Guru Tidak Menulis dan Berhenti Belajar, Sebaiknya Berhentilah Mengajar

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah
(Dosen Manajemen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Jakarta/FAI-UMJ, dan Anggota Agupena DKI Jaya, serta Blogger di Strategikeuangan.com)

Kegiatan menulis, sangat erat kaitannya dengan belajar. Karena, menulis sebenarnya ialah proses belajar secara otodidak sepanjang hayat. Di mana, belajarnya dengan cara meramu berbagai macam sumber pengetahuan—mulai dari teori suatu rumpun ilmu pengetahuan (buku, hasil survei, media, jurnal, dll), kenyataan dan fakta yang ada, hingga kenyataan yang harusnya ideal seperti apa.

Nah, proses belajar seperti hal tersebut, akan menjadikan diri pembelajar memiliki daya nalar yang cukup kritis. Karena, dirinya bukan saja memindahkan suatu teori. Akan tetapi, dirinya telah berhasil belajar mengawinkan suatu teori dengan teori lainnya, dan kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Serta bagaimana harus menterjemahkan teori yang ideal di kemudian hari, dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Jika daya nalar seperti hal tersebut terus diasah dan dikembangkan, maka yakinlah akan tercipta manusia-manusia cerdas dengan keilmuan yang bisa dipertanggung jawabkan. Baik secara moril, ataupun akademik. Sehingga, akan lahir inovasi-inovasi di negeri ini.

Kaitan Guru, Belajar, dan Menulis
Kaitan antara guru, belajar dan menulis, merupakan tiga hal yang tak dapat dipisah-pisahkan. Di mana, seorang guru (guru sekolah, guru ngaji, dosen, dll) merupakan corong atau sumber ilmu pengetahuan, yang akan men-transfer-kan dan men-sharing-kan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Tentunya, seorang guru harus berpengetahuan luas, baik secara keilmuan ataupun pengalaman.

Salah satu cara memperoleh pengetahuan yang luas, yaitu dengan banyak belajar. Mulai dari belajar dengan cara banyak membaca tulisan (buku, media massa, jurnal, dll), membaca kehidupan sosial sehari-hari, hingga membaca peristiwa alam raya yang terjadi.

Proses belajar tersebut, harus diulang-ulang hingga menjadi habbit (kebiasaan) pada diri sang guru. Sehingga, tanpa disadari seorang guru akan menjadi manusia yang berpengetahuan luas. Dan pusat bertanya siswa, tentang suatu pengetahuan, khususnya rumpun ilmu yang dikuasainya.

Bayangkan saja, jika proses ini dilakukan oleh seorang guru. Anggap saja, dari ketiga kegiatan membaca (baca buku, baca kehidupan sosial, baca alam raya), yaitu baca buku saja. Jika dalam sebulan seorang guru berhasil membaca 2 buku—khususnya buku yang berkualitas, maka dalam setahun akan habiskan 24 buku. Bagaimana jika seorang guru bisa habiskan 3 hingga 4 buku dalam sebulan, tentu makin memiliki pengetahuan yang luas sang guru.

Nah, setelah seorang guru banyak belajar dengan banyak membaca, maka langkah selanjutnya ialah menuangkan dari berbagai macam informasi yang didapat selama proses belajar ke dalam bentuk tulisan. Maksudnya ialah, seorang guru harus mau dan bahkan wajib menuangkan apa yang ada dibenaknya, menjadi sebuah tulisan baru. Tulisan tersebut, bisa berbentuk buku, esai, opini, jurnal ilmiah, dan lain sebagainya—yang intinya tulisan berbentuk gagasan segar seorang guru.

Tentu, dari adanya kegiatan menulis yang dilakukan oleh seorang guru, lambat laun akan bermunculan ilmu-ilmu baru. Karena, ilmu yang ada terus dikembangkan dan dipadukan dengan teori-teori satu dengan yang lainnya. Sehingga, lambat laun akan bermunculan ilmu-ilmu baru dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, proses seperti hal tersebut (baca: belajar dan menulis) masih jarang dilakukan oleh guru-guru yang ada di Indonesia. Kebanyakan guru-guru yang ada di Indonesia hanya melakukan kegiatan “Mengaji”, yaitu “Mengajar dan Menguji”. Sehingga, tak heranlah jika inovasi yang tercipta di Indonesia sangat minim.

Dari hasil wawancara saya dengan salah satu peneliti Muda di Poltracking Institute (baca: link bisa dilihat di, peneliti muda poltracking institute: anak muda indonesia harus mau mengejar ketertinggalan, inspirasibangsa.com), di mana hasil riset dari Poltracking Institute, bahwa setiap tahun di Indonesia hanya bisa menghasilkan 4000 judul buku. Sementara Malaysia bisa hasilkan 6000 judul buku. Padahal jumlah penduduk Indonesia 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan Malaysia.

Ada data lain yang cukup mengejutkan bagi kita, Riset yang pernah dilakukan oleh The World’s Most Literate Nations 2016, memaparkan data, bahwa peringkat literasi masyarakat dan minat baca Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara. Sedangkan di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di bawah Thailand (peringkat ke 59) dan Malaysia (peringkat ke 53).

Data tersebut, mengindikasikan bahwa pekerjaan rumah bagi guru masih cukup banyak, khususnya untuk mencerdaskan anak-anak di negeri ini. Lebih khusus lagi, tugas secara moril yang harus diemban dan dilaksanakan oleh seorang guru. Maka, untuk melakukan pembenahan hal tersebut, harus dimulai dari seorang guru itu sendiri.

