10 Tips Ikut Konferensi Internasional *)

Rubrik Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur
(Awardee S-3 Antropologi FISIP UI/PK-41 Catureka Mandala)

1. Konferensi Internasional terbagi dua jika dilihat dari tempat: di dalam negeri dan luar negeri. Tiap kita dapat memanfaatkan kesempatan konferensi tersebut, apakah sebagai peserta atau pembicara. Jika bisa menjadi pembicara, itu bagus, tapi jika tidak (atau belum) bisa, menjadi peserta juga penting karena selain dapat pengalaman kita juga dapat pengetahuan baru

2. Biasanya, tiap Konferensi Internasional ada “call for papers” yang mengundang para dosen, peneliti, mahasiswa, dan peminat konferensi tersebut untuk berbagi hasil riset, pengetahuan baru, dst di kalangan terbatas peserta konferensi. Ada banyak artikel ilmiah yang lahir setelah mendapatkan berbagai masukan dari peserta konferensi. Jadi, jika kita baca sebuah artikel jurnal yang bernas, yakinlah artikel itu pasti telah melewati berbagai pengujian, kritikan, dan masukan dari orang lain (via konferensi, korespondensi, dst). Singkatnya, tidak ada yang langsung jadi, pasti melewati proses.

3. Cara paling mudah mendapatkan informasi Konferensi Internasional adalah dengan membuka laman universitas. Tiap universitas pasti mengadakan konferensi (baik yang tertulis “internasional” atau tidak). Jika sudah dapat, segeralah pelajari informasi tersebut. Jika cocok dengan minat dan kajian kita, maka bersegeralah membuat abstrak dan kirim ke panitia. Abstrak yang paling adalah yang singkat tapi padat.

4. Konferensi Internasional yang diadakan di dalam negeri tidak kalah penting dibanding yang di luar negeri. Soal tempat konferensi–kendati cukup penting–tapi bukan segala-galanya. Tapi, jika bisa menjadi pembicara/peserta konferensi di luar negeri pastinya ada sisi lebih yang dapat kita raih seperti mendapatkan pengalaman langsung bergaul dengan orang luar. Namun, kesuksesan sebuah konferensi tidak semata-mata ditentukan oleh tempatnya, tapi pada: apa yang dapat kita ambil dari konferensi tersebut baik untuk perbaikan makalah, ide, metodologi, atau tambahan data atau referensi yang relevan untuk pengembangan tulisan kita.

5. Menjadi pembicara di Konferensi Internasional membutuhkan strategi tertentu yang efektif dan efisien. Jika kita mendapatkan sesi panel (sekitar 15 menit per pembicara), maka baiknya jelaskan 3 hal penting saja dari makalah yang hendak dipaparkan. Pada 5 menit pertama, isi dengan pendahuluan (mengucapkan terimakasih kepada panitia dan menjelaskan sedikit tentang makalah ini); 5 menit kedua isi dengan konten makalah (sampaikan data atau temuan terbaru dan analisis, serta pengalaman personal juga jika ada) dan 5 menit terakhir isi dengan simpulan (sampaikan apa saja yang menarik dari makalah ini, kemudian usulan/masukan untuk kajian ke depannya)

6. Ketika berbicara di Konferensi Internasional, pastikan kita menggunakan pakaian yang nyaman karena pakaian juga menentukan bagaimana emosi kita dan bagaimana orang lain melihat kita. Umumnya, pakai kemeja atau jas (bisa pakai dasi atau tidak). Berpakaian yang sopan dan nyaman pasti sangat membantu untuk kesuksesan presentasi

7. Yakin bahwa tiap orang yang hadir di Konferensi Internasional pasti ada yang mereka tahu dan kita tidak tahu serta ada yang kita tahu tapi mereka tidak tahu. Untuk itu, berusahalah untuk percaya diri karena memiliki sesuatu yang belum tentu peserta konferensi tahu. Jabarkan “sesuatu” itu secara santai, dan tepat waktu. Percaya diri sangat membantu penilaian orang lain kepada kita. Untuk percaya diri, tentu kita harus tahu dahulu: apa hal menarik yang hendak disampaikan?

8. Persiapan untuk berbicara dapat dilakukan jauh-jauh hari. Bisa berlatih berbicara di depan cermin, atau di pinggir danau kampus, di perpustakaan, atau minta teman dengarkan apa yang hendak kita paparkan dan minta masukan darinya. Jika makalah tersebut dikirim ke dosen atau teman tertentu yang punya minat yang sama juga cukup bagus untuk mendapatkan masukan. Mereka yang hendak berbicara di depan umum perlu mengingat kaidah ini, “naik tanpa persiapan, turun tanpa penghormatan.” Atau, kita bisa belajar dari semangat tentara yang berkata, “lebih baik mandi keringat saat latihan, daripada mandi darah saat pertempuran!”

9. Usahakan makalah yang ditulis adalah topik yang menjadi minat kita. Kadang kita punya banyak sekali minat tapi bagusnya minat itu dispesifikasi pada beberapa hal saja agar dapat menulis lebih dalam. Tidak harus menjadi pembicara konferensi yang bisa seluruh tema sebenarnya. Cukup pada beberapa tema tertentu saja yang dieksplorasi, itu sudah bagus sekali.

10. Jadilah pribadi yang berbeda. Carilah apa tema-tema spesifik yang kita minati dan berpeluang untuk berkontribusi lebih dalam bidang tersebut. Perbanyak membaca tema itu, kemudian berlatih menulis. Faktanya, tidak ada orang yang langsung bisa menulis dan menjadi pembicara konferensi. Semua berproses, dan kenikmatan sesungguhnya bagi seorang pembelajar bukan semata pada hasil, akan tetapi pada seberapa besar perjuangan yang dijalani untuk menggapai mimpi-mimpi terbesar dalam hidup.

*) Tulisan dibuat untuk sharing Awardee LPDP “Peluang Konferensi dan Publikasi Internasional 2017” di Fakultas Hukum UI, 24 Februari 2017

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*