Mengelola dan Memperlakukan Sang Guru

Rubrik Pendidikan Oleh

Dr. Supangat MA
Ketua AGUPENA DKI Jakarta

Sampai detik ini, keikhlasan, kemurnian, ketulusan dan kejernihan hati seorang guru masih dapat diandalkan, disisi lain gaji kecil dan tanggung jawab besar menjadi warna kesehariannya, maka wajar kalau guru dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, dibalik keihklasan itu tersimpan beban yang sangat berat dipikul guru, karena seorang guru ditutut untuk emnsukseskan anak didik mereka dan ini artinya mereka harus selesai dengan dirinya. Kita pasti sering mendengar beberapa kata ini guru kencing berdiri anak kencing berlari, guru adalah orang yang digugu dan ditiru, guru memang mungkin bukan orang hebat tapi semua orang hebat karena jasa sang guru dan seterusnya.

Dengan demikian tugas pimpinan sekolah dalam mengelola dan memperlakukan guru pasti butuh keahlian tertentu yang tidak mudah. Sebagai contoh yang tentu tidak mengecilkan peran guru, penulis mengibaratkan seperti sebuah kendaraan motor, jika kita akan membeli motor maka pastikan dulu fungsinya untuk apa. Artinya kalau penggunaan motor hanya untuk sekitar rumah kita, maka cukup dengan motor yang harganya belasan juta bahkan bisa beli yang second, namun jika penggunaan motor bertujuan untuk aktifitas antar kota, maka belilah motor yang harganya diatas dua atau tiga puluh juta agar digunakannya nyaman, artinya jika harapan kita tinggi kepada guru maka buatlah kualifikasi yang tinggi dan juga gaji yang baik. Dengan  mempertimbangkan hal ini maka ada 5K/lima tahapan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para guru yaitu;  Kompetensi, Kode Etik, Kinerja, Kompensasi, Keberpihakan kebijakan pada status guru.

Pertama, Kompetensi Guru harus dirumuskan dengan baik oleh sekolah sesuai dengan visi dan misi lembaga, misalnya lembaga yang visinya pada keislaman dan bilingual, maka gurunya harus memiliki hafalan Quran yang baik dan tentu karakternya sangat islami serta menguasai bahasa Arab atau Inggris dengan baik pula.

Kedua, Kode Etik Guru perlu dijelaskan sebelum masuk kelas dan bertemu anak didik, misalnya tidak boleh menghukum dengan fisik atas segala bentuk tindakan salah yang diperbuat anak didik.

Ketiga, Kinerja Guru tentu harus dipantau baik harian, mingguan, bualan, semesteran dan tahunan. Harian misalanya absensi masuk sekolah dan masuk  kelas saat mengajar, contoh mingguan dalam bentuk RPP atau Lesson Plan mereka, sementara bulanan dilihat dari bagaimana kinerja guru sebulan sebelum penggajian diterima guru, dan semesteran serta tahanuan adalah evaluasi yang rutin dilakukan pimpinan seperti guru mengevaluasi anak didik.

Keempat, Kompensasi Guru yang berupa gaji disusuaikan dengan kompetensi dan kinerja yang dirumuskan lembaga, visi dan misi lembaga sebagai penentu gaji guru-guru kita, karena semakin tinggi kompetensi yang diharapkan mislanya keislaman dan bilingual seperti contoh di atas, dan juga pola kinerja yang sangat baik, maka semakin tinggi pula kompensasinya.

Kelima, Keberpihakan pada Guru perlu dilakukan di sekolah karena merekalah sebenarnya jantung sekolah kita, misalnya jumlah pelatihan untuk para guru tentu lebih banyak dibanding dengan karyawan non guru, bahkan termasuk dengan pimpinan sekalipun

Dengan mempertimbangkan 5 K atau lima tahapan di atas maka akan memunculkan guru yang baik karena sekolah pun memberikan pelayanan terbaik untuk guru mereka. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top