ini hanya sementara,” tegasku dalam hati. Pengorbanan ini pasti akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik nantinya di masa depan, aku harus yakin itu. Sudahlah, kaki terus aku langkahkan, sampai akhirnya aku sudah duduk di dalam pesawat. Setelah dua jam perjalanan, ternyata pesawat yang aku tumpangi tidak bisa mendarat. Pengumuman dari pilot pesawat terdengar jelas kalau ternyata ada flight traffic di Bandara Soekarno-Hatta. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, penerbangan ke London pukul 17.50 WIB. Terlebih lagi beda terminal, harus ambil bagasi, pindah terminal dan check in lagi dan tentunya memakan banyak waktu.

Alhamdulillah, akhirnya pukul 15.30 WIB pesawat landing dengan mulusnya. Aku bergegas mengambil bagasi dan menuju pintu keluar terminal 1. Setibanya di depan, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aku mengambil inisiatif untuk memesan taksi ke terminal 2, tapi sopir taksi menolak. Mereka menyarankanku untuk naik shuttle bus. Awalnya aku berpikiran seperti itu, tapi aku selalu khawatir kalau kalau shuttle bus lama dan penuh sesak penumpang. Mau tidak mau, aku pun menunggu shuttle bus, mini bus tersebut akhirnya datang. Semua penumpang aku biarkan naik terlebih dahulu, aku sengaja memilih untuk menjadi penumpang yang naik terakhir karena bagasiku lumayan banyak. Satu persatu koper aku naikkan, juga tentengan-tentengan yang lumayan banyak dari teman-temanku. Ada donat, jaket, cinderamata, buah-buahan, snack, minuman, dan lain-lain.

Setelah koper kecil dan tentengan kantong plastik aman di bus, aku turun lagi untuk mengambil koper yang besar, bagasi terakhir. Aku kaget dan tidak menyangka, sopir bus tiba-tiba langsung menutup pintu bus dan pergi meninggalkan terminal 1. Oh, my God! aku ditinggal shuttle bus di terminal satu. Sementara koper kecil dan tentengan yang lumayan banyak itu sudah masuk ke dalam bus. Dengan terpaksa aku berlari dan mengejar bus tersebut. Setelah jarak 500 meter meninggalkan terminal, bus berhenti dan berjalan mundur untuk menjemputku kembali. Akhirnya salah satu penumpang bus turun, membantuku mengangkat koperku yang besar dan beratnya lebih dari 30 kilo.

Akhirnya aku bisa duduk di dalam bus. Dengan keringat bercucuran dan napas terengah-engah, aku menjadi pusat perhatian di dalam bus tersebut. Kurang lebih pukul 16.20 WIB aku tiba di terminal 2, salah satu temanku dari Papua yang akan bersama-sama berangkat ke Irlandia Utara sudah dari jam 13.00 WIB tadi duduk dan menungguku. Kami bertemu untuk pertama kalinya, hal pertama yang aku pikirkan tentang pace, sebutan ‘mas-mas’ ala papua adalah kesederhanaannya. Dia berpenampilan sederhana dan apa adanya. Siapa yang tau dibalik penampilannya yang sederhana itu, beliau merupakan salah satu perwakilan dari Papua yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi program master di Inggris. Beliau menyarankanku untuk langsung check in, karena konter tutup pada pukul 16.45 WIB. Alhamdulillah, ternyata masih ada waktu. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju konter maskapai untuk check in lagi dan ternyata aku adalah penumpang terakhir yang check in dan memasukkan bagasi. Sangat bersyukur!

Setelah semuanya selesai, aku mengambil napas dalam-dalam dan duduk istirahat sejenak. Waktu menunjukkan pukul 16.50, gate close pukul 17.25 WIB, masih ada 35 menit untuk menunggu teman-temanku yang ada di Jakarta. Mereka adalah teman satu program pertukaran pemuda yang aku ikuti tahun 2014. Kami sudah seperti keluarga, dan mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bertemu denganku lengkap dengan banner ucapan perpisahan dan kado kecil. Mereka beberapa kali menghubungiku dan mengabarkan kalau sekitar 10 menit lagi sampai. Aku pun menunggu di depan pintu masuk terminal 2. Sudah lewat dari 10 menit, dan ternyata mereka terjebak macet. Dan waktu 20 menit pun sudah berlalu, mereka tetap tak kunjung tiba.