Artinya, seorang guru harus mau belajar dan menulis. Belajar, bisa dengan belajar formal—melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ataupun belajar non-formal—mengikuti workshop, seminar, pelatihan, dan lain sebagainya. Juga, tak lupa seorang guru sambil menulis setiap harinya. Jika hal ini dilakukan, Insya-Allah dunia literasi di Indonesia akan berkembang, yang tentunya akan menciptakan multiplier-effect terhadap seluruh dimensi kehidupan di Indonesia.

Tak Mau Belajar dan Menulis, Sebaiknya Berhenti Mengajar
Bagi kita yang saat ini sedang berstatus sebagai seorang guru (guru sekolah, guru ngaji, dosen, dll). Kemudian, kita tak mau melakukan kegiatan “Belajar” dan “Menulis”, tentu profesi menjadi guru harus dipertimbangkan ulang. Karena, guru yang tak mau belajar dan menulis, hanya akan menjadi benalu bagi bangsa ini.

Jika dirinya guru PNS, maka hanya akan memberatkan APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara), karena negara harus menggajinya setiap bulan. Pun jika dirinya guru non-PNS, maka akan memberatkan yayasan untuk menggajinya. Dan tentunya, yang sangat dirugikan adalah murid-murid yang diajarinya. Rugi, karena telah mendapatkan guru yang tak berkualitas.

Maka dari itu, bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai guru, dan tak mau “Belajar” dan “Menulis”, sebaiknya berhenti saja mengajar. Karena, profesi guru hanya dikhususkan bagi orang-orang yang mau terus belajar dalam hidupnya. Baik belajar formal, ataupun non-formal. Dan kemudian, mengembangkan ilmu pengetahuan, melalui kegiatan menulis.

Yuk Belajar Menulis
Bagi kita yang sudah menjadi guru, dan kita tetap memutuskan diri untuk jadi guru, namun kita sadari bahwa kita belum memaksimalkan kegiatan “Belajar” dan “Menulis” dengan baik, maka konsekwensinya kita harus mau memulai kegiatan bejalar dan menulis.

Memang akan teramat sulit untuk memulainya. Apalagi, bagi seorang guru yang telah berkeluarga dan memiliki banyak tanggung jawab. Namun, hal tersebut jangan dijadikan alasan untuk kita tak mau belajar dan menulis. Akan tetapi, jadikanlah hal tersebut sebagai penyemangat untuk mengembangkan diri.

Misalnya, untuk kegiatan belajar, kita bisa maksimalkan kala istirahat mengajar di sekolah (baca: bagi guru sekolah) ataupun di kampus (baca: bagi dosen), sebelum berangkat mengajar, pulang dari mengajar, atau di sela-sela waktu senggang kala berada di rumah. Kalaupun kita memiliki pendapatan lebih, kita bisa belajar secara formal, yaitu dengan cara melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, umpamanya melanjutkan sekolah S-2 ataupun S-3.

Sedangkan untuk kegiatan menulis sendiri, memang teramat sulit untuk memulainya. Namun, tak ada kata sulit di dunia ini, bagi kita yang mau memulai dan mempelajarinya. Dari pengalaman saya belajar menulis, cara belajar nulis itu sebenarnya gampang kok. Kita datangi saja kawan-kawan guru yang bisa menulis, kemudian minta ajari menulis. Atau, kita bisa belajar melalui internet, di blog-blog yang disediakan oleh penulis. Karena, kebanyakan penulis top itu punya blog pribadi.

Atau juga, bisa dengan cara bergabung dengan kelompok kepenulisan yang ada di Indonesia. Banyak kok kelompok kepenulisan yang ada. Dan salah satunya, yaitu Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia). Kita bisa belajar dari anggota-anggotanya, bagaimana cara memulai menulis, serta menulis yang baik dan benar, juga agar bisa konsisten menulis.

Dan jangan lupa, sesekali kita ikuti seminar tentang kepenulisan. Karena, seminar kepenulisan itu penting untuk kita ikuti. Tujuannya ialah, untuk menjaring semangat dan menggali inspirasi dari penulis-penulis yang sudah top. Sehingga, semangat memulai kegiatan menulis bisa berapi-api, yang hingga akhirnya kita pun akan bisa melahirkan tulisan.

Yakinlah, ketika kita mau memulainya, perlahan-lahan kegiatan “Belajar” dan “Menulis”, akan menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan. Bahkan, kita akan merasa rugi jika dalam sehari, kita meninggalkan kegiatan belajar dan menulis. Maka dari itu, bagi kita yang saat ini berprofesi sebagai guru, yuk kita mulai melakukan kegiatan “Belajar” dan “Menulis”.

Penutup
Sebelum menutup tulisan ini, saya mohon maaf jika dalam tulisan ini sangat sarkas dan menyinggung perasaan banyak orang. Tujuan saya hanya satu, yaitu menyemangati diri sendiri yang telah memilih profesi guru, untuk terus belajar dan melakukan aktivitas menulis. Dan tak ada tendensius sedikit pun, yang ditujukan kepada siapapun dalam tulisan ini.

Bagi guru lainnya yang sempat membaca tulisan ini, dan merasa tersemangati juga, saya ucapkan terimakasih. Dan semoga, kita akan menjadi guru-guru yang terus mau belajar setiap harinya. Kemudian,  mau menuliskan hasil belajar dalam bentuk tulisan yang bermanfaat.

Saya ucapkan, selamat belajar dan menulis….!  ***

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*