Home » Literasi » Menulis Artikel Jurnal » 2044 views

Menulis Artikel Jurnal

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur
(Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena)

Pada Selasa 21 Februari 2017 saya mengikuti kegiatan writing journey yang diadakan oleh Miriam Budiarjo Research Center (MBRC) FISIP UI yang diadakan oleh Dosen Antropologi FISIP UI Dr. Suraya Afiff bertempat di Lantai MBRC. Dalam paparannya, Ibu Soraya menjelaskan beberapa tips dalam menulis artikel jurnal. Hal pertama yang penting dilakukan adalah memulai menulis dan tidak menunda-nunda. Yang kedua sisihkan waktu untuk menulis.

Mengatasi Kebutuan Menulis
Kemudian tiap penulis pasti mengalami “kebuntuan menulis” atau writer’s block. Mengutip Chuck Sambuchino dalam artikelnya “7 Ways to Overcome Writer’s Block” (5 Mei 2013), ia memberikan beberapa tips, sebagai berikut.

1. Lakukan sesuatu yang membuat diri kita nyaman dan bisa menulis. Step away from whatever you’re writing and do anything that’s creative. Jika terjebak dalam writer’s block, “do something creative yang membuat anda nyaman.”

2. Do freewriting. Menulis apa saja selama 5 menit tanpa berhenti. Hal itu akan men-trigger brain kita. Jangan berhenti, jangan diedit. Jangan dilihat ini jelek atau bagus. Setelah baca lagi kita akan dapat hal-hal yang menarik dari situ. Orang yang rajin menulis akan mudah menulis karena otaknya dipakai untuk menulis. Dari tulisan tersebut akan muncul, “oh, saya harus memulai menulis dari sini!”

3. Move your body. Olahraga, jalan-jalan.

4. Eliminate distractions. Saat ini yang paling banyak mengganggu kita adalah whatsapp. Atur segala sesuatunya. Hilangkan hal yang membuat kita distructed untuk suatu waktu yang kita butuhkan untuk menulis.

5. Write early in the worning. Setelah subuh pagi-pagi usahakan menulis.

6. Write while you sleep. Malam sebelum tidur adalah waktu yang baik untuk menulis. Terkadang kita akan mendapatkan ide di pagi hari.

7. If nothing else works: the Glass-of-Water Technique. Ambil segelas air dan bilang “besok saya ingin menghasilkan sebuah tulisan”. Kemudian minum setengah air. Tidak harus pakai air sebenarnya, bisa pakai apa saja yang intinya menstimulasi diri sendiri untuk bisa menulis.

Find your ways untuk melihat mana waktu yang membuat kita nyaman untuk menulis!

Tiap orang pasti berbeda kecepatannya dalam menulis. Tiap kita haruslah mencari cara kita dalam menulis. Tidak usah berharap menjadi Hemingway, atau menjadi “the next Goenawan Mohamad.”

Dari semua tips menulis, hal yang paling penting adalah: mental. Semangat, persistence, tidak mudah menyerah.
Deadline sangat bagus untuk mengeluarkan ide-ide kita. Itulah kenapa conference banyak sekali manfaatnya karena kita dipaksa untuk menulis.

Artikel yang Berpotensi diterbitkan
Sebuah artikel dapat diterbitkan karena beberapa hal:
1. Artikel tersebut membawa ide baru untuk sesuatu yang sudah diketahui orang. Tulisan tersebut membawa sesuatu yang baru dalam perdebatan yang berlangsung lama. Harus ada sesuatu yang baru. Karya disertasi misalnya, dari lima bab dapat diambil satu saja untuk menjadi jurnal internasional. Pertama, tentukan tulisan itu terkait debat tentang apa dan kedua, artikel itu menyumbang tentang apa dalam ilmu pengetahuan.

2. Membangun a new way (metode, desain riset, teori) yang menjelaskan pendekatan terhadap data yang lama. Bisa jadi ada data riset kita yang lama kemudian di masa depan kita gunakan tapi dengan pendekatan yang baru.

3. Menggabungkan antara dua data lama dengan pendekatan yang baru.

Intinya, apa yang baru dari hal-hal yang telah diketahui umum? “Tell me something I don’t know so I can understand better what I do know.”

Contoh, ada perdebatan dalam REDD di dunia soal failed dan success. Suraya mengatakan bahwa tidak penting sukses atau tidak sukses tapi apa efeknya bagi civil society. REDD di Indonesia memberikan space tertentu dalam isu land rights, adat rights untuk memberikan masukan kepada pemerintah. Di Afrika mungkin REDD membuat orang Afrika kehilangan akses pada pekerjaan tapi berbeda di Indonesia. Jadi, ketika orang berdebat tentang gagal atau sukses, kita membahas tentang efek bagi masyarakat.

“If your idea is new but not related to the old (usually previous research), your article will not be published.”Ini yang paling susah. Maka membutuhkan banyak bacaan jurnal yang menjelaskan tentang debat-debat dalam bidang tersebut. Misalnya, soal pembangunan: ada berapa orang yang bicara tentang pembangunan? Apa debatnya?

Buku James Ferguson “The Anti-Political Machine” yang meneliti tentang pembangunan di Lesotho. Pembangunan di sana membuka banyak akses walaupun berbagai proyek gagal total. Maka, kita perlu melihat berbagai data yang ada kemudian membuat pandangan baru. Selalulah cari sesuatu yang baru yang berkontribusi pada sesuatu yang telah ada.

Jurnal adalah sebuah dialog, maka tempatkanlah tulisan kita dalam dialog dengan tulisan orang lain.

Langkah kerja di kelas ini:
1. Pilih jurnal yang menjadi target publikasi dan pelajari. Tentang apa jurnal tersebut, apakah menerima kualitatif atau kuantitatif? Format jurnalnya bagaimana? Apakah ia menerbitkan topik yang akan kita tulis? Tingkat kesulitannya bagaimana?

2. Membangun argumen—apa hal baru di naskah kita dalam konteks yang selama ini sudah diketahui orang secara luas?

3. Menulis abstrak. Harus menarik.

4. Memilih struktur tulisan dan menyampaikan bukti-bukti (evidence) untuk mendukung setiap argument/pernyataan. Kita bisa mencontoh cara menulis orang lain. Lihat struktur tulisan yang diterima di sebuah jurnal. Semua statement harus ada buktinya.

5. Memperhatikan pembuka dan penutup artikel.

6. Revisi, revisi, dan revisi draft artikel (bahasa, alur naskah, pernyataan argument, kecukupan bukti, referensi, dan aspek teknis lainnya).

7. Mengirimkan naskah hanya ke satu jurnal dan tunggu jawabannya.

8. Revisi naskah dan re-submitted.

Demikian sedikit catatan dari kegiatan hari pertama tadi. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*