Aku memutuskan untuk menunggu 5 menit lagi. Sudah 25 menit, mereka masih belum datang. Pace pun menyarankan agar kita segera masuk berhubung ini penerbangan internasional, pasti akan ada pemeriksaan paspor dan lain-lain. Dengan berat hati aku langkahkan kaki masuk ke dalam bandara menuju gate 4. Setelah tiba di pintu imigrasi, lagi- lagi aku mendapatkan masalah. “Ya Allah, tinggal sedikit lagi, hamba mohon mudahkanlah urusan hamba,”doaku dalam hati. Petugas imigrasi melihat pasporku yang ternyata diklaim rusak. Banjir beberapa tahun yang lalu membuat hampir semua dokumen pentingku basah. Bercak-bercak air di dalam paspor membuat beberapa tanda tangan yang ada di dalamnya hampir tidak terlihat. Mereka menahan pasporku, sementara pace sudah melewati pemeriksaan tersebut dan menungguku di dalam.

Aku masih tertahan, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan pasporku ini, aku hanya berdoa agar semuanya dipermudah. Beberapa pertanyaan mereka lontarkan terkait penerbanganku, dokumen-dokumen perkuliahanku, dokumen beasiswaku, dan lain-lain. Mereka juga sempat menceramahi ku agar aku seharusya mengganti pasporku dengan paspor yang baru. Aku hanya pasrah mengangguk dan mendengar nasihat mereka. Akhirnya mereka memberikan stempel dan mengizinkanku masuk, kami berlari menuju gate 4, dan di sana ternyata penumpang sudah lama duduk dan mengantri. Rata-rata penumpang adalah jamaah umroh yang akan berangkat ke Abu Dhabi. Rute perjalanan pesawat kami mulai dari Jakarta – Abu Dhabi – London – Belfast. Bukan lumayan lama lagi, tapi sehari semalam lamanya kami terbang dari Indonesia ke Irlandia Utara.

Selamat Datang di Belfast!

Setelah masuk dan duduk di dalam pesawat, masuk sebuah pesan di Whatsaap dari teman-temanku yang mengabari kalau mereka sudah berada di depan pintu terminal 2. Allah SWT tidak mengizinkan kami bertemu waktu itu, sedih? Iya. Andai saja tidak kena macet, andai saja penerbanganku delay, mungkin aku akan turun dari pesawat dan keluar dari terminal dan menemui mereka. Dengan terpaksa aku menjawab kalau aku sudah di dalam pesawat. Akhirnya kami hanya berbicara melalui telepon, mereka mengucapkan selamat jalan, dan mendoakan kelancaran perkuliahanku di Belfast nanti. Mereka juga berfoto sambil memegang banner dan hadiah kecil untukku. Aku terharu, begitu banyak orang-orang yang memberikan support keberangkatanku. Mulai dari keluarga kecil, teman-temanku di kampung, teman-teman satu program pertukaran pemuda di Jakarta yang juga datang dan melepas keberangkatanku. Semoga langkah mereka dihitung pahala disisi Allah, dan semoga tali persahabatan kami selalu terjaga hingga akhir hayat kelak. Amin.

Akhirnya pesawat mulai berangkat menuju Abu Dhabi dan meninggalkan Ibu kota. Saat itu, aku hanya duduk dan terdiam karena mengingat dan melihat perjuanganku berangkat dari kampung halamanku yang memang tidak mudah. Stress, panik, sedih, haru, senang, bahagia semua bercampur jadi satu rasa nano-nano. Stress dan panik tentunya dikarenakan beberapa hal seperti pesawat yang cancel, ditinggal shuttle bus, pemeriksaan paspor yang bermasalah, dan hal-hal yang tidak akan aku lupakan. Kalau saat ini aku ingat, aku hanya bisa tertawa sendiri. Terlebih lagi meninggalkan ibu seorang diri di kampung halaman memanglah tidak mudah, beliau juga tidak bekerja dan murni untuk memenuhi kebutuhan dan keuangan berasal dariku sepenuhnya.

Beliau pasti akan merasakan kesepian dan kesunyian di rumah. Alhamdulillah ada tetangga kami yang baik yang selalu datang ke rumah dan melihat keadaan ibuku sesekali. Kepedulian teman-temanku datang ke bandara membuatku terharu, mereka menghabiskan waktu dengan hanya berdiri di bandara, melihat dan mendoakan keberangkatanku. Benar, semua yang aku raih saat ini tidak lebih adalah berkat dari doa-doa orang yang berada di sekitarku, terutama ibu. Tanpa dukungan mereka, mungkin aku tidak bisa seperti ini. Semoga kisah ini bermanfaat, terutama bagi yang sering berpergian dengan pesawat. Dan syukur alhamdulillah, kini mimpiku untuk melanjutkan pendidikan S2 dapat aku raih berkat beasiswa LPDP. Akhirnya, aku resmi menjadi salah satu mahasiswa Queens Belfast University. Sebuah impian besar yang sebelumnya tidak aku sangka. Yap. Jangan takut bermimpi besar, yakinlah Allah SWT akan memeluk mimpi kita! ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*