Mendidik dengan Hati Mengoptimalkan Prestasi

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh M. Nasir Pariusamahu
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Manajemen Pendidikan Universitas Pattimura Ambon

Menjadi pendidik adalah profesi yang sangat mulia. Tak ada profesi yang paling menguntungkan baik dilihat dari sisi dunia maupun akhirat, selain profesi pendidik. Menjadi pendidik adalah bentuk pengabdian yang tiada batasnya. Sehingga hanya manusia-manusia tertentu saja yang dipilih oleh langit untuk terjun dan bermain peran sebagai pendidik.

Adanya regulasi yang menghendaki para pendidik untuk bisa berprofesionalitas, agak membuat rasa mendidik hilang dalam sanubari. Jika dulu, para pendidik lebih menekankan pada aspek penilaian sikap dan sungguh-sungguh dalam membelajari para siswanya, kini nasib bercerita lain.

Tadi pagi, di salah satu sudut sekolah di Kota Ambon, seorang pedagang gorengan yang  sedang menjaja daganganya kepada para siswa. Kemudian, dia lantas mengomentari, kenapa para pendidik di sekolah tersebut, sudah digaji, toh masih melakukan tebar dagangan di dalam sekolah. Kan, hal ini akan mengganggu jalannya proses pembelajaran. Pendidik nantinya tidak fokus,”katanya.

Dalam hatiku, ada benarnya apa yang dikatakan sang pedagang tersebut. Sesuai UU tugas pendidik salah satunya mengajar. Jika pendidik sudah disibukkan dengan bukan pekerjaan pokoknya, maka siswa akan tertinggal mata pelajaran, akibatnya dengan sengaja menjadikan kualitas pendidikan itu rendah.

Namun, jika kita telaah lebih lanjut. Kenapa para pendidik seperti itu melakukan pekerjaan ganda; mengajar dan menjual. Padahal, tugas pokoknya adalah mengajar dan mendidik? Apakah soal kesejahteraan? Apakah soal kehobiaan? Nah, kedua makna tersebut harus bisa dibedakan.

Lalu bagaimana mendidik dengan hati? Pekerjaan mendidik tidaklah gampang. Banyak orang yang bersertifikat pendidik pun tak bisa menguasai metode ini. Akhirnya, dengan asal-asalan melaksanakan tugas mulia itu bukan karena terpanggil, tetapi karena ada faktor lain. Keterpanggilan menjadi pendidik harus lahir dari sikap kerelaan dan lurus hati; ikhlas beramal dan berbakti. Tak boleh ada niatan lain. Niat mempengaruhi perbuatan. Olehnya itu, kokohkan niat sekokoh karang di lautan.

Menghadapi karakter siswa yang begitu beragam, memerlukan taktik yang mapan guna melakukannya. Salah satunya, dengan sentuhan hati. Bahwa penguasaan tempo pembelajaran sepenuhnya ada pada pendidik dalam mengelolanya. Keberhasilan pendidikan siswa sangat bergantung pada pendidik. Maksudnya, pendidik sebagai inspirator dalam memotivasi siswa bukan semata-mata menjadikan siswa sebagai subjek. Tut Wuri Handayani.

Hati adalah sesuatu yang abstrak. Pendekatannya bisa bermacam-macam tergantung keadaan siswa. Menarik bila kita membaca bukunya Abbas As-Siisiy yang berjudul Bagaimana Menyentuh Hati. Dalam buku terbitan Era Intermedia Bahasa ini, disebut beberapa hal yang harus diterapkan agar proses menyentuh hati itu berhasil. Diantaranya, cara bertutur kata dan penampilan. Seorang pendidik akan menarik perhatian siswa yang mendengar dan melihatnya bilamana ada kekuatan magnetis lisan dan performance, karena pada dasarnya jiwa manusia itu cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Senada dengan ungkapan,“ keberhasilan sebuah misi akan bergantung pada si pembawa misi tersebut.”

Sekali lagi, pendidik adalah sumber inspirasi. Walaupun di zaman ini, pendidik kehilangan mahkota kehormatannya. Bukan malah mendapat pujian malahan mendapat cacian. Pendidik tetaplah pendidik, yang mematrikan jiwa dan waktunya demi suksesnya anak di masa akan datang. Betapa sulitnya medan pendidikan, dengan berbagai fenomena kebijakan, tetap saja pendidik harus solid dalam menjaga nafas edukasi. Long life of education.

Selain itu,  pendidik juga harus melihat pribadi siswa itu secara utuh. Beberapa kasus yang terjadi adalah ngantuk-ngantuk di dalam kelas, sebenarnya mereka merupakan anak-anak yang membantu orang tuanya di rumah ketika sepulang sekolah. Ada juga kasus lain, siswa suka saling membantah di sekolah dengan teman-temannya atau bahkan gurunya, karena di dia terlahirkan dari keluarga broken home. Sehingga, sekolah baginya bukan untuk mencari ilmu, melainkan untuk tempat mencari kasih sayang yang terindukan.

Olehnya itu, pendidik bisa mengenal apa yang tak ternampakkan dari diri para siswanya. Dengan berbagai cara. Meski kesabaran kadang diuji, keikhlasan dirongrong. Hanya satu kata,” anak-anakku adalah mutiara yang tertanam di dasar lautan”. Dengan pandangan kasih sayang dalam pembelajaran semacam itu, niscaya tempaan dan nasihat sang pendidik akan menjadi cambukan para siswanya untuk bangun menatap masa depan.

Jika pendidik telah melakukan kaidah pembelajaran dengan integral, yakni menghimpun peran sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, melatih, penilai, sekaligus pengevaluasi terhadap perkembangan siswa, dipastikan akan berkorelasi dengan kualitas siswa.

Sebab, bilamana siswa itu sudah mengidolakan sang pendidik serta menyukai mata pelajarannya, siswa akan dengan sendiri memotivasi dirinya untuk menuntaskan pelajarannya dengan baik. Nah, disitulah letak keberhasilan pendidik. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